Site icon Baladena.ID

Wanita #1 di Dunia

Halo semua, perkenalkan, namaku Carmila. Di sekolah, di kampung, di sungai, teman-teman bermainku memanggilku Amel. Pun dengan orang-orang di rumah. Tapi dalam situasi khusus, terkadang aku dipanggil dengan nama lengkap ‘Carmila’. Itu situasi yang amat khusus.

Nah, kalau namaku disebut, itu berarti Ibu dan Ayahku sedang bicara serius. Biasanya sih, menasihatiku karena aku bandel, susah diatur, dan lain-lain. Aku hafal sekali, Ayah menyebut namaku dengan intonasi tegas. Menyebut satu persatu suku kata,

“C-A-R-M-I-L-A, maukah kamu mendengar cerita Ayah, Nak?”

Ayah selalu begitu. Bahkan, saat marah besar karena kau pergi main siang, pulang malam, Ayahku selalu memulai dengan pertanyaan “maukah kamu mendengar cerita Ayah?”

Berbeda dengan ibuku yang menyebut nama lengkapku dengan intonasi nyaring dan cepat,

“CARMILA! CEPAT MASUK KE DALAM RUMAH!”

Atau

“CARMILA! MAU JADI APA ANAK PEREMPUAN YANG KELUYURAN MALAM-MALAM?! SUSAH SEKALI MENASIHATI KAU.”

Dan aku terbirit-birit masuk ke dalam rumah. Jadi, setiap aku dipanggil dengan nama lengkap, entah oleh Ibu atau Ayah, itu selalu bukan pertanda baik. Aku ini empat bersaudara, anak pertama bernama Alina, biasa dipanggil Lina. Kak Lina itu sangat terkenal, semua orang di desaku kenal dengan Kak Lina. Siapa sih yang tidak kenal dengan Lina Sang Pemberani?

Anak kedua, yaitu Kak Fuad. Sesuai namanya, ia dipanggil Fuad. Aku suka Kak Fuad, aku juga dekat dengannya. Rasanya, Kak Fuad lah yang sering membelaku, terutama saat aku bertengkar dengan kakak yang lain. Hanya satu yang aku tidak suka dari Kak Fuad. Dia itu pelit sekali, enggan membantuku mengerjakan PR. Padahal, ia adalah murid paling pintar di sekolahnya, sampai-sampai dijuluki ‘profesor’.

Anak ketiga, bernama Kak Brian. Juga dipanggil Brian. Kak Brian adalah kakak terjahil nomor satu di dunia. Kak Brian selalu iseng dan nakal. Sedangkan aku, anak keempat, atau bungsu. Jadi anak bungsu tidak seenak yang kalian pikirkan. Kadang aku selalu dibandingkan dengan kakak-kakakku. Oke, cukup perkenalannya, kita langsung ke ceritanya!

***

Gerimis membungkus perkampungan, sejauh mata memandang terlihat tetes air. Di ujung-ujung genteng, dedaunan, juga halaman. Tidak lebat. Tidak sampai menghalangi penduduk desa kami pergi ke ladang untuk menyadap karet, menyiangi rumput kebun kopi, atau ke hutan mencari rotan bambu.

Pagi baru saja menyapa. Di jalan rumah panggung terlihat beberapa rumah tetangga, menyampirkan keranjang di punggung. Terus mereka mencari kerja dan nafkah yang halal. Tiba-tiba Kak Lina datang merenggut pagi liburku,

“Bangun dasar pemalas!” terus aku menjawab,

“Hari ini adalah hari libur, untuk apa bangun pagi?”

Kak Lina menjawab, “Ibu akan pergi ke Ladang. Jadi kita harus membantu Ibu menyiapkan barang-barangnya, beres-beres rumah, dan membuat sarapan.”

Aku menghiraukannya dan lanjur tidur, lalu Kak Lina menyuruhku bangun sambil memukul-mukuliku menggunakan guling. Tapi aku tetap masa bodoh. Setelah itu, Kak Lina berhenti memukuliku dan berteriak kepada Ibu,

“IBUUUUUU! SI PEMALAS INI SANGAT SUSAH DIBANGUNKAN!”

Terdengar suara langkah kaki, membuka pintu kamar sebelah, dan membangunkan Kak Fuad dan Kak Brian. Setelah itu, suara langkah kaki itu semakin besar dan,

Trrr…

Suara pintu dibuka.

Ibu berkata, “Carmila, bangun! Ibu dan Ayah mau pergi.”

Aku tetap diam, ibuku berkali-kali membangunkanku dengan cara yang sama. Tapi tidak berhasil. Lalu tiba-tiba ia berteriak,

“CARMILA, SUDAH IBU BILANG SETELAH SHALAT SUBUH JANGAN TIDUR LAGI! BANGUNNNNN!!!!”

Serentak, akupun kaget dan berkata,

“Amel sudah bangun dari tadi kok.”

Ibu berkata, “Ayo bantu Ibu menyiapkan barang-barang!”

Ibu adalah orang tersibuk yang pernah aku lihat. Mengurusi ini, mengurusi itu tanpa mengharapkan imbalan. Tapi terkadang, Ibu sering marah-marah dan memukuliku. Tapi aku tahu kok, sebenarnya Ibu itu sayang kepadaku. Ibu menghukumku karena kesalahan yang telah aku perbuat, dan agar tidak ku ulangi lagi.

Ibuku adalah wanita nomor satu di dunia. Ibu itu adalah pahlawan tanpa jasa dan malaikat tak bersayap. Ibu, kalau kau tidak ada, siapa lagi yang bisa menggantikanmu? Ibu, semoga perbuatanmu yang baik, dibalas dengan kebaikan yang lebih baik oleh Sang Pencipta. Aamiin.

Teruntuk Ibuku,

Selamat hari ibu, Ibu.

 

Oleh : Muhamad Aldi Husni, Sanja kelas 7 SMP Planet Nufo asal Garut

Exit mobile version