Kesejahteraan suatu umat dalam dunia keilmuan islam bisa diukur dengan kepemilikan waktu luang yang didalamnya mereka bisa tidak hanya beribadah, melainkan juga mengajarkan ilmu serta berdakwah. Akan tetapi, bagaimana dengan keadaan umat sekarang, mereka masih merasa kekurangan dan bahkan mereka menghabiskan waktunya hanya untuk mengurusi perut.
Mereka bekerja hingga tidak mengenal waktu hanya untuk mengurusi urusan duniawi. Karena mereka rasa hidup begitu begitu saja sampai seterusnya. Paradigma ini lah yang membuat umat kita semakin tertinggal dan tidak ada gairah untuk bangkit, karena mereka pikir diri mereka tidak mempunyai tanggungan apapun, sebab untuk urusan berdakwah dan lain sebagainya sudah menjadi tugas bagi para kaum elite agama.
Padahal mereka tidak tahu bagaimana realita keadaan para elite agama satu dengan elite agama yang lain. Sebab, umat kita hanya melihat dari sisi pandangan publik dan yang hanya mereka tahu bahwa para elite ini lah yang mampu untuk membawa urusan umatnya untuk menuju kesejahteraan baik secara ilmu keislaman ataupun ke rohanian tanpa ada unsur imbalan dibalik itu semua.
Jika umat tahu, sebenarnya para elite tersebut saling berebut pengaruh(kekuasaan kultural) yang arahnya bisa kekuasaan struktural atau langsung berujung materi atau amplop putih. Mereka saling berlomba untuk mendapatkan pengaruh dengan cara mengajarkan ilmu ilmu Allah dengan memasang tarif setiap kali mereka mendapat undangan dari umatnya.
Sebagai seorang umat yang masih bersikap feodal, mereka dengan mudahnya masih menjunjung semboyan Sami’naa Waatho’naa, tanpa harus memverivikasi kebenaran dan kejelasan apa yang mereka para elite tersebut sampaikan. Sebab, mereka masih terpengaruh dengan adanya stigma bahwa elite agama adalah orang yang paling tinggi kedudukaannya dalam suatu masyarakat sehingga mereka tidak mampu untuk menyampaikan gagasan rasionalnya ketika ilmu ilmu yang masih bersikap feodal diajarkan kepada umatnya.
Dengan memberi stigma kepada umat bahwa posisi mereka pada tingkat yang tinggi dalam masyarakat, sebagai elite agama bahkan menempatkan diri mereka layaknya nabi di kalangan sahabat sahabatnya yang mereka harus bersodhaqoh terlebih dahulu jika akan berbincang dan berdiskusi dengannya.
Hai orang-orang beriman, apabila kamu mengadakan pembicaraan khusus dengan Rasul hendaklah kamu mengeluarkan sedekah (kepada orang miskin) sebelum pembicaraan itu. Yang demikian itu lebih baik bagimu dan lebih bersih; jika kamu tidak memperoleh (yang akan disedekahkan) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (al-Mujadilah: 12)
Bisa diduga, penyebab masalah demikian adalah kekeliruan dalam pemahaman ayat tersebut sehingga ayat inilah dijadikan argumen yang menjadi latar belakang munculnya tradisi amplop putih. Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa apabila kaum mengadakan pembicaraan khusus dengan rasul hendaklah mengeluarkan sedekah(kepada orang miskin). Padahal nabi tidak memakan sedekah, dan hanya memakan hadiah. Karena hadiah dianggap sebagai sesuatu pemberian yang tidak memberatkan dan itu yang dilakukan para sahabat ketika hendak melakukan pembicaraan kepada nabi.
Berbeda dengan keadaan para elite agama saat ini, mereka mengartikan ayat tadi dengan pemahaman yang kurang tepat, sehingga selama ini mereka membangun tradisi yang keliru dan itu berlangsung sampai saat ini. Para umatnya bekerja keras untuk memenuhi urusan perutnya sementara para elite agamanya duduk dengan berpangku tangan menunggu umatnya datang dengan membawa amplop putih dan buah buahan, sehingga para cukup menggunakan modal ilmu ilmu Allah.
Maka jika dilihat, kehidupan dalam masyarakat ini lah terjadi ketimpangan dan keprihatinan. Jika beranjak pada kisah Siti Khadijah yang mengorbankan seluruh kekayaannya sebagai modal untuk dakwah yang dilakukan oleh nabi, hal ini lah berbalik dengan kisah elite agama tadi. Nabi dan Siti Khadijah mendapan kenikmatan berupa harta yang banyak dan kehidupan yang mapan, namun setelah seluruh kenikmatan dan kekayaannya tersebut mereka alihkan untuk perjuangan di jalan Allah, mereka mengalami hidup prihatin.
Demikilah yang dinamakan sebagai seorang yang benar benar berjuang. Maka sebagai umat yang mengambil telaadan dari Nabi, sudah sepatutnya sebagai sesame umat harus mencerdaskan dan memberdayakan umat yang dirasa masih bodoh dan lemah agar mereka mulai berusaha bertranformasi menjadi umat yang terbaik sebagaimana dijanjikan oleh Allah. Jika umat cerdas dan berdaya, maka umat islam secara keseluruhan akan mendapat kejayaan secara bersamaan.

