Negara Indonesia merupakan salah satu penduduk terpadat, tetapi memang banyak permasalahan di dalamnya. Angka kelahiran setiap tahunnya akan terus meningkat dari yang telah ditargetkan oleh pemerintahan. Bagaimana cara orang tua dapat merawat dan memberikan asupan yang gizi apabila kelahiran anak banyak berada dalam lingkungan masyarakat miskin. Salah satu kasus yang terjadi di Indonesia terhadap kasus gejala anak yaitu stunting. Endy P. Prawirohartono menjelaskan pengertian stunting dalam buku berjudul Stunting: Dari Teori dan Bukti Implementasi di Lapangan, yaitu merupakan sebuah gangguan pertumbuhan yang menggambarkan ketidak tercapainya potensi pertumbuhan sebagai salah satu akibat status kesehatan atau tidak optimalnya nutrisi yang didapat.
Banyak yang salah mengartikan stunting dan pendek, padahal keduanya merupakan dua hal yang berbeda. Memang penderita stunting secara fisik bertubuh pendek, tetapi tidak selalu anak yang memiliki fisik pendek itu merupan penderita stunting. Umumnya di masyarakat, kata stunting dan pendek memiliki arti yang sama, hal ini hanya sebuah kebijakan yang akan memudahkan masyarakat dalam memahami stunting tanpa harus melalui proses diagnosis yang sering sulit dan tidak selalu tersedia sarananya. Penyebab dari stunting adalah kekurangan nutrisi atau masalah kesehatan, yaitu penyakit sejenis infeksi dan non infeksi yang mengakibatkan keperluan energy dan nutrisi yang penting untuk pertumbuhan tidak tercukupi.
Pertumbuhan liner dapat diukur dengan tinggi bdan (TB) atau panjang badan (PB). Apabila TB maupun PB kurang dari angka normal (<-2 SD) akan disebut anak bertubuh pendek. Hal-hal tersebut sangatlah dianggap sepele bagi orangtua yang tidak memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan pada anak. Kemiskinan yang terjadi di masyarakat juga dapat menyebabkan anak tidak bisa mendapatkan nutrisi dan gizi yang cukup, walaupun orang tua sebenarnya ingin memberikan apa yang diperlukan. Hal lainnya adalah ketidak kepahaman orang tua terhadap apa yang diperlukan untuk anak pada masa perkembangannya.
Terus kenapa masyarakat Indonesia banyak sekali anak-anak yang mengalami stunting? bukankah stunting itu akan turun temurun kepada keturunanya apabila perbaikan gizi dan nutrisi tidak dilakukan? Karena masih banyaknya massyarakat miskin di Indonesia mengakibatkan ketidak mampuan orang tua untuk membelikan bahan makanan yang sesuai. Seperti halnya ketidak kemampuan masyarakat dalam membeli daging untuk anaknya dan menurut sebuah data negara pengonsumsi daging, sangat lah miris negara Indonesia berada pada angka yang massih sangat rendah dengan konsumsi masyarakat pertahunya yaitu seberat 8,3 kg. Angka ini sangatlah sangat jauh dibandingkan dengan negara-negara lain yaitu Amerika Serikat dengan angka konsumsi 120 kg/tahun, Kuwait 119,2 kg/tahun, Australia 111,5 kg/tahun. Apabila dirata-ratakan setiap masyarakat hanya memakan daging 2 ons saja. Sungguh memilukan, melihat kenyataan bahwa anak-anak di Indonesia sangatlah kekurangan gizi dan nutrisi.
Kenapa daging sangat baik bagi pertumbuhan dan perkembangan anak? Siapa yang tidak tahu kandungan yang terdapat dalam daging bagi pertumbuhan, bahkan sejak zaman nenek moyang. Pada masa anak-anak merupakan masa yang sangatlah produktif dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Tentunya saat masa itu sangatlah membutuhkan gizi yang tidak sedikit. Dalam daging sudah terdapat kandungan nutrisi yang cukup untuk anak terutama pada daging sapi, seperti; Kandungan protein yang ada di dalam daging sapi terdapat 100 gram hingga 26,1 gram. Protein sangat membantu dalam pembentukan jaringan baru, sumber energy, memperbaiki fungsi otak, memproduksi haemoglobin dan membentuk antbodi.
Kandungan lainya yaitu zat besi, Vitamin B komplek, vitamin D, Zinc dan Fosfor. Itulah beberapa kandungan yang ada dalam daging. Permasalahan stunting juga merupakan tanggung jawab negara yang haruslah merawat dan menjamin perkembangan dan pertumbuhan setiap anak yang berada di Indonesia, sebagai bentuk tanggung jawab. Karena setiap anak merupakan aset yang sangat begitu berharga bagi sebuah negara, tetapi apabila anak tersebut terpenuhi gizinya. Tetapi apabila tidak tercukupi, maka anak tersebut malah menjadi beban negara. Paling utama teruntuk calon orang tua, benar-benar perlu diperhatikan dan dipersiapkan baik secara materi ataupun mental untuk mendidik, merawat aset negara yang berharga dan bernilai mahal.







