Nyeleneh. Itulah kata yang sanggup menggambarkan salah satu petani Millenial dari Kecamatan Sumber satu ini. Saat mayoritas masyarakat Rembang memilih untuk menanam tembakau, Habiburrahman (30) justru lebih memilih untuk menanam tomat. Pilihan ini diambil bukan tanpa sebab. Bibur, sapaan akrab Habiburrahman menjelaskan kepada Tim Baladena.id bahwa baginya tanaman tomat lebih “seksi” jika dibanding dengan tembakau (30/7).
“Iya, Mas. Awalnya saya mendapat banyak cibiran dari masyarakat. Dianggap nyeleneh lah, dianggap aneh lah, dan dianggap melawan arus oleh warga sekitar. Padahal, jika kita membaca harga pasar dan cuaca, tanaman tomat tidak kalah menggiurkan jika dibanding dengan tembakau”, ucap Bibur.
Kepada Tim Baladena.id, Bibur menjelaskan bahwa tanaman tomat memiliki beberapa keunggulan dibanding dengan tanaman tembakau. Selain modal yang relatif lebih kecil, tanaman tomat juga cenderung lebih mudah perawatannya. Harga obat-obatan pestisida yang dibutuhkan juga gampang diperoleh di pasar dan harganya relatif terjangkau. Berbeda dengan tanaman tembakau yang perlu perawatan ekstra dan penggunaan obat pertanian yang mahal dan tersedia di toko pertanian tertentu.
“Sebenarnya saya juga belum ada pengalaman, Mas. Ini juga saya sering lihat tutorial di Youtube dan Google. Kadang saya juga bertanya kepada petani yang lebih senior. Ya itung-itung mencari pengalaman. Siapa tahu nanti bisa jadi juragan tomat, pungkas Bibur kepada Tim Baladena.id
Dalam penjelasannya, Bibur juga mengatakan bahwa saat ini harga tomat di pasaran masih tergolong cukup tinggi. Bahkan pada Bulan Juni kemarin, harga tomat menyentuh angka 30.000 per kilogram. Terkini, harga tomat di pasaran turun di angka 12.000 perkilogram.

