Oleh: Dr. Mohammad Nasih
Pengasuh Pesantren Tahfidh al-Qur’an Darun Nashihah Monasmuda Institute Semarang dan Pesantren-Sekolah Alam Planet NUFO (Nurul Furqon) Mlagen Rembang
Makin banyak orang tua yang ingin agar anak-anak mereka menghafalkan al-Qur’an. Beragam alasan yang mereka kemukakan. Namun, yang paling umum adalah pemahaman, pandangan, atau anggapan mereka bahwa orang yang hafal al-Qur’an dapat memberikan pertolongan kepada keluarganya nanti di akhirat. Dan mereka ingin mendapatkan itu, agar selamat dari neraka dan masuk surga. Selain itu adalah sabda Nabi bahwa para penghafal al-Qur’an di akhirat kelak akan memakaikan mahkota di kepala kedua orang tuanya.
Namun, ketidaktahuan mereka tentang seluk beluk menghafalkan al-Qur’an membuat mereka mengambil langkah yang tidak tepat untuk anak-anak mereka. Keinginan mereka agar anak-anak belia mereka menghafalkan al-Qur’an justru membuat anak-anak mereka itu “memikul beban yang tak tertahankan”. Memang ada beberapa persen yang berhasil. Namun, 90-an persen sesungguhnya mengalami kegagalan.
Saya sering mendapatkan pengaduan dari cukup banyak orang tua yang berkeinginan mulia itu. Pada umumnya mereka mengeluhkan anak-anak mereka mengalami stagnasi karena kehilangan semangat menghafal. Bahkan sebagian di antaranya seolah mengalami stress berat. Padahal, menurut mereka, anak-anak mereka itu sudah menghafalkan beberapa juz. Ada yang mengatakan bahwa anak-anak mereka sudah hafal 6 juz selama tiga tahun sekolah di SMP atau SMU dengan program menghafal. Menurut mereka, jika tidak dilanjutkan, tentu saja saying. Yang saya tangkap, mereka sangat senang dengan capaian itu. Baru setelah saya memberikan perspektif berdasarkan data dan pengalaman, mereka baru merasa sadar telah salah langkah.
Saya membuka pandangan bahwa jika dalam waktu tiga tahun, capaian hafalan hanya 6 juz saja, itu tanda metodologi yang digunakan pastilah tidak tepat. Istilah yang lebih pas adalah tidak efektif dan tidak efisien. Sebab, itu berarti capaian hafalan hanya 2 juz per tahun. Dengan demikian, 30 juz akan baru bisa diselesaikan dalam waktu 15 tahun. Jika anak-anak sudah usia masuk SMU, maka mereka baru akan bisa menyelesaikan hafalan secara total 30 juz setelah lulus S3. Dan mengingat beban kesibukan makin banyak, itu akan mendekati “ketidakmungkinan”.
Saya juga pernah mengalami apa yang dialami oleh anak-anak mereka ini. Untungnya saja kemudian saya mendapatkan suasana dan terutama cara yang baru saya sadari setelah saya membina para mahasantri di pesantren yang saya bina. Dan dari sinilah yang mulai menyusun “peta jalan” untuk menghafalkan al-Qur’an. Jika sebelumnya setiap santri yang ingin menghafalkan al-Qur’an hanya saya pastikan kualitas bacaan sesuatu standar tajwid, kini saya beri syarat lain untuk terlebih dulu memahami arti. Saya beri kesempatan untuk belajar Bahasa Arab dasar selama maksimal 1,5 bulan. Jika bisa, maka bisa mengikuti program menghafal. Jika tidak, maka saya sarankan untuk “angkat koper” dan melakukan aktivitas lain.
Kesadaran itu saya dapatkan setelah saya melakukan flash back. Sampai lulus MTs. saya belum mampu menghafalkan al-Qur’an lebih dari tiga juz. Bahkan saat kelas VI SD, ketika salah seorang guru saya membuat sayembara menghafalkan surat Yasin dengan hadiah sebuah buku tulis batik tebal 400 halaman, saya “tidak mampu” menyelesaikannya. Di kelas, saya hanya mendapat peringkat ke 3 atau 4 saat uji hafalan dengan menghafalkannya di depan kelas. Namun, teman saya yang dulu berhasil menghafalkan surat Yasin itu, berkali-kali saya tanya setiap kali bertemu, menjawab sama: sudah hilang. Itu adalah masa-masa saya belum begitu memahami makna ayat-ayat al-Qur’an.
Namun, keadaan kemudian berubah. Ditambah dengan faktor-faktor lain yang memacu saya untuk bisa hafal al-Qur’an. Di antara faktor terpentingnya adalah saya belajar beberapa kitab tafsir: al-Jalalayn, Tanwiir al-Miqbas, dan al-Muniir (Marah Labid). Waktu itu belum ada terjemahan seperti sekarang. Kalau ingin mengetahui makna kata, harus membuka kamus satu persatu. Tentu saja ini akan memakan waktu yang lama. Belum lagi tidak semua kata bisa ditemukan dalam kamus milik santri yang kurang lengkap. Karena itu, mengaji kepada ustadz/kiai dengan kemampuan cukup mumpuni menjadi pilihan yang sangat strategis. Karena saya nyantri di pesantren yang kajian tafsirnya cukup kuat, setidaknya lebih baik dibandingkan pesantren lainnya, maka pemahaman saya kepada makna kata al-Qur’an mengalami peningkatan signifikan. Membaca al-Qur’an menjadi sangat menyenangkan. Kisah-kisah dalam al-Qur’an misalnya, serasa seperti kisah dalam novel yang maha indah dan menarik. Cerita-cerita tentang orang-orang di masa lalu seolah membawa saya ke tempat-tempat yang disebutkan. Walaupun hanya dalam imajinasi, kadang bisa dirasakan. Ungkapan tentang surga dan neraka yang abstrak pun bisa membangkitkan imajinasi yang bisa membuat gembira, bahagia, takut, dan menangis. Dan yang pasti, pemahaman kepada makna literal teks al-Qur’an itu membuat menghafalkan al-Qur’an menjadi mudah. Sebab, saya tinggal menyambungkan kata-kata yang sudah saya ketahui maknanya menjadi sebuah kalimat yang mudah dimengerti. Urutan ayatnya juga menjadi mudah dihafal, karena dengan mengetahui maknanya, saya tinggal menyambungkan saja ayat-ayat yang kebanyakannya mudah ditangkap korelasinya. Antara ayat sebelum dan sesudahnya berhubungan.
Ini sangat selasar dengan hasil penelitian kecil saya. Bahwa, menghafalkan kalimat yang tidak diketahui arti/maknanya lebih sulit lebih dari tujuh kali lipat dibandingkan kalimat yang diketahui maknanya. Ini sudah saya uji berkali-kali di banyak tempat pada segala usia. Artinya, jika ada anak kecil bisa menghafalkan al-Qur’an 30 juz dengan cepat, tanpa mengetahui maknanya, itu hanya kasuistik saja. Dan itulah yang menyebabkan anak-anak dengan kemampuan demikian selalu viral. Sesuatu yang viral menunjukkan bahwa itu adalah sesuatu yang langka, bahkan sangat langka. Hanya anak-anak dengan kemampuan khusus, tepatnya kecerdasan memorial yang luar biasa saja yang bisa melakukannya. Sementara anak-anak pada umumnya, memerlukan panduan sebagaimana saya melakukannya. Jika anak memiliki kecerdasan memorial yang standar, dengan pembinaan sebagaimana yang saya jalankan dulu, dengan membangkitkan semangat yang kuat, maka anak siapa pun akan bisa menghafalkan al-Qur’an tidak lebih dari dua tahun. Jika setiap hari bisa menghafalkan satu halaman saja, maka dalam waktu 604 hari saja, 30 juz al-Qur’an akan bisa dihafalkan. Perlu dicatat secara khusus, tidak semua orang memiliki kecerdasan memorial yang cukup untuk menghafalkan al-Qur’an secara keseluruhan. Bahkan walaupun memiliki kecerdasan intelektual yang baik.
Karena itu, para orang tua harus mulai bijaksana tidak asal memasukkan anak ke lembaga pendidikan tertentu untuk menghafalkan al-Qur’an. Sebab, tanpa mengetahui artinya, berdasarkan data yang saya punya, rata-rata hanya mampu menghafal 13 juz dalam 3 tahun, maksimal 23 juz. Padahal jika hafalan al-Qur’an tidak sampai total 30 juz, tinggal menunggu “hilang” saja, cepat atau lambat. Karena itulah saya sering menganalogkan menghafalkan al-Qur’an dengan panjat pinang. Jika tidak sampai puncak, maka tidak akan mampu bertahan. Sebab, tidak akan mampu untuk terus bertahan di tengah-tengah dengan medan yang sangat licin dengan melawan gaya gravitasi.
Dan karena itu pula, para guru, pemimpin, dan pemilik lembaga pendidikan tahfidh al-Qur’an harus memperhatikan secara serius masalah ini. Agar mereka yang ingin hafal al-Qur’an benar-benar hafal dalam arti yang sesungguhnya, maka langkah yang harus ditempuh bukan hanya memastikan mampu membaca al-Qur’an sesuai dengan kaidah tajwid, tetapi juga harus memahami makna literalnya terlebih dahulu. Dan sejatinya, hafalan al-Qur’an dengan penguasaan arti, akan menjadi inspirasi. Namun, hafalan yang tidak didahului dengan penguasaan artinya, salah-salah bisa menjadi beban sepanjang kehidupan. Dan inilah yang berpotensi menjadi seperti yang dikatakan Nabi, bahwa bacaan al-Qur’an hanya sampai di tenggorokan, karena tanpa mengetahui arti, maka al-Qur’an tidak bisa ditangkap fungsi petunjuk atau panduannya. Perintahnya pergi ke barat, tetapi tak sadar malah melangkah ke timur.Wallahu a’lam bi al-shawab.




