Di tengah sorotan tajam akan isu-isu intoleransi, Indonesia seringkali dihadapkan pada pertanyaan fundamental tentang komitmennya terhadap semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
Laporan terbaru dari SETARA Institute menggarisbawahi tantangan ini. Pada 2023, terjadi 217 peristiwa dengan 329 tindakan pelanggaran Kebebasan Beragama/Berkeyakinan (KBB), angka yang naik signifikan dari tahun sebelumnya.
Kemunduran ini terus berlanjut hingga Mei 2024, di mana SETARA mencatat 402 tindakan pelanggaran. Pelanggaran ini, yang dilakukan oleh aktor negara maupun non-negara, menunjukkan adanya erosi nilai-nilai persatuan yang seharusnya menjadi fondasi bangsa.
Namun, di tengah gambaran suram tersebut, ada secercah harapan yang tumbuh dari akar rumput, dari sebuah kampung kecil yang mungkin luput dari pemberitaan media.
Di Kelurahan Bawen, Kabupaten Semarang, tepatnya di sebuah lingkungan bernama Gentong, toleransi bukanlah sekadar slogan di baliho, melainkan praktik hidup sehari-hari yang merajut harmoni di antara warganya.
Di sini, umat Islam, Nasrani, dan Kristen hidup berdampingan, membuktikan bahwa perbedaan bukanlah penghalang, melainkan kekayaan yang menguatkan. Apa yang membuat Gentong begitu berbeda? Kuncinya terletak pada cara mereka merawat hubungan bertetangga.
Alih-alih menunggu inisiatif besar dari pemerintah atau tokoh nasional, warga Gentong secara mandiri membangun fondasi toleransi melalui interaksi sederhana yang tulus.
Praktik gotong royong menjadi jantung dari kerukunan ini. Warga dari berbagai agama bahu-membahu membersihkan lingkungan, memperbaiki jalan, atau menyiapkan acara tasyakuran 17-an.
Tidak ada sekat-sekat agama, yang ada hanya semangat kebersamaan untuk membuat lingkungan mereka lebih baik. Kerukunan ini bahkan meresap hingga ke acara-acara personal, seperti hajatan pernikahan.
Di Gentong, ketika sebuah keluarga mengadakan pesta pernikahan, para tetangga akan turun tangan membantu tanpa melihat latar belakang agama mereka.
Para pemuda hingga orang tua turut berpartisipasi, mulai dari mendirikan tenda, menata kursi, hingga memasak di dapur umum.
Semangat ini menunjukkan bahwa bantuan tidak mengenal batas keyakinan, dan perayaan kebahagiaan satu keluarga adalah kebahagiaan seluruh lingkungan.
Toleransi di Gentong juga berwujud dalam hal-hal kecil yang menyentuh. Saling mengunjungi saat hari raya, bertukar kue, atau sekadar bertegur sapa di pagi hari menjadi pemandangan yang biasa di Gentong.
Momen seperti ini mungkin terlihat sepele, tetapi ia mengikis prasangka dan menumbuhkan rasa percaya. Mereka memahami bahwa toleransi tidak memerlukan pidato-pidato berapi-api, tetapi cukup dengan senyum tulus dan bantuan saat tetangga membutuhkan.
Warisan budaya juga memainkan peran penting. Keberadaan kesenian Warok yang dimainkan oleh warga lintas agama menjadi simbol nyata akulturasi dan kebersamaan.
Seni tradisional ini tidak hanya melestarikan budaya lokal, tetapi juga menjadi wadah di mana perbedaan identitas melebur dalam satu semangat.
Saat pertunjukan berlangsung, yang terlihat bukanlah perbedaan agama, melainkan kekompakan dan dedikasi untuk menghibur sesama.
Hal ini menunjukkan bahwa budaya lokal bisa menjadi jembatan yang efektif untuk merajut persatuan. Selain itu, toleransi di Gentong adalah nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Orang tua tidak hanya mengajarkan anak-anak mereka tentang agama, tetapi juga tentang pentingnya menghormati teman-teman yang berbeda keyakinan.
Di sini, anak-anak dari latar belakang agama yang berbeda bermain bersama, tanpa memikirkan sekat-sekat yang dibuat oleh orang dewasa.
Mereka belajar bahwa persahabatan tidak mengenal batas agama, dan hal ini membentuk fondasi yang kuat untuk masa depan yang lebih harmonis.
Kisah Gentong seharusnya menjadi pengingat bagi kita semua, terutama bagi para pemimpin dan masyarakat luas. Di saat banyak pihak masih terjebak dalam retorika politik dan agama yang memecah belah, Gentong membuktikan bahwa solusi nyata ada di tangan kita sendiri.
Toleransi bukan sekadar isu politik, tetapi isu kemanusiaan yang berakar pada kehidupan sehari-hari. Ia lahir dari interaksi personal, rasa saling percaya, dan kerelaan untuk melihat sesama manusia bukan dari agamanya, melainkan dari hati.
Apa yang terjadi di Gentong seharusnya menjadi cetak biru bagi pembangunan karakter bangsa. Pemerintah dan lembaga pendidikan perlu mempromosikan inisiatif serupa, bukan hanya melalui kebijakan, tetapi juga dengan memberdayakan komunitas lokal.
Mari kita jadikan kisah “dari tetangga untuk bangsa” ini sebagai inspirasi. Kita tidak perlu mencari resolusi konflik yang rumit di forum-forum besar.
Cukup mulailah dari lingkungan terdekat, dengan menebar senyum kepada tetangga dan menyadari bahwa di balik perbedaan, ada ikatan kemanusiaan yang jauh lebih kuat.
Penulis : Faiq Ridlo Al Amin, Naila Adibah, Wildan Ahmad Cassivo, Herylina Putri Utami, Annisa’ur Rohmah







