Perubahan kini meresap ke semua aspek kehidupan sosial dan individu. Dari gaya hidup, relasi individu dengan masyarakat, pilihan profesi pekerjaan yang majemuk, alam yang tidak lagi bisa diprediksi sampai preferensi memilih pasangan hidup pun sudah berubah. Perubahan yang terjadi dewasa ini sudah tidak lagi merangkak perlahan tetapi sudah cepat.
Bahasa yang cocok untuk menggambarkan situasi ini adalah revolutif. Disisi lain, perubahan revolutif menimbulkan ekses yang tidak jarang mengoyahkan nilai-nilai tradisional yang sudah lama mengendap dalam sistem sosial kita. Bahkan, sistem nilai yang melembaga juga tidak mampu menahan deras arus perubahan modernitas.
Perubahan mendasar dan cepat seperti mesin berkekuatan besar yang siap melindas semuanya. Anthony Giddens menyebut mesin itu sebagai ‘Juggernaut’. Awal dari semua perubahan yang terjadi dimulai dari gelombang revolusi teknologi dan informasi sebagai karakter utama globalisasi. Globalisasi memaksa kita semua mengubah cara pandang hidup (world view), tradisi serta identitas sosial. Jika kemunculan globalisasi diwarnai optimisme, sekarang ilmuwan sosial dan filsuf mulai mempertanyakan bahkan menaruh curiga bahwa globalisasi tidak saja menawarkan perubahan melainkan juga ketidakpastian.
Dunia gerakan mahasiswa juga tidak luput dari hantaman perubahan itu sendiri. Tradisi-tradisi, paradigma, identitas-identitas serta pola gerakan mahasiswa saat ini mulai mengalami anomali. Doktrin para aktivis mahasiswa sebagai aktor sosial masih terbelenggu oleh sistem berfikir aktivis beberapa dasawarsa kebelakang.
Konsep agen of change dan agen of control tidak lagi menjadi konsep praksis tetapi menjadi mitos yang dibungkus oleh nilai historis gerakan mahasiswa masa lalu. Aktivis mahasiswa lebih senang mengalami superioritas complex yang semu ketimbang benar-benar menguji secara kritis makna gerakan mahasiswa kontemporer yang sudah lama sakit kronis.
Penolakan RUU KUHP beberapa waktu lalu sudah cukup menjadi fakta bahwa mahasiswa milineal masih terbayang oleh heroisme gerakan reformasi. Belum fakta partikular yang terjadi di lingkungan organisasi mahasiswa baik internal maupun eksternal. Tradisi organisasi mahasiswa masih sarat akan doktrin perlawanan semu terhadap kapitalisme, menjadikan paham-paham yang sudah usang seperti marxisme, anarkisme, komunisme sebagai landasan teoritis gerakan, sampai identitas aktivis yang identik unfashionable, mahasiswa tua, anti produk kapitalisme, serta anti hedonisme disakralkan.
Organisasi mahasiswa yang mewakili wilayah pusat sebagai katalisator perubahan sosial kini dipaksa ke wilayah pinggiran oleh komunitas-komunitas sosial yang bersifat volunteer. Organisasi ektra yang dahulu sangat progresif juga akhirnya lebih bersikap konservatif.
Dampak dari kegagalan aktivis mahasiswa membaca perubahan zaman membuat masyarat mempertanyakan apakah masih relevan gerakan mahasiswa ? Jika menggunakan pendekatan pragmatis, jelas gerakan mahasiswa tidak lagi dibutuhkan. Maka diskursus yang muncul di masyarakat menjadi mahasiswa tidak lebih mempersiapkan seorang ‘buruh sarjana” alih-alih beridealisasi menjadi suksesor kepemimpin nasional di masa depan.
Selain itu, gerakan mahasiswa yang masih bersifat ‘ekstra-parlementer’ menunjukan kegagalan dalam memahami sistem sosial modern. Akhirnya, aktivis mahasiswa menjadi para romantis yang lebih suka bernostalgia daripada kritis-analitis. Mesin ‘Juggernaut” benar-benar melindas gerakan mahasiswa milineal.
Oleh sebab itu, kita perlu mendefinisikan kembali makna gerakan mahasiswa khususnya di era yang saat ini mengalami banyak sekali disrupsi sosial. Tradisi suci dalam komunitas aktivis mahasiswa perlu dibongkar jika tidak mau kehilangan esensi gerakan mahasiswa itu sendiri. Gejala perubahan dalam gerakan mahasiswa sebenarnya sudah lama dibaca oleh pengamat sosial politik. Hikmat Budiman dalam Lubang Hitam Kebudayaan melakukan analisa gerakan mahasiswa reformasi yang tidak saja dipelopori para aktivis an sich namun juga para mahasiswa kuliah-pulang kuliah-pulang (kupu-kupu).
Dahulu kita bisa membedakan atau memberikan kategori secara hitam putih. Sekarang kategori yang bersifat dikotomi sudah kabur. Jangan heran muncul suara kritis dari mulut Jason Ranti, teriakan perubahan dari mahasiswi yang suka dugem atau gerakan feminisme dari komunitas volunter. Bahwa yang pintar tidak selalu kutu buku dan anti sosial. Aktivis tidak selalu berkutat dengan dunia penuh keseriusan tapi bisa melompat ke dunia hedonistik. Dunia post-modern yang tengah berlangsung menggaburkan batas identitas, tradisi, serta dikotomi-dikotomi yang dahulu diyakini absolut.
Aktivis mahasiswa sudah sepatutnya menyusun ulang peta gerakan dengan menjadikan perubahan zaman sebagai variabel utama. Gerakan mahasiswa tidak perlu tentang ekstra-parlementer. Merancang konsep gerakan secara kultural di era teknologi dan informasi lebih dibutuhkan sesuai basic need saat ini. Kita lupa bahwa aktif dalam media sosial sebagai diskursus-balik ( counter-discourse) lebih relevan untuk mempengaruhi wacana publik ketimbang berteriak tanpa makna di depan Gedung pemerintah. Kasus koin untuk Prita yang berhasil mempengaruhi publik tidak berangkat dari megaphone tetapi dari ketikan jari di media sosial. Tidak pernah ada yang membayangkan memang fenomena seperti itu akan terjadi. Namun, satu hal yang pasti kita ada di zaman perubahan. Sehingga gerakan mahasiswa berserta variabel didalamnya perlu mengalami perubahan agar gerakan mahasiswa tidak tinggal kenangan karena terlalu antipati terhadap perubahan zaman.

