MEMBAGI WAKTU DENGAN EFEKTIF DAN EFISIEN

Setiap orang yang diberi waktu dengan rentang yang sama, belum tentu mendapatkan nilai hasil atau capaian yang bernilai setara. Semua tergantung penggunaannya. Yang menggunakan waktu dengan efektif dan efisien, mendapatkan capaian besar. Sedangkan yang tidak menggunakannya secara efektif dan efisien, walaupun sudah melakukan kerja super keras, akan mendapatkan hasil yang hanya minimalis.

Karena itu, siapa pun yang ingin mendapatkan capaian besar, harus tahu bagaimana menggunakan waktu yang sebenarnya sangat terbatas ini secara tepat. Apalagi seorang muslim harus menjadikan kesempatan yang hanya limit mendekati nol ini, untuk mendapatkan kebahagiaan abadi di akhirat.

Bagaimana cara menggunakan waktu secara efektif dan efisien? Berikut ini wawancara baladena.id dengan Pengasuh Pesantren Nurul Furqon, Mlagen, Pamotan, Rembang atau yang lebih dikenal dengan Planet NUFO dan Pengajar Ilmu Politik FISIP UMJ, Jakarta, Dr. Mohammad Nasih, M.Si. al-Hafidh, atau yang akrab disapa oleh para santrinya dengan Abah Nasih dan Abana.

 

Bacaan Lainnya

Baladena: “Persoalan waktu ini sudah menjadi perhatian sejak dulu. Di Barat, ada ungkapan waktu adalah uang, dan dalam perspektif Islam, sepertinya lebih cocok dengan ungkapan waktu adalah pedang. Bagaimana Abah memandang ini?”

Abana: “Prinsip dari ungkapan-ungkapan itu adalah waktu sangat berharga. Bagi seorang yang sekuler, waktu amat sangat berharga untuk melakukan akumulasi capital; untuk mendapatkan sebesar-besar keuntungan di dunia. Sedangkan di dalam komunitas muslim, ungkapan waktu bagaikan pedang adalah untuk mengingatkan bahwa sebenarnya kita hidup di dunia ini sangatlah sebentar. Tak lama kita akan mati menghadap Ilahi. Karena itu, waktu diibaratkan pedang yang berkelebat sangat cepat. Waktu juga begitu. Ia mengalir begitu cepat sebagaimana berkelebatnya pedang yang bisa menebas leher kita, sehingga kita akan sampai pada ajal. Karena itu, kita harus memanfaatkan waktu dengan sangat baik, secara efektif dan efisien, sehingga memperoleh hasil besar, berupa amal yang optimal. Amal-amal kita di dunia ini bisa menjadi bekal terbaik untuk kehidupan selanjutnya di akhirat yang tiada batasnya.”

Baladena: “Lalu bagaimana cara memanfaatkan waktu secara efektif dan efisien?”

Abana: “Pertama, menggunakan waktu secara efektif artinya jangan ada waktu yang terbuang sia-sia, atau tidak digunakan untuk sesuatu yang menghasilkan manfaat. Kedua, mengunakan waktu secara efisien itu artinya melakukan sesuatu yang prioritas dan menjadi modal untuk melakukan sesuatu yang berikutnya. Mungkin sudah banyak yang melakukan point pertama, tetapi nampaknya sangat sedikit yang mampu melakukan yang kedua. Ini ibarat kita hendak naik ke puncak dan harus meniti anak-anak tangga. Tentu kita harus meniti dari yang paling bawah, lalu anak tangga berikutnya. Kalau kita melompati satu anak tangga, maka kita harus balik lagi ke bawah, sehingga kesulitan untuk meniti tangga di atas yang pernah kita pijak. Itu akan menyebabkan kita melakukan pengulangan kerja. Itu tidak efisien.”

Baladena: “Bisa berikan contoh konkretnya, Bah?”

Abana: “Contoh point pertama adalah ikut forum kajian atau pengajian. Itu efektif. Tapi forum yang bagaimana? Itu akan menentukan efisien atau tidak. Islam ini kan agama yang sangat rasional. Maka ajaran Islam pernah menghasilkan intelektual-intelektual besar yang sangat berpengaruh di dunia. Tidak sedikit yang mau mempelajari Islam, tetapi karena berbagai sebab, akhirnya hanya duduk-duduk mendengarkan saja. Jiping istilahnya. Ngaji nguping. Kalau hanya jiping, walaupun sebenarnya orang yang melakukan jiping itu memiliki kapasitas otak yang baik, tetapi hasilnya tidak akan optimal. Mestinya, dia belajar atau ngaji ilmu alatnya dulu. Ini analogi anak tangga pertama. Setelah itu meningkat ke materi dasar, lalu meningkat lagi ke materi yang lebih tinggi, dan seterusnya tanpa batas. Sebab, ilmu Allah tak akan pernah ada habisnya. Kalau sudah begini, point kedua akan terpenuhi. Jika tidak, ya hanya kelihatannya saja datang ke pengajian, tapi tak paham-paham. Selamanya jadi santri saja, tak pernah meningkat level jadi guru, ustadz, atau kiai.”

Baladena: “Bagaimana cara untuk benar-benar bisa memanfaatkan waktu sampai sama sekali tak ada sedetik pun terbuang? Itu hanya ungkapan, atau benar-benar bisa kita jalankan?”

Abana: “Bisa. Jalankan empat saja dari tujuh kewajiban kepada al-Qur’an yang sering saya sampaikan.”

Baladena: “Perlu diulang lagi di sini, Bah. Kan tidak semuanya tahu tujuh kewajiban itu.”

Abana: “Membacanya, mengartikannya, menghafalkannya, merenungkannya, mengerjakannya, mengajarkannya, dan memperjuangkannya. Membaca bisa di mana pun dan kapan pun. Tentu ada pengecualian, tempat-tempat tertentu yang tidak layak. Mengartikan bisa, tetapi kadang perlu alat khusus untuk mencari. Menghafalkannya mirip dengan yang pertama. Nah, kalau merenungkannya, ini benar-benar bisa di mana pun dan kapan pun. Kalau kita sudah menghafalkannnya dengan baik, lalu memiliki kapasitas untuk sampai level mampu merenungkannya, maka bisa tidak akan nada sedetik pun waktu yang terbuang. Sebab, aktivitas perenungan ini adalah aktivitas privat, rahasia, tak terlihat sama sekali, karena ia adalah aktivitas berpikir. Orang lain, siapa pun, tak ada yang tahu apa yang terlintas di kepala kita. Dalam keadaan dan sedang apa saja, kita bisa berpikir, merenungkan apa sebenarnya kandungan dalam ayat tertentu yang membuat kita masygul misalnya. Kita renungkan terus.”

Baladena: “Abah sendiri, apakah punya strategi khusus untuk memanfaatkan waktu secara efektif dan efisien, sampai sedetik pun ibaratnya, tidak ada yang terbuang sia-sia.”

Abana: “Terus berusaha untuk itu. Sebab, 24 jam ini rasanya kurang saja. Masih banyak yang tak teraih hanya dengan sehari semalam. Sementara kita juga harus memberikan hak tubuh kita untuk istirahat dengan tidur yang kita benar-benar kehilangan kesadaran. Kalau para nabi kan sering mendapatkan wahyu dalam tidur, al-ru’yaa al-shaadiqah. Kalau kita ini yang sering kan mimpi buruk. Hahaha. Nah, waktu terjaga ini harus benar-benar optimal untuk menghasilkan sesuatu yang tidak biasa.”

Baladena: “Maka itu, Bah. Perlu contoh-contoh konkret, agar bisa diaplikasikan secara konkret juga, terutama oleh anak-anak muda, agar kami-kami ini tak menyesal, karena kesadaran baru muncul saat kami sudah tua nanti”.

Abana: “Ya itu tadi, gunakan saja waktu yang biasanya orang tidak menggunakannya untuk membaca sampai merenungkan al-Qur’an. Kalau sampai mengerjakan perintahnya dalam bentuk suatu tindakan, itu lebih bagus. Mengajarkan lebih bagus lagi. Misalnya, saya lebih suka mengajar anak-anak saya saat dalam perjalanan. Anak-anak saya hafal tashrif bisa dikatakan karena mereka menyanyikannya bersama-sama saat perjalanan. Waktu mereka masih batita dan balita, mereka kan tidak tahu bahwa itu pelajaran. Mereka hanya tahu bahwa itu adalah nyanyian. Mereka lebih mudah diajari di dalam mobil, karena tidak bisa ke mana-mana. Di jalan, nyopir sambil muraja’ah hafalan al-Qur’an. Saya sering menggunakan ini, juga untuk simaan al-Qur’an di perjalanan. Kalau saya, dari Semarang ke Planet NUFO di Rembang dan sebaliknya, itu membutuhkan waktu rata-rata 3,5 jam. Atau bahkan mungkin 4 jam. Itu berarti bisa muraja’ah setidaknya 6 juz. Tapi saya gantian. Kalau saya sedang tidak fit, biasanya saya mengajak seorang mahasantri yang bisa nyopir agar bisa gantian menyimak dan disimak. Yang nyopir yang disimak. Sebab, yang menyimak harus memastikan benar dengan kadang-kadang, sesekali ya, harus melihat teks. Yang nyopir sambil memastikan kekuatan hafalan. Tetap konsentrasi melihat jalan dan ingatan tak terganggu. Kalau sedang memakai kendaraan umum juga bisa. Kalau di go-car atau go-jek, kita bisa muraja’ah sendiri, karena hanya perlu sesekali saja melihat teks kalau lupa. Kalau sampai di ruang tunggu stasiun atau bandara, saya gunakan waktu untuk menulis atau setidaknya membaca. Layar laptop atau HP kan tidak boleh goyang-goyang. Mata sakit kalau goyang. Saat menunggu antrian masuk pesawat, bisa untuk muraja’ah lagi dan seterusnya kalau sudah jalan atau terbang. Terbang bisa juga digunakan untuk menulis, karena relatif tidak goyang. Kalau ngantuk, dalam persiapan tidur, kita bisa berkontemplasi yang mendalam. Saat bangun langsung dicatat atau diingat-ingat dulu, agar tidak lenyap lagi hasil kontemplasi sebelum tidur itu. Saat turun, antri keluar, bisa muraja’ah lagi.”

Baladena: “Wah enak juga ya kalau bisa begitu. Masalahnya, bagaimana caranya agar bisa begitu?”

Abana: “Agar bisa muraja’ah, ya hafalkan dulu. Agar bisa merenungkan dengan komprehensif, ya hafalkan dengan maknanya secara utuh 30 juz, sampai bisa menangkap interkoneksi antara satu ayat dengan ayat yang lain. Dengan demikian, hasil kontemplasi atau perenungan itu akan mendekati kebenaran. Sebab, perenungan itu benar-benar menginterkoneksikan keseluruhan ayat yang ada di dalam al-Qur’an, juga dengan hadits-hadits Nabi Muhammad. Perenungan ini makin kita perlukan, karena sekarang dan tentu saja di masa depan akan muncul semakin banyak permasalahan baru dalam kehidupan yang membutuhkan solusi yang Islami. Atau bahkan ada pemahaman-pemahaman yang sebelumnya tidak benar, sehingga membutuhkan rekonstruksi. Kita ini kan memiliki tanggung jawab untuk memberikan kontribusi berupa solusi atau rekonstruksi yang kita dapatkan dari perenungan itu. Dengan perenungan itu, kita juga memiliki peluang dan kesempatan untuk memberikan ide-ide baru tentang pengembangan sains dan teknologi yang diinspirasi dan benar-benar dijiwai al-Qur’an. Dengan begitu, pengembangan sains dan teknologi tidak keluar dari koridor paradigma Islami, karena panduannya adalah al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad saw..” (AH)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *