Dunia Islam saat ini menghadapi tantangan zaman yang kian kompleks. Di tengah derasnya arus modernitas dan disrupsi teknologi, pemikiran keislaman dituntut untuk tidak sekadar menjadi penjaga menara gading masa lalu, melainkan sebagai kompas penunjuk jalan masa depan.
Guna membedah urgensi ini, Baladena.id berkesempatan mewawancarai Dr. Mohammad Nasih, M.Si., Pengasuh Pesantren & Sekolah Alam Planet NUFO Rembang yang juga dosen Ilmu Politik Pascasarjana FISIP UMJ. Terinspirasi oleh gagasan besar teolog dan filsuf legendaris Sir Muhammad Iqbal, Dr. Nasih memaparkan mengapa umat Islam hari ini harus melakukan penataan ulang isi kepala dan cara pandang keagamaan mereka. Berikut petikan wawancaranya:
Bagian I: Akar Krisis dan Urgensi Rekonstruksi
Baladena.id: Kiai Nasih, belakangan Anda sangat gencar menyuarakan pentingnya rekonstruksi pemikiran keislaman. Mengapa isu ini menjadi begitu krusial, bahkan seolah-olah menjadi panggilan darurat bagi umat Islam hari ini?
Dr. Mohammad Nasih: Kita harus berani jujur dan objektif melihat realitas empiris umat hari ini. Jika kita membaca peta sosiologis dan geopolitik global, umat Islam saat ini berada dalam posisi yang marjinal dalam produksi ilmu pengetahuan, teknologi, dan peradaban materi. Mengapa ini terjadi? Masalah utamanya bukan pada ketiadaan sumber daya alam atau kuantitas demografi, melainkan pada aspek epistemologis, yaitu cara kita berpikir dan memahami agama kita sendiri.
Banyak sekali aspek dari pemikiran keislaman kita yang mengalami apa yang disebut sebagai sklerosis intelektual atau pengerasan isi kepala. Kita sering kali terjebak dalam romantisme masa lalu, mengagung-agungkan kejayaan Dinasti Abbasiyah, tetapi gagal merumuskan kejayaan untuk masa kini dan masa depan. Kita memperlakukan produk pemikiran para ulama abad pertengahan—baik di bidang fikih, teologi, maupun tafsir—seolah-olah sebagai teks suci yang mutlak, absolut, dan berlaku universal melintasi ruang dan waktu.
Padahal, secara metodologis kita tahu bahwa ijtihad para ulama terdahulu adalah respons kontekstual yang sangat terikat oleh ruang, waktu, dan tantangan sosial-politik pada zamannya. Ketika dunia sudah berubah secara total melalui revolusi industri dan disrupsi digital, namun kita masih bersikeras menghadapi masalah-masalah abad ke-21 dengan menggunakan kacamata dan pola pikir abad ke-8, maka hasilnya adalah kegagapan kolektif. Umat Islam menjadi alien di dunianya sendiri.
Rekonstruksi ini bukan berarti kita meruntuhkan atau mengubah fondasi iman yang bersifat qath’i (pasti) yang bersumber dari al-Qur’an dan al-Sunnah. Sama sekali bukan. Rekonstruksi artinya membangun kembali arsitektur pemikiran di atas fondasi abadi tersebut agar relevan, kontekstual, dinamis, dan solutif terhadap realitas kontemporer.
Baladena.id: Anda secara eksplisit menyebut nama Sir Muhammad Iqbal sebagai inspirasi utama dari gagasan rekonstruksi ini. Bagaimana pemikiran Iqbal memengaruhi lanskap berpikir Anda, terutama dalam mengelola lembaga pendidikan seperti Planet NUFO?
Dr. Mohammad Nasih: Muhammad Iqbal melalui mahakaryanya yang sangat monumental, The Reconstruction of Religious Thought in Islam, telah meletakkan batu pertama dan peta jalan bagi kebangkitan intelektual muslim modern. Gagasan pokok Iqbal yang paling menggetarkan saya adalah penegasannya bahwa Islam pada hakikatnya adalah sebuah sistem yang bergerak dinamis. Iqbal menyebut adanya the principle of movement in the structure of Islam, dan motor penggerak utama dari dinamisme tersebut tidak lain adalah ijtihad.
Iqbal sangat gelisah menyaksikan umat Islam pada zamannya—dan sayangnya masih terjadi hingga hari ini—yang kehilangan vitalitas spiritual dan kebebasan berpikirnya akibat terperosok ke dalam kubangan taklid buta (blind imitation) serta fatalisme (paham pasrah pada nasib). Ketika pintu ijtihad dianggap tertutup, gerak sejarah umat Islam langsung berhenti dan membeku.
Spirit Iqbal inilah yang berusaha kami hidupkan secara riil di Pesantren & Sekolah Alam Planet NUFO Rembang. Kami tidak ingin melahirkan santri yang hanya pandai menghafal teks secara verbalistik tanpa memahami ruh dan elan vital di balik teks tersebut. Santri harus dididik untuk memiliki dynamic ego atau khudi (kedirian yang aktif) seperti kata Iqbal, agar mereka mampu membaca tanda-tanda zaman, menaklukkan realitas, dan mengelola alam semesta ini sebagai khalifah yang sesungguhnya.
Bagian II: Ranah dan Anatomi Pemikiran yang Harus Dirombak
Baladena.id: Jika kita sepakat bahwa rekonstruksi itu wajib, lalu ranah pemikiran mana saja yang paling mendesak untuk dirombak secara radikal dan mendasar?
Dr. Mohammad Nasih: Paling tidak ada tiga wilayah krusial yang harus kita sasar secara serentak. Pertama, adalah transformasi total pada epistemologi dan metodologi pendidikan Islam kita. Lembaga pendidikan Islam tradisional maupun modern saat ini masih sangat dominan pada aspek kognitif-tekstualis yang bersifat formalistik. Kita menghabiskan energi yang sangat besar untuk melatih santri berdebat tentang urusan fikih ibadah mahdhah yang bersifat furu’iyah (cabang-cabang hukum), seperti perbedaan jumlah rakaat tarawih atau posisi tangan saat sedekap.
Tetapi, pada saat yang sama, lembaga pendidikan kita gagap dan bisu ketika dihadapkan pada realitas ekonomi digital, arsitektur web3, transisi energi, hingga persoalan kedaulatan pangan nasional. Ini adalah ketimpangan kurikulum yang fatal. Kita harus merekonstruksi epistemologi pendidikan Islam agar sains, teknologi, dan ilmu sosial kontemporer diintegrasikan secara utuh sebagai bagian tak terpisahkan dari dzikir dan pikir islami.
Kedua, kita harus melakukan rekonstruksi total terhadap etos kerja dan konsep keduniawian dalam teologi umat. Selama berabad-abad, ada miskonsepsi akut yang mengakar kuat di benak sebagian besar umat Islam mengenai konsep zuhud. Banyak yang mengartikan zuhud sebagai sikap anti-dunia, memilih hidup miskin, mengabaikan kesejahteraan materi, dan pasrah secara pasif pada keadaan. Pola pikir fatalistik ini menghancurkan daya saing umat. Islam yang kuat, Islam yang mampu tegak berdiri secara bermartabat, membutuhkan kemandirian ekonomi yang kokoh. Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.
Oleh karena itu, di Planet NUFO, konsep ini kami balik dan kami rekonstruksi secara radikal. Santri harus dididik menjadi kaya, menguasai sains, mampu bertani dengan teknologi modern seperti smart farming, dan piawai mengelola bisnis global. Kekayaan materi di tangan orang saleh adalah instrumen dakwah yang paling efektif untuk menciptakan keadilan sosial. Zuhud yang benar bukan berarti tanganmu kosong dari harta, melainkan hatimu tidak dibuat sesak dan diperbudak oleh harta tersebut.
Ketiga, kita harus mengubah metodologi dalam memperlakukan teks-teks keagamaan. Kita harus berani bergeser dari pendekatan harfiah-tekstual yang kaku menuju pendekatan maknawi-filosofis yang substantif. Kita tidak boleh berhenti pada apa yang tertulis (what is written), melainkan harus menggali secara mendalam apa illat (alasan logis) dan tujuan esensial di balik penetapan sebuah syariat, yang dalam tradisi ushul fikih dikenal sebagai maqashid al-syariah. Tanpa transformasi metodologis ini, hukum Islam hanya akan menjadi fosil masa lalu yang tidak mampu menjawab dinamika zaman yang bergerak secepat kilat.
Bagian III: Empat Modal Utama Rekonstruksi
Baladena.id: Gagasan rekonstruksi ini tentu akan menghadapi tantangan berat, terutama dari kelompok mapan yang nyaman dengan status quo. Sebagai prasyarat, modal dan kompetensi apa saja yang wajib dimiliki oleh generasi baru umat Islam agar mampu mengeksekusi rekonstruksi ini secara sahih dan bertanggung jawab?
Dr. Mohammad Nasih: Ini adalah pertanyaan kunci. Rekonstruksi itu bukan tindakan asal tabrak atau dekonstruksi tanpa arah yang berujung pada nihilisme. Kita tidak bisa merekonstruksi sebuah bangunan jika kita sendiri tidak mengerti struktur bangunan tersebut, atau jika kantong pengetahuan kita kosong melongpong. Seseorang atau sebuah generasi baru bisa dan boleh melakukan rekonstruksi pemikiran keislaman apabila mereka memiliki empat modal utama yang kokoh dan tidak bisa ditawar-tawar.
1. Penguasaan Khazanah Islam Klasik secara Otentik (Theological Framework)
Kita tidak boleh menjadi generasi yang tercerabut dari akar sejarah dan tradisi intelektual Islam. Sebelum melangkah jauh melakukan rekonstruksi, seorang pemikir muslim harus khatam dan menguasai secara mendalam metodologi ushul fikih, ulumul qur’an, ulumul hadis, ilmu kalam, serta sejarah peradaban Islam klasik. Mengapa ini mutlak? Agar rekonstruksi yang dilakukan tetap berada dalam koridor epistemologi Islam yang sah, bukan sekadar membebek pada tren pemikiran Barat. Tanpa modal tradisi klasik yang kuat, upaya rekonstruksi akan kebablasan menjadi liberalisasi liar yang kehilangan jangkar keimanan dan kehilangan arah kompas spiritualnya. Kita membongkar untuk menata kembali, bukan untuk menghancurkan iman.
2. Keterbukaan terhadap Sains Modern (Scientific Literacy)
Jika kita pelajari secara saksama, rahasia kehebatan Sir Muhammad Iqbal adalah kemampuannya yang luar biasa dalam mendialogkan dan memadukan filsafat Islam klasik dengan perkembangan sains dan filsafat Barat modern pada masanya. Generasi baru Islam tidak boleh alergi terhadap Barat atau modernitas dalam konteks sains. Kita harus menguasai metodologi penelitian modern, sains empiris, matematika, fisika, biologi, hingga kecerdasan buatan. Bagi kami di Planet NUFO, alam semesta ini adalah ayat kauniyah, yang bisa menjadi verifikator kebenaran ayat qawliyah. Sains modern adalah alat bagi kita untuk menyingkap rahasia-rahasia pernyataan Allah di dalam al-Qur’an, juga hadits Nabi Muhammad. Menolak sains sama saja dengan menutup mata dari sebagian besar tanda-tanda kebesaran Allah di muka bumi.
3. Kemandirian Ekonomi dan Kedaulatan Karakter (Sovereignty)
Ini adalah modal praktis yang sering dilupakan oleh para intelektual. Orang yang perutnya lapar, yang ekonominya dependen dan bergantung pada belas kasihan pihak lain, tidak akan pernah bisa berpikir secara merdeka dan objektif. Rekonstruksi pemikiran keislaman membutuhkan keberanian intelektual yang luar biasa (intellectual courage). Keberanian untuk menyuarakan kebenaran dan mendobrak kebekuan berpikir hanya akan lahir dari mentalitas manusia yang merdeka—manusia yang tidak menghamba kepada siapa pun kecuali hanya kepada Allah, tidak bisa dibeli oleh pasar, dan tidak bisa diintervensi oleh struktur kekuasaan mana pun. Ketika umat ini mandiri secara ekonomi, memiliki unit-unit bisnis yang kuat, dan berdaulat atas dirinya sendiri, maka pemikiran-pemikiran segar yang lahir dari rahim umat tidak akan mudah dipadamkan oleh tekanan luar.
4. Kedekatan dengan Realitas Empiris dan Alam Semesta (Empirical Grounding)
Pemikiran yang sehat, jernih, dan membumi tidak akan pernah lahir di dalam ruang kelas yang pengap, sumpek, dan terisolasi dari realitas sosial. Itulah alasan filosofis mengapa saya mendirikan Pesantren dan Sekolah Alam Planet NUFO di Rembang ini. Alam adalah guru terbaik yang diciptakan langsung oleh Allah tanpa ada intervensi bias manusia. Ketika santri berinteraksi langsung dengan tanah, menanam benih, merawat hewan ternak, dan mengamati ekosistem alam, mereka sedang mendidik diri mereka sendiri tentang objektivitas, hukum sebab-akibat (sunnatullah), konsistensi, dan kesabaran dalam berproses. Pemikiran keislaman yang direkonstruksi dari atas tanah, dari tengah-tengah problem riil masyarakat, akan menjadi pemikiran yang hidup, membumi, dan fungsional, bukan sekadar diskursus teoritis yang mengawang-awang di menara gading akademik.
Bagian IV: Visi Masa Depan Pemikiran Islam
Baladena.id: Menutup wawancara yang sangat mencerahkan ini Kiai, seperti apa potret masa depan peradaban Islam yang Anda bayangkan jika rekonstruksi pemikiran ini berhasil kita jalankan secara masif?
Dr. Mohammad Nasih: Masa depan Islam tidak berada di tangan mereka yang romantis-melankolis, yang kerjanya hanya meratapi kejatuhan masa lalu sambil mengutuk keadaan hari ini. Masa depan Islam juga tidak berada di tangan mereka yang inferior, yang sekadar membebek secara buta pada seluruh modernitas Barat sekuler tanpa filter kritis.
Masa depan peradaban ini berada di tangan generasi baru muslim yang berani berpikir mendalam, mandiri secara tindakan ekonomi, menguasai sains mutakhir, dan memegang teguh tali iman. Mereka adalah manusia-manusia yang mampu menjadikan Islam bukan lagi sebagai beban doktrinal yang menakutkan, melainkan sebagai rahmat nyata bagi semesta alam (rahmatan lil ‘alamin)—solusi bagi krisis moral, krisis lingkungan, dan krisis kemanusiaan global.
Rekonstruksi pemikiran ini bukanlah sebuah opsi yang bisa kita tunda-tunda. Ini adalah syarat mutlak hidup atau matinya peradaban kita. Jika kita menolak untuk merekonstruksi diri, maka hukum sejarah akan berlaku: kita akan digilas, dilupakan, dan hanya bisa meratap di pinggiran sejarah dunia. Pilihan ada di tangan kita hari ini.


