Maa ma’na “santri”?
Kalau diambil dari pendapat masyarakat awam, santri itu seseorang yang tinggal di pondok pesantren. Angger manut marang kyai. Seperti halnya lagu si Doel, “…kerjaannya… sembahyang mengaji.” Ke mana-mana bawa kitab gede yang isinya arab gundul bikin pusing sewaktu dibaca.
Abege-abege jaman now akan langsung mencap ‘santri’ dengan julukan orang kudet. Mengapa? Ya, wajar saja. Santri-santri di Indonesia tidak banyak tahu soal perkembangan zaman. Tidak update tren terkini atau hot news yang lagi panas-panasnya. Mereka, santri-santri ini, dibatasi oleh keadaan. Semua perilaku harus berdasarkan alquran dan hadits, dzikir dan ngaji terus, solawatan tiada henti. Pantas orang-orang merasa ngeri dengan kaum terbelakang macam begini.
Nah, mari tilik definisi umumnya melalui Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “Santri setidaknya mengandung dua makna. Arti pertama adalah orang yang mendalami agama Islam dan pemaknaan kedua adalah orang yang beribadah dengan sungguh-sungguh atau orang yang saleh.”
Makna santri di sini digunakan untuk menyebut orang-orang yang memperdalam ajaran agama Islam di pondok pesantren. Kata “pesantren” oleh sebagian kalangan diyakini sebagai asal-usul tercetusnya istilah “santri”.
Nurcholis Madjid lewat buku Bilik-bilik Pesantren: Sebuah Potret Perjalanan (1999) menuliskan bahwa kata “santri” berasal dari bahasa Jawa, yakni cantrik yang bermakna “orang atau murid yang selalu mengikuti gurunya”. Dalam hal ini kyai.
Meski begitu, masih ada pendapat lain yang berusaha mencaritahu asal usul kata “santri”. Salah satunya pendapat versi C.C. Berg yang menyebut bahwa istilah “santri” berasal dari kata shastri dalam bahasa India. Artinya, “orang yang mempelajari kitab-kitab suci agama Hindu”. Ini dikarenakan beberapa ahli percaya tradisi nyantri sudah ada sejak sebelum ajaran Islam masuk ke Nusantara, atau dengan kata lain pada masa Hindu dan Buddha.
Kembali lagi ke pendapat umum, santri dengan gaya klowor. Santri ingkang ‘sendhika dhawuh maring kyai’. Kitab kuning tebal-tebal dan gaya hidup nan prihatin tak jarang dijumpai dan telah melekat erat menjadi tittle mutlak sang santri.
Santri dan Iptek
Berat sepertinya membawa-bawa sains ke tengah orang-orang yang selalu berpikir agamis. Apalagi kalau dari awal pemikiran tentang sains sudah salah kaprah. Benar. Seperti halnya pengharaman bahasa Inggris yang dijuluki bahasa kafir, sains pun dianggap menyimpang.
padahal kesatuan ilmu pengetahuan di amna ada agaman dan sains bersatu sudah sejak dulu digembar-gemborkan. Mau bagaiamana lagi. Orang-orang sudah terlanjur trauma dengan konflik gereja dan scientist.
Sudah tidak perlu ditampik lagi, kebenaran-kebenaran ayat alquran yang dibuktikan dengan ilmu-ilmu sains masa kini. Sebagai permisalannya, mumi fir`aun, keadaaan dalam kandungan, kejadian-kejadian dan fenomena, serta masih banyak lagi.
Mengingat mundurnya peradaban, perlu kiranya gerakan fardlu `ain untuk mempelajari sains dan teknologi. Santri perlu punya amunisi untuk berjuang dan berdaya saing di era 4.0 menuju 5.0.
Santri yang mengaji alquran dan mengkaji kitab kuning sudah pasti juga perlu mempelajari sains. Sudah tahu betapa penting dan bermanfaatnya sains serta teknologi untuk membuktikan isi dan kandungan ayat alquran.
Tanpa sains, tidak akan ada yang namanya masa depan. Tanpa nilai-nilai Alquran, sains membawa kehancuran. Jangan hanya ada pesantren yang melahirkan ulama, tapi juga ulama sekaligus ilmuwan.
Kehidupan santri kini tidak lepas dari pengaruh media dan informasi yang juga mempengaruhi cara berpikir dan bertindak. Perubahanan yang bernilai negatif atau positif tergantung bagaimana santri menyaringnya tanpa meninggalkan identitas sebagai santri. Santri era digital harus jadi santri yang tanggap akan kemajuan zaman. Namun, tidak meninggalkan ciri kesantriannya.




