Baladena.id, SEMARANG – Sebagai iktikad untuk memberikah hadiah milad ke-41 Dr. Mohammad Nasih, Monash Institute menggelar acara launching dan bedah Buku Abana; Membangun Jalan Sunyi Membangun Qur’anic Habit (Potret Gagasan dan Aksi Mohammad Nasih) secara online, Rabu (01/04). Acara yang digelar di Markas Utama Monash Institute, Daar Qolaam I, mendapatkan antusias yang tinggi dari berbagai daerah di Indonesia.
Buku yang ditulis oleh para keluarga, sahabat, dan murid Mohammad Nasih ini dibedah langsung oleh Prof. Abdul Djamil, Rektor Mohammad Nasih saat masih menempuh pendidikan di IAIN (Sekarang UIN) Walisongo. Dalam kesempatannya, Prof. Djamil mencoba mengulas spirit dakwah Nabi Muhammad saw lalu menghubungkan dengan aksi Mohammad Nasih yang tercatat dalam buku tersebut.
“Bepegang teguh kepada al-Qur’an adalah kunci kesuksesan perjuangan Mohammad saw. Saya melihat, Nasih menyadari hal tersebut. Nasih mencoba mempraktekannnya dalam kehidupan sehari-hari dan tak lupa mengajak orang lain untuk berjuang atas ridla Allah swt,” ungkap dosen Fakultas Ushuluddin UIN Walisongo ini.
Dalam acara ini, turut hadir juga Dr. (cand) Mukharom, M.H. (Dosen Fakultas Hukum Universitas Semarang), Muhammad Abu Nadlir, M.Si. (Direktur Monash Institute), dan Mokhammad Abdul Aziz, M.Sos. (Editor Buku Abana) sebagai narasumber serta Katib Syuriah PCINU Tiongkok Suud Tasdiq, L.LM., yang bertindak sebagai moderator. Selama bedah buku berlangsung secara online, salah satu peserta ada yang bertanya kepada Prof. Djamil terkait aksi Mohamamd Nasih.
“Bagaimana pandangan Prof. Djamil melihat pandangan Abah Nasih seperti itu di tengah situasi politik saat ini? Ibaratnya kan, di Jakarta itu kita bias dekat dengan elit politik. Poteni untuk bisa mendapatkan kekuasaan malah lebih besar. Bagaimana, Prof? Pertanyaan ini dari Kodrat Alamsyah, Mahasiswa Ilmu Falak UIN Walisongo,” baca moderator bedah buku.
Setelah pertanyaan tersebut dibacakan, Prof Djamil langsung menanggapi pertanyaan yang diberikan. Menurut Prof. Djamil, pilihan Nasih untuk memilih jalan sunyi, kembali ke Semarang membangun pesantren dari nol dan membuat sekolah alam di kampungya, disebabkan oleh keresahan yang ada dalam dirinya terhadap kondisi masyrakat saat ini.
“Baik. Terima kasih. Saya mengira kenapa Nasih memilih jalan ini karena ada keresahan yang tinggi kepada masyarakat, terutama di kampungnya. Keresahan inilah yang memotivasi Nasih untuk membuat tempat belajar dengan sistem pendidikan yang unik tetapi tetap berpedoman dengan al-Qur’an,” tutur penguji skripsi Mohammad Nasih itu.







