Akhir dari Keramatnya NU: dari Konflik Ulama Sufi JATMAN hingga Sulitnya Islah PBNU

Selama ini banyak narasi mengemuka yang menyatakan demikian: NU versus PKI, PKI kalah dan bubar, NU versus FPI, FPI kalah dan bubar, NU versus HTI, HTI kalah dan bubar. Tadinya, sejak lama saya termasuk yang mengamini narasi tersebut. NU masih diyakini sebagai ormas keagamaan yang keramat, didirikan dengan kegigihan dan keikhlasan luar biasa para pendirinya, terutama Hadratusy Syaikh KH. Hasyim Asy’ari. Apalagi NU dipedomani oleh mayoritas umat Muslim di Indonesia, yang juga telah banyak didirikan secara legal-formal di berbagai Negara di luar negeri. Ternyata NU kalah dan (secara hakikat) bubar bukan oleh pihak lain, melainkan oleh ulah dirinya sendiri.

Pelan tapi pasti, keyakinan bahwa NU merupakan ormas keagamaan yang keramat semakin memudar dan terus terang hal itu saya rasakan sendiri. Apalagi secara legal-formal saya telah aktif menjadi pengurus di salah satu Badan Otonom (Banom) NU tingkat Kabupaten sejak masuk bangku kuliah. Sudah berjalan tidak kurang dari 17 tahun hingga sekarang. Dan dari 17 tahun itu, saya melihat sendiri, bahwa ormas keagamaan ini sudah banyak melenceng dari khittahnya.

Terus terang, dari perjalanan lumayan panjang menyelam ormas keagamaan NU ini, hati dan idealisme saya sejak dulu bergejolak, menandakan bawa gejolak kegelisahan itu betul-betul menganggu pikiran saya. Bagaimana mungkin ormas keagamaan keramat sekelas NU, pada faktanya begitu sarat akan kepentingan dan konflik. Berikut persaingan tidak sehat dan penyakit-penyakit hati lainnya. Tadinya saya masih berusaha memaklumi, bahwa potensi konflik dan penyakit hati ini pasti terjadi pada organisasi-organisasi lain di luar NU, tetapi lagi-lagi NU yang saya kenal selalu didengungkan sebagai ormas keagamaan yang cinta tanah air, anti politik praktis dan anti korupsi. Selalu mengatasnamakan kitab kuning, hadis dan Al-Qur’an.

Oleh karena itu, dalam masa aktif di NU itu saya tidak pernah mau mempraktikkan doktrin-doktrin dan budaya organisasi dalam tubuh NU yang banyak disalahgunakan. Doktrin sami’na wa atha’na, satu komando, dan berbagai anggah-ungguh lain serupanya. Saya tidak bisa dan tidak biasa berorganisasi dengan pola demikian. Tidak nyaman dan tidak cocok dengan idealisme diri dan khittah NU itu sendiri. Daria situlah manakala saya aktif di NU, saya banyak berbeda pandangan dengan umumnya para kader NU yang lain. Saya tetap kritis terhadap NU meskipun saya aktif di NU. Jangankan sesama kader, para Kiai NU yang melenceng dari khittah NU tidak luput dari kritik saya terhadapnya.

Saya merasa betul-betul “ngerti” dinamika NU yakni saat PBNU dipimpin oleh Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj. Puncaknya manakala beliau mengkampanyekan proyek Islam Nusantara, dari situlah saya mulai melayangkan kritik melalui banyak catatan-catatan harian soal ketidakjelasan Islam Nusantara. Dan kini berlanjut PBNU di masa KH. Yahya Cholil Staquf, sejak pidato pengukuhannya saya sangat intens mengawasi gerak-gerik Gus Yahya memimpin PBNU, yang oleh Gus Nadir (Prof. Dr. Nadirsyah Hosen) “roda organisasi NU telah mati sejak lama.” Ada banyak kritik saya melalui banyak catatan yang terbukti sesuai kenyataan, bukan sekadar asumsi. Semesta alam mendukung dan langsung yang bergerak.

Bagaimana mungkin organsiasi ulama sufi terbesar JATMAN yang sejak lama dipimpin Habib Luthfi bin Yahya didera konflik kepentingan dan persaingan yang tidak sehat. Padahal mestinya organisasi ulama sufi JATMAN ini menjadi organisasi yang paling rapi, disiplin dan penuh dengan teladan, yang ada justru sebaliknya, para ulama dan pengikutnya masing-masing terlibat gontok-gontokan dan konflik, riuh semrawut di media sosial sampai-sampai kemudian mereka pecah kongsi, menjadi dua kubu ulama sufi JATMAN dan pecahannya JATMA ASWAJA. Tentu saja konflik ini bukan sekadar perbedaan pendapat, tidak bisa dianggap sebagai dinamika positif dalam organisasi, melainkan murni konflik kepentingan.

Puncaknya adalah konflik internal PBNU yang melibatkan langsung dua pucuk pimpinan tertinggi yakni Rais Aam versus Ketua Umum. Tidak disangka, konflik ini betul-betul nyata dan bukan rahasia umum lagi. Saya ingin menyatakan bahwa secara hakikat, era PBNU sekarang merupakan era berakhirnya keramatnya PBNU. Komitmen khidmat dan pengabdian yang selama ini didengungkan seluruhnya merupakan narasi-narasi bombastis dan bulshit belaka. Secara fisik dan kasat mata mungkin PBNU tidak akan bubar, tetapi sekali lagi secara hakikat NU kini (oleh pengurusnya) sudah bertentangan dengan khittah.

Sungguh, konflik internal JATMAN dan sekarang konflik PBNU menjadi realitas paling pahit sekaligus buruk sepanjang zaman perjalanan PBNU. Realitas ini sekaligus mengkonfirmasi praktik NU di level wilayah dan cabang tidak jauh berbeda dan kurang lebih sama. Oleh karena itu, seruan islah dari banyak pihak dan Forum Sesepuh NU belum lama ini akan sangat sulit –untuk enggan mengatakan mustahil–dilakukan, selain karena telah menjadi bom waktu akumulasi konflik, juga akibat NU digerakkan secara tidak amanah. Kalau secara terpaksa terjadi islah sekalipun, solusi apapun tidak akan bisa menyelesaikan secara efektif. Lalu apakah NU ini masih bisa diselamatkan?

Wallahu a’lam

Mamang M Haerudin (Aa)

Pesantren Tahfidz Al-Qur’an Al-Insaaniyyah.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *