Site icon Baladena.ID

Waktu sahur; Jangan disepelekan!

ramadhan dan helm

Dalam kitab An-Nihayah (2/347) Sahur memiliki dua pengertian. As-Sahur (ﺍﻟﺴَّﺤُﻮْﺭُ ) dengan mem-fathah huruf sin adalah benda makanan dan minuman untuk sahur. Adapun as-suhur (ﺍﻟﺴُّﺤُﻮْﺭُ ) dengan men-dhommah huruf sin ialah makan pada waktu sahr.

Kapankah waktu sahr itu? Waktu sahr berada di antara waktu lail dan dan waktu fajr, kira-kira 15-30 menit diantara keduanya. Waktu ini sangat baik di gunakan untuk makan bagi orang yang akan berpuasa. Namun, Sering kali orang-orang mengabaikan waktu ini dengan beralasan tidak suka bangun, khawatir kebablasan (tidak sempat bangun) atau merasa tetap kuat meski makan di pemulaan/atau pertengahan malam.

“Makan sekarang aja lah. Biar nanti gak usah bangun pas waktu sahur, ngantuk banget soalnya”;

“Daripada nanti gak sempat bangun, mending makan lebih dulu”;

“Sahurnya jam 1 aja. Toh, saya juga tetap bisa nahan sampe maghrib”.

Alasan-alasan di atas sering kali kita jumpai bahkan mungkin diri kita pun seperti itu. Padahal, dari segi kesehatan, daya tahan tubuh akan lebih kuat dan lama dibanding orang yang makan pada rentang waktu sebelum waktu sahur.

Tidak hanya dari segi kesehatan, sahur juga merupakan Sunnah Rasulullah. Beliau sangat menganjurkan untuk melakukannya. Hal itu dikarenakan pada waktu sahur terdapat keberkahan di dalamnya. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan dari Anas bin Malik RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

ﺗَﺴَﺤَّﺮُﻭﺍ ﻓَﺈِﻥَّ ﻓِﻰ ﺍﻟﺴَّﺤُﻮﺭِ ﺑَﺮَﻛَﺔً

“Bersahurlah kalian! Karena sesungguhnya, di dalam sahur itu terdapat keberkahan.” (HR. Muttafaq Alaih)

Titik tekan yang disampaikan oleh Baginda Nabi SAW dalam hadits di atas ialah keberkahan. Berkah secara bahasa, adalah bertambahnya kebaikan. Oleh karena itu, dengan bersahur, diharapkan seorang Muslim dapat meningkatkan kualitas puasanya. Sebagaimana dipandang dari segi kesehatan bahwa daya tahan tubuh akan lebih kuat dan lama, maka orang yang bersahur pada waktu yang tepat akan lebih semangat dalam beribadah. Sehingga dengan semangat itu, pastilah amal-amal seseorang menjadi lebih banyak.

Amalan-Amalan di Waktu Sahur

Bukan hanya semangat, dengan bersahur di waktu yang tepat, seseorang dapat melakukan amalan-amalan lain yang dianjurkan oleh Allah dan Rasul-Nya pasca makan sahur. Sebagaimana dalam firman-Nya (Ali-Imran: 16-17):

 الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ(16

الصَّابِرِينَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِينَ وَالْمُنْفِقِينَ وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ(17

 

  1. “(Yaitu) orang-orang yang berdoa: Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka”
  2. “(yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur”

 

Dari dua ayat di atas, ada tiga amalan yang dapat kita kerjakan dalam waktu sahur, yaitu berdoa, beribadah (sholat, dzikir, dan lain sbb), dan beristighfar (memohon ampun).

Rasulullah SAW juga bersabda:

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍإِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْيَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِىفَأَغْفِرَ لَهُ

“Setiap malam Tuhan kami turun ke langit dunia di saat akhir sepertiga malam. Dia berfirman: “Siapa yang berdoa kepada-Ku akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku akan Aku beri. Dan Siapa yang memohon ampunan kepada-Ku akan aku ampuni.” (H.R. Imam Bukhari dan Imam Muslim)

Amalan yang paling dianjurkan di antara tiga amalan itu ialah beristighfar. Mengapa demikian? Sebab, dengan beristighfar, dosa-dosa seorang hamba akan diampuni. Orang yang telah diampuni dosa-dosanya, maka hatinya akan lebih suci. Dengan hati yang suci itu, maka doa-doa akan lebih mudah terkabulkan. Oleh karena itu, para ulama sangat menganjurkan agar menggunakan waktu sahur sebagai momen untuk bermuhasabah dan memohon ampun kepada-Nya.

Sangatlah rugi jika seseorang malah mengabaikan waktu—yang singkat, tapi penuh dengan keberkahan—itu. Karena itu, janganlah menyepelekan waktu sahur. Wallahu a’lam bi al-shawab

Oleh: Fajri Rafly, Mahasiswa Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Walisongo Semarang

Exit mobile version