Site icon Baladena.ID

Aku dan Ingar Bingar Romansa

Baladena.ID/Istimewa

Tercenung dalam renungan sendu

Bersimpang siur, majemuk, penuh dalam pikirku

Kalut, yang sejatinya adalah hampa yang menyamar

Tentang manusia, euforia cinta, dan rasa sabar

 

Terkadang, cinta manusia itu patut diperdebatkan

Hadirnya hangat menyantunkan, atau malah klise merenyuhkan

Baik, ciamik, mustahil menjelma pelik?

Atau buram, suram, mencekam, dan berisik?

 

Aku, manusia yang tak ubahnya sepetak bilik usang

Kelabu, tiada warna “cinta” yang menghiasi

Sepasang jendela ringkih, diterobos sorai romansa orang

Yang kan berlanjut pada dengki yang mengisi hati

 

Sangat mulus jalan cinta mereka, rasanya

Tiada tabir, tersingkap penuh sebagaimana mestinya

Manakala cerita mereka membekas dalam benakku

Lihatlah! Bergilir derai pilu itu, semua tertuju padaku

 

Memang, gemerlapnya cinta terasa tatkala remaja

Menggila, bermula ketika indra mata saling bersua

Renjana bak mendekap erat hingga relung hati

Secawan, senampan, semisi, bahkan terus sehati

 

Aku, manusia yang tak menahu akan hakikat dari cinta

Membuat asumsi pribadi, tentang kedamaian kata “cinta”

Cukup menilik sedikit, empat mata itu amat ciamik

Dan mereka saling berpegang tangan, benar-benar resik

 

Sudahlah, kadung berapa tahun kubersitegap dengan petuah Ayah

“Ada anak Ayah yang pacaran? Ayah usir dari rumah!”

Lantas jalan apa yang perlu jiwa dan ragaku merasa

Untuk menyelaraskan arti dari cinta nan semenjana?

 

Kendatipun sekadar meraba tangannya

Kendatipun sebatas menilik parasnya

Kendatipun sebatas mengangankan rupa

Semuanya dinilai haram, dosa, berujung neraka?

 

Sakit, saat mengetahui secercah puing realita

Pedih, kala mengecap hukum “cinta” dalam agama

Kalutku membungkam diri dalam asrama

Waktu “Pelangi Cinta” tersibak lebar di depan mata

 

Konon, cinta sesama manusia itu adalah buta

Sebelum ijab dilangitkan, semua rupa menjadi zina

Hanya cinta kepada-Nya, yang paling mulia

Lantas, apa daya yang absah bagi khalayak remaja?

 

Kala untaian frasa menjawab, aku mendengarkan

Mustahil Islam melarang selagi itu baik dan aman

Remaja, semua yang didekapnya hanya keingin tahuan

Tiada naluri berkonsisten, selalu diacuhkan oleh rasa bosan

 

Alangkah absahnya, remaja menghimpun ilmu dahulu

Perihal cita, cinta, dan komitmen pada-Nya

Hei, sadarlah! Cintamu kini, hanya keindahan semu

Alangkah absahnya, meluruskan langkah menuju ridla-Nya

 

Hei sadarlah! Berapa banyak cinta yang tersia-siakan?

Perihal makan, minum, cara berpakaian, dan berpikiran

Dipermasalahkan, menjadi alasan untuk memutuskan hubungan

Berujung pedih, mengakhiri kehidupan yang mesti berjalan

 

Bersyukurlah, teman!

Engkau berada dalam naungan yang siaga dan mapan

Memberimu proteksi, afeksi, serta krusialnya keimanan

Sehingga jauh sekali masa depanmu dari keterpurukan

 

Mengapa enggan mengkaji diri?

Mengapa tak usah membenah hati?

Melejit tinggikan nama, doa, dan upaya

Kelak, “dia” kan bersyukur tuk menjadi yang engkau punya

 

Oleh: Aletheia Raushan Fikra Ukma, Wakil Ketua OSIS Terpilih SMAN 1 Sulang Rembang, Pengurus Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Planet Nufo

Exit mobile version