Salah satu hari yang spesial bagi bangsa Indonesia ada di pekan ini, tepatnya tanggal 22 Desember 2020. Tanggal tersebut ditetapkan oleh pemerintah sebagai Hari Ibu Nasional. Menurut berbagai sumber, tanggal tersebut ditetapkan sebagai Hari Ibu melalui Keputusan Presiden Nomor 316 tahun 1959. Ini berhubungan dengan upaya bangsa Indonesia untuk mengenang dan menghargai perjuangan perempuan Indonesia dalam merebut dan mengisi kemerdekaan. Selain itu, juga sebagai momentum kebangkitan bangsa, penggalangan rasa persatuan dan kesatuan serta gerak perjuangan perempuan yang tidak dapat dipisahkan dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia.
Secara biologis manusia hanya memiliki seorang ibu, akan tetapi secara alegoris manusia memiliki banyak ibu sebagai symbol-simbol dalam kehidupan. Misalnya, Ibu Negara adalah sosok yang mendampingi pemimpin sebuah Negara. Ibu pertiwi, adalah tanah tumpah darah bagi seseorang. Nah, untuk kaum mukminin disamping Ibu Pertiwi, Ibu Negara atau ibu-ibu lainnya, juga memiliki Ibunda yang sama. Dikenal dengan ummul mu’minin yang artinya Ibunda kaum mukmin.
Di dalam QS. Al-Ahzab [33]: 6 dijelaskan bahwa kaum mukminin harus mengutamakan Rasulullah dari pada dirinya sendiri lalu istri-istri Rasulullah itu tidak lain adalah Ibunda dari Kaum Mukminin. Dalam konteks saat ini mengutamakan Rasulullah itu, bisa bermakna mendahulukan urusan yang diperintahkan oleh Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari ketimbang mendahulukan untuk mengejar keinginan pribadi kita sendiri. Contoh sederhana dan konkrit, kalau adzan telah berkumandang maka ngobrol dan ngrumpi sambil udud harus segera diakhiri untuk menunaikan shalat jamaah. Berikut ini kutipan ayatnya.
النَّبِيُّ أَوْلَىٰ بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنفُسِهِمْ ۖ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ ۗ
Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka.
Al-Quran mengistilahkan Ibu Kaum Mukminin bagi para istri Rasulullah dalam makna alegoris, bukan sebenarnya. Simbolisasi istri-istri Kanjeng Nabi sebagai Ibunda Kaum Mukminin, dimasudkan untuk menghormati istri-istri Nabi, dan menghormati istri Nabi sama halnya menghormati beliau. Diharamkannya menkahi istri-istri Rasululllah sepeninggal beliau, merupakan salah satu bentuk penghormatan tersebut. Imam at-Thabariy menjelaskan hal ini sebagai berikut.
وأزواجه أمهاتهم شرف الله تعالى أزواج نبيه صلى الله عليه وسلم بأن جعلهن أمهات المؤمنين ; أي في وجوب التعظيم والمبرة والإجلال وحرمة النكاح على الرجال، وحجبهن رضي الله تعالى عنهن بخلاف الأمهات. وقيل : لما كانت شفقتهن عليهم كشفقة الأمهات أنزلن منزلة الأمهات
Istri-istri beliau adalah Ibunda-ibunda mereka (kaum mukmin). Allah telah muliakan istri-istri beliau dengan menjadikan mereka sebagai Ibunda-ibunda Kaum Mukmin. Maksudknya bagi kaum mukminin wajib hukumnya ta’dzim, berbuat baik kepada mereka dan haramnya kaum lelaki menikahi mereka. Allah telah melindungi mereka dengan keridhaan-Nya berbeda dari para ibu pada umumnya. Dikarenakan kasih sayang mereka kepada Kaum Mukmin layaknya kasih-sayang para ibu (kepada anaknya) maka mereka menempati posisi sebagai ibu.
Menjadi isteri Nabi adalah kemuliaan dengan konskuensi yang teramat berat. Dijelaskan bahwa jika istri-istri Nabi melakukan perbuatan yang keji atau tercela maka sanksinya dilipatkan dua kali dari yang semestinya. Sebagaimana termaktub dalam QS. Al-Ahzab [33]: 30 berikut ini.
يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ مَن يَأْتِ مِنكُنَّ بِفَاحِشَةٍ مُّبَيِّنَةٍ يُضَاعَفْ لَهَا الْعَذَابُ ضِعْفَيْنِ ۚ وَكَانَ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا
Wahai istri-istri Nabi, sesiapa diantara kalian yang mengerjakan perbuatan keji yang nyata, maka akan dilipat-gandakan siksaan kepada mereka dua kali lipat. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.
Jadi, sangat bisa dipahami jika Rasulullah meminta agar ummatnya mencintai keluarga beliau. Kanjeng Nabi tidak meminta imbalan apapun selain sekedar ummatnya mencintai keluarga beliau dalam hal ini termasuk kepada istri-istri beliau. Sebagaimana dijelaskan dalam QS. Asy-Syura [42]: 23.
قُل لَّا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَىٰ ۗ وَمَن يَقْتَرِفْ حَسَنَةً نَّزِدْ لَهُ فِيهَا حُسْنًا ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ شَكُورٌ
Katakanlah: Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam keluarga. Sesiapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.
Karena itu tidak pantas bagi ummatnya menyakiti hati beliau, dengan menceritakan atau membeberkan kekurangan yang ada pada diri istri-istri beliau. Menceritakan kekurangan istri-istri yang beliau cintai tidak lain akan menyakiti hati beliau. Analoginya, bagaimana jika istri kita yang amat kita cintai mandanganu kok kekurangannya dibeberkan kepada khalayak? Tentu kita tidak akan senang dengan hal itu.
Sekarang bagaimana ungkapan cinta dan kasih sayang Kanjeng Nabi, kepada istrinya (Sayyidah Khadijah) dapat disimak salah satunya seperti dikutip dalam buku As-Sayyidah Khadijah Umm al-Mu’minin karya Abdul Hamid Mahmud Thahmaz.
امنت بى إذ كفر الناس وصدقتنى إذ كذبنى الناس وواستنى بمالها إذ حرمنى الناس ورزقني الله ولدها إذ حرمنى أولاد النساء
Ia mengimaniku di kala manusia mengingkariku, ia mempercayaiku ketika manusia mendustakanku, ia membantuku dengan hartanya, di saat manusia menghalangiku. Allah telah menganugerahiku anak dengannya, di saat para wanita lain terhalang untuk dianugerahi anak bagiku.
Lebih umum lagi tidak terbatas pada istri-istri Rasulullah, Syaikh Abdullah Alawiy al-Haddad sangat menyarankan untuk selalu ta’dzim dan mencitai keluarga dan kerabat Rasulullah, dengan catatan tidak berlebihan. Bahkan meskipun di antara mereka ada yang terjerumus dalam kebodohan, misalnya. Hal itu dikarenakan di dalam diri mereka mengalir darah kekerabatan dengan Rasulullah. Berikut kutipan penjelasan beliau yang disampaikan dalam buku Fushul al-Ilmiyah wa al-Ushul al-Hikamiyah
وأما من كان من أهل هذا البيت ليس علي مثل طرائق أسلفهم الطاهرين وقد دخل عليهم شيء من التخليط لغلبة الجهل فيتبغى أيضا أن يعظموا ويتحرموا لقرابتهم من رسول الله صلى الله عليه وسلم. ولا يدع المتأهل للنصيحة نصحهم وحثهم على الأخذ بما بما كان عليه سلفهم الصالح من العلم
Adapun orang yang tergolong ahlul bait akan tetapi tidak meniti jalan sebagaimana pendahulunya yang bersih-suci dan mereka telah tercampur dengan hal-hal lain karena kebodohan maka sebaiknya umat muslimin tetap ta’dzim dan menghormati karena kekerabatan mereka dengan Rasulullah. Lalu janganlah lupa untuk memberikan nasihat kepada mereka dan mendorong mereka untuk mengikuti cara pandang dan perilaku para pendahulu mereka yang shalih, dalam hal berilmu.
Terakhir, karena Kaum Mukminin memiliki Ibunda yang sama, itu artinya berasal dari *Rahim Aqidah Tauhid* yang sama pula, maka jika belum bisa menghormati jangan menghinakan, jika belum bisa mencintai jangan membenci, jika belum bisa menta’dzimi jangan mencaci, jika belum bisa sillaturrahmi jangan memusuhi, jika belum bisa mengajak pada kerukunan jangan menebarkan permusuhan.
Demikain Hikmah Jumat kali ini, semoga bermanfaat dan semoga kita dimasukkan menjadi golongan yang mencintai Nabi, keluarga dan kerabatnya, bukan golongan yang membenci dan mencaci keluarga dan kerabatnya. Aamiin. Billaahi fii sabiililaah.







