Ada Apa dengan Nishfu Sya’ban?

Beberapa hari lagi umat Islam akan masuk pada paruh kedua bulan Sya’ban. Ada satu hal yang masyhur di kalangan umat Islam berkenaan dengan hal ini, yakni tentang malam Nishfu Sya’ban. Nishfu artinya separuh Sya’ban dimaksudkan bulan Sya’ban. Sya’ban sendiri, dalam Lisaan al-Arab dimaknai sebagai berpisah, atau berpencar. Karena pada bulan tersebut masyarakat Arab saat itu disibukkan untuk mencari air ke sana ke mari sehingga mereka harus berpencar dan berpisah satu sama lain.

Lalu, malam Nishfu Sya’ban dimaksudkan sebagai malam pertengahan bulan Sya’ban atau tepatnya malam tanggal 15 Sya’ban. Sudah banyak yang menjelaskan tentang malam Nishfu Sya’ban ini. Ada yang menjelaskan keutamaan dan  amalan-amalan di dalamnya di satu sisi, namun ada pula yang mengkritisinya pada sisi yang lainnya. Hikmah Jumat kali ini, akan berusaha sebisanya untuk mengetengahkan kedua-duanya.

Berkenaan dengan bulan Sya’ban ini, Rasulullah pernah menjelaskan bahwa di bulan ini catatan amal manusia selama setahun akan di bawa naik, dilaporkan kepada Allah. Karena itu Rasulullah ingin ketika catatan amalnya dilaporkan, beliau dalam keadaan berpuasa. Berikut ini salah satu hadis tentang hal itu.

عن أسامة بن زيد قال قلت يا رسول الله لم أرك تصوم شهر من الشهور ما تصوم من شعبان قال ذلك شهر يغفل الناس عنه بين الرجب ورمضان وهو شهر ترفع فيه الأعمال إلي رب العالمين فأحب أن يرفع عملى وأنا صائم

Bacaan Lainnya

Dari Usamah bin Zaid ra. daia berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah saw. Wahai Rasulullah saya tidak melihat puasa penjenengan pada suatu bulan seperti puasa penjenengan di bulan Sya’ban. Beliau bersabda itu (bulan Sya’ban) adalah bulan yang banyak dilalaikan oleh para manusia yakni antara Rajab dan Ramadhan. Pada bulan tersebut amal manusia dibawa naik kepada Allah dan saya senang ketika amal saya di bawa naik tersebut, saya dalam keadaan berpuasa.

Karena itulah, dalam riwayat yang lain dijelaskan bahwa di bulan Sya’ban ini Rasulullah banyak melakukan puasa sunnah bahkan nyaris sebulan lamanya, hanya sedikit hari saja beliau tidak berpuasa di bulan ini. Berkenaan dengan ini perlu dicatat bahwa, bagi yang sebelum-sebelumnya tidak berpuasa, maka pada paroh kedua bulan Sya’ban ini tidak diperkenankan ujug-ujug, sekonyong-konyong melakukan puasa Sya’ban, kecuali untuk puasa karena alasan tertentu. Misalnya puasa nadzar, qadha, atau Senin-Kamis.

Hikmah disunnahkannya puasa Sya’ban ini menurut para ulama adalah untuk mepersiapkan umat Islam, baik secara lahiriah maupun batiniah dalam menyongsong puasa Ramadhan. Dengan begitu diharapkan seorang muslim benar-benar siap menjalani puasa Ramdhan sehingga out come Ramadhan benar-benar tercapai. Berkenaan dengan ini Abu Bakr al-Balkhy -sebagaimana dikutip dalam Husn al-Bayaan fi Fadhail Syahr Sya’baan- menganalogikan hubungan Rajab, Sya’ban dan Ramadhan itu sebagaimana berikut ini.

شهر رجب شهر الزرع وشهر شعبان شهر سقي الزرع وشهر رمضان شهر حصاد الزرع

Bulan Rajab itu ibarat bulan untuk menanam, Sya’ban itu bulan untuk menyirami sedangkan Ramadhan itu bulan untuk memetik buah tanaman.

Berdasar riwayat di atas, di bulan Sya’ban ini catatan amal manusia dinaikkan dalam siklus tahunan. Selain siklus tahunan pelaporan amal manusia juga ada yang harian dan mingguan. Berikut ini riwayat tentang pelaporan amal manusia tersebut.

عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه  وسلم قال يتعاقبون فيكم ملائكة بالليل وملئكة بالنهار ويجتمعون في صلاة الفجر وصلاة العصر ثم يعرج الذين باتوا فيكم فيسألهم وهو أعلم بهم كيف تركتم عبادى فثقولون تركناهم وهم يصلون وأتيناهم وهم يصلون.

Pada sekeliling kalian ada para malaikat yang silih berganti siang dan malam hari. Mereka berkumpul pada waktu shalat Ssubuh dan shalat Ashar. Lalu yang bermalam bersama kalian naik,  mandanganu Allah menanyai mereka meskipun Dia sudah lebih tahu tentang keadaan mereka. Bagaimana kalian meninggalkan hamba-hamba-Ku? Mereka menjawab: Kami tinggalkan mereka dalam keadaan shalat dan kami datangi mereka, mereka dalam keadaan shalat.

عن أبي هريرة قال سمعت رسول الله صلى الله عليه  وسلم قال إن أعمال بنى أدم تعرض كل خميس ليلة الجمعة فلا يقبل عمل قاطع رحم.

Dari Abu Hurairah berkata: Saya mendengar Rasulullah bersabda, sesungguhnya amal manusia itu dilaporkan setiap hari Kamis malam Jumat, maka amalnya orang-orang yang memutus sillaturrahmi tidak diterima.

Sekarang ke keutamaan Nishfu Sya’ban. Dijelaskan dalam sebuah riwayat bahwa pada malam Nishfu Sya’ban Allah akan turun ke langit dunia dan akan memberikan pengampunan kepada seluruh makhluknya, kecuali orang musyrik dan pembenci-pendendam. Berikut ini penjelasan Rasulullan sebagaimana dikutip dalam buku Husn al-Bayaan fii Fadhaail Syahr Sya’ban.

عن أبي موسى الأشعري عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال إن الله ليطلع في ليلة النصف من شعبان فيغفر لجميع خلقه إلا لمشرك أو مشاحن

Dari Abu Musa al-Asy’ari dari Rasulullah saw. berliau bersabda: Sesungguhnya Allah akan turun (ke langit dunia) pada malam Nisfu Sya’ban, maka Allah akan mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang musyrik dan pembenci-pendengki.

Sampai di sini para ulama sepakat bahwa malam Nishfu Sya’ban adalah salah satu malam yang penuh keutamaan. Oleh karena itu diseyogyakan kepada kaum muslimin untuk memperbanyak istighfar, bertaqarrub kepada Allah dengan dzikir dan amalan sunnah lainnya seperti shalat-shalat Sunnah. Para salaf ash-Shalih pun menghidupkan malam Nishfu Sya’ban ini dengan berbagai amalan-amalan sunnah, sebagaimana dijelaskan dalam buku Haal al-Mu’mininn fi Sya’baan berikut ini.

استحب كثير من السلف أن تقام هذه الليلة بعضهم استحب أن يقومها جماعة في المسجد وبعضهم قال لا يقومونها جماعة وإنما يقومها كل احد بمفرده يرجو بذلك رحمة الله جل وعلا

Banyak di antara para ulama salaf yang senang menghidupkan malam Nishfu Sya’ban ini. Sebagian dari mereka ada yang melakukannya di masjid secara berjamaah. Sementara itu sebagian lain mengatakan: Sebaiknya tidak perlu melaksanakan amala-amalan sunnah tersebut secara berjamaah, namun secara individual saja untuk mengharap rahmat Allah Azza wa Jalla.

Nah, yang diperselisihkan oleh para ulama adalah menjalankan amaliyah khusus atau tertentu pada malam Nishfu Sya’ban. Yakni seakan-akan ada amalan khusus yang diajarkan oleh Kanjeng Nabi pada malam tersebut. Misalnya, melaksanakan Shalat Ragha’ib pada malam tersebut, melaksanakan shalat 100 rakaat pada malam tersebut dengan bacaan khusus surat al-Ikhlash sepuluh kali setiap setelah al-Fatihah misalnya. Amalan-amalan khusus demikian itulah yang diperselisihkan kebolehannya oleh para ulama. Hal itu, karena memang riwayat yang menjelaskannya amalan-amalan khusus tersebut diperdebatkan keabsahannya oleh para ulama.

Berkenaan dengan ini, dalam buku Ma Wadhuha wa Istabaana fii Fadhaail Syahr Sya’baan Karya Abul Khaththab Umar bin Hasan al-Kalbiy (wafat 633 H.) banyak diuraikan hal-hal yang diperselisihkan tersebut karena dhaif atau bahkan maudhu’nya suatu riwayat.  Misalnya beliau menjelaskan tentang Shalat Raghaib, yang dimulai kurang lebih tahun 448 H di masjid al-Aqsha di malam Nishfu Sya’ban. Shalat ini diinisiasi oleh Ibn Abi Hamra’ yang bacaannya sangat bagus. Dari situlah kemudian pada tahun-tahun berikutnya berlanjut menyebar ke berbagai kalangan umat Islam.

Demikain Hikmah Jum’at kali ini, semoga bermanfaat dan semoga kita senantiasa mendapatkan rahmat dan maghfirah dari Allah di bulan Sya’ban ini sehingga menjadi sangu atau bekal untuk menyambut bulan Ramadhan. Aamiin. Billaahi fii sabiilil haq.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *