Pesantren-Sekolah Alam Nurul Furqon, Mlagen, Pamotan, Rembang, Jateng, atau yang lebih dikenal dengan Planet NUFO makin mantap mengusung trilogi “ilmu, harta, dan kuasa” atau kadang diteriakkan dalam yel “cerdas, kaya, berkuasa”. Awalnya, trilogi ini merupakan inovasi dari trilogi yang diadopsi dari Syaikh Abdul Qadir Jilani sebagai syarat menjadi seorang mursyid, yaitu: ilmu al-‘ulamâ’, hikmatu al-hukamâ’, wa siyâsatu al-mulûk. Kriteria hikmatu al-hukamâ’ diganti dengan amwâlu al-aghniyâ’, karena menyesuaikan situasi dan kondisi kekinian, ditambah dengan pandangan bahwa hikmah sesungguhnya adalah level di atas keilmuan. Kemudian siyâsatu al-mulûk ditambah dengan al-mala’ untuk membuat semua ujungnya berakhir dengan huruf hamzah agar lebih indah.
Trilogi yang sudah dimodifikasi oleh Pengasuh Planet NUFO, Ustadz Dr. Mohammad Nasih, M.Si. yang juga pengajar ilmu politik di FISIP UMJ dan Pascasarjana Ilmu Politik UI itu makin kokoh seiring perjalanan proses kaderisasi di Monasmuda Institute dan pendidikan di Planet NUFO. Keseriusan Abah Nasih untuk menghasilkan kader dengan tiga kriteria utama itu membuatnya tak pernah berhenti untuk mencari cara-cara baru yang lebih memudahkan untuk menguasai al-Qur’an, hadits, dan juga khazanah intelektual Islam klasik berupa kitab-kitab kuning menyesuaikan dengan perkembangan sains dan terutama teknologi yang bisa dijadikan sebagai alat bantu. Sampai akhirnya tiga surat di dalam al-Qur’an: Yusuf, al-Kahfi, dan al-Qashash dijadikan sebagai surat modal untuk bisa menguasai bahasa al-Qur’an. Bersamaan dengan itu, trilogi ilmu, harta, dan kuasa menemukan landasan ideogis yang makin mengakar.
Bagaimana lebih jelasnya? Baladenda.id melakukan wawancara eksklusif dengan Abah Nasih yang oleh para santrinya juga sering disapa dengan Abana:
Baladena: “Bagaimana cerita awal Abah Nasih menemukan trilogi ilmu, harta, dan kuasa?”
Abana: “Saya ini pengajar ilmu politik, juga aktivis politik. Saya mengajar di beberapa universitas, dan saya pernah nyaleg juga. Bekerja di lembaga politik sebagai staf ahli di Fraksi PAN DPR RI sejak tahun 2005 dan terakhir menjadi staff ahli Ketua MPR RI. Omong besarnya adalah saya tidak hanya berada di menara gading bernama kampus untuk mengamati politik. Kalau cuma begitu, pasti banyak salahnya dalam menganalisa. Saya juga ada di dalamnya. Belasan tahun bahkan. Sampai kemudian menemukan polanya. Tahu bagaimana drama politik di skenariokan dan dimainkan di panggung politik kita. Saya juga merasakan bagaimana menghadapi masyarakat kita yang tidak memungkinkan politik kita ini bersih dari praktik politik uang. Mulai dari Pilkades, Pilkada, sampai Pilpres, semua diwarnai praktik politik uang. Uang tentu diperlukan untuk berjuang, tetapi caranya bukan dengan praktik politik uang begitu. Maka saya memilih untuk melakukan pendidikan politik, yang ternyata biayanya berkali-kali lipat jauh lebih besar. Dan sampai sekarang belum berhasil merebut kekuasaan. Hahaha. Dari sinilah saya menemukan relevansi gagasan Syaikh Abdul Qadir al-Jilani tentang syarat menjadi guru thariqah atau mursyid, tak cukup hanya dengan ilmu, tetapi sampai harus menguasai ketrampilan politik para penguasa. Al-Jilani menyebut tiga itu ilmu al-‘ulamâ’ (baca: ilmu tinggi), hikmatu al-hukamâ’ (baca: kebijaksanaan para filusuf/hakim), wa siyâsatu al-mulûk (baca: kemampuan politik yang canggih). Lalu saya modifikasi sesuai dengan kebutuhan hari ini menjadi ilmu al-‘ulamâ’, amwâl al-aghniyâ’ (harta yang banyak), wa siyâsatu al-mulûk wa al-mala’. Kata al-mala’ saya ambil dari al-Qur’an, di antaranya ada di QS. Yusuf: 43 dan al-Qashash: 20 dan 38 yang artinya dengan bahasa sekarang adalah elite politik. Jadi harus punya skill politik para penguasa dan elite politik. Jadilah sebagaimana sekarang itu.”
Baladena: “Jadi, inspirasi awalnya justru malah bukan al-Qur’an ya?”
Abana: “Secara substansi al-Qur’an tentu saja. Sebab, gagasan al-Qur’an paling melekat dengan saya. Dan al-Qur’an kan telah banyak menjelaskan tentang ilmu, harta, dan juga kuasa. Ilmu bisa membuat seseorang diangkat derajatnya oleh Allah. Harta adalah sarana berjuang, bahkan disebut lebih dulu dibanding jiwa. Sedangkan kekuasaanya berfungsi untuk menolong. Maka ketika ketemu mutiara dari al-Jilani itu, saya kemudian tersentak dan nyambung dengan pemahaman saya dari al-Qur’an. Karena itu tidak saya ambil begitu saja, tidak saya comot saja bulat-bulat, tetapi saya copy paste lalu saya edit. Saya modifikasi, sehingga ada perbedaan sedikit antara yang dikatakan oleh al-Jilani dengan yang saya gunakan sekarang. Dan itu semuanya dari al-Qur’an. Dari al-Jilani hanya untaiannya saja yang menarik: ilmu, kebijaksanaan, dan ketrampilan politik. Saya ubah menjadi: ilmu, harta, dan kuasa. Kadang dibuat yel anak-anak menjadi: cerdas, kaya, berkuasa.”
Baladena: “Mantap sekali. Lalu apa yang membuat Abana mengganti yang kedua menjadi amwâl al-aghniyâ’?”
Abana: “Kata hikmah punya dua arti literal, dan juga konotasi. Bisa berarti kebijaksanaan dalam konteks level keilmuan puncak, yang artinya sama dengan sofia, yang di Yunasi melahirkan kata filosofia. Orang yang mencintainya disebut filsuf. Itu orang yang pinter banget kan? Karena pinter banget, kemudian mereka membangun strategi untuk membuat orang lain juga bisa pinter. Mereka itulah para filsuf. Ahli hikmah. Makna kedua, ini sering kita jumpai dalam kajian fikih Islam, sehingga kita mengenal istilah hakim sebagai orang yang memutuskan persoalan dengan tidak hanya melihat permukaannya saja. Diperlukan orang yang mengetahui segala aspek yang melingkupi persoalan, sehingga mampu memutuskan putusan sebuah persoalan secara adil. Sekali lagi, itu adalah level yang lebih tinggi dibanding sekedar ‘alim atau pinter saja. Maka kalau ilmu sudah sampai level ilmu para ulama’, mestinya ya jadi ahli hikmah dalam dua arti itu. Nah, yang diperlukan dalam konteks sekarang ini adalah harta yang cukup. Dan itu disebut oleh al-Qur’an. Al-Jilani belum menyebutnya. Kalau di Indonesia, yang menyebut itu HOS Cokroaminoto. Beliau bilang: setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, secukup-cukup harta, dan sepintar-pintar siasat. Ternyata lebih lengkap ya Pak Cokro. Kalau ini malah tetralogi. Tapi semurni-murni tauhid juga bisa didapatkan kalau ilmunya adalah firman sebagaimana ada dalam surat al-Najm: 28. Maka saya jadi makin yakin dengan konsepsi hasil modifikasi ini dengan saya tambahi al-mala’ di ujung, sehingga menjadi lebih indah. Orang yang ngerti balaghah baru akan paham maksud saya ini.”
Baladena: “Lalu, apa hubungannya dengan surat Yusuf, al-Kahfi, dan al-Qashash?”
Abana: “Ini awalnya lagi ya. Awalnya, saya mengajar santri di Rumah Perkaderan Monasmuda Institute Semarang, yang semuanya mahasiswa, jadi mahasantri, dengan cara sebagaimana di gunakan di pesantren kebanyakan di Indonesia. Saya paling banyak mengajar tafsir, menggunakan Tafsir Jalalain. Tapi yang perlu dicatat, saya mengajar dengan paradigma kritis. Tidak menerima semua penafsirah Syaikh Jalalain. Juga hadits. Saya mengumpulkan 40 hadits yang saya beri judul al-Arbain an-Nashihiyyah. Hadits pertamanya al-dînu al-nashihah. Seperti Imam Nawawi mengawali dengan hadits niat, nawâ. Saya hanya niru Imam Nawawi saja dalam hal menggunakan nama saya sendiri untuk kitab hadits-hadits yang saya kumpulkan. Jangan dikira karena narsis. Biasa saja itu. Hahaha. Nah, dalam proses mengajar ini, ada beberapa hal yang tidak sesuai dengan harapan saya. Di antaranya daya serap mahasantri tidak seperti yang saya bayangkan. Saya membayangkan mahasantri ini adalah saya. Mereka belajar dengan habis-habisan, dengan daya tangkap dilandasi semangat sebagaimana saya dulu mengalaminya. Lalu saya menyadari juga bahwa row material santri ini beda-beda. Latar belakangnya juga beragam. Karena itu, saya harus memilihkan materi ajar yang jika mereka pemula sekalipun, mampu memahaminya dengan mudah. Ketemulah surat Yusuf sebagai pilihan setelah melalui berbagai analisis. Isi surat ini kan kisah. Lalu, saya berpikir lagi, yang mirip dengan itu ya surat al-Kahfi dan al-Qashash. Dan setelah saya pikir-pikir lagi, ternyata ketiga surat itu cocok tidak hanya untuk belajar memahami bahasa al-Qur’an karena bahasanya sederhana, tetapi isinya juga sangat sesuai dengan visi dalam trilogi berilmu, berharta, dan berkuasa yang sudah sejak lama saya gunakan.”
Baladena: “Poin-poin apa saja yang ada dalam ketiga surat itu yang menurut Abah Nasih klop dengan trilogi visi itu yang tidak terdapat dalam surat-surat lain?”
Abana: “Di dalam surat Yusuf, kita mendapati sosok Yusuf yang untuk memikul amanat kekuasaan, dia mengandalkan basis keilmuan yang dia miliki. Lihat ujung ayat: 55. Ilmunya itulah yang membuatnya sukses mengurus harta kekayaan Mesir saat itu. Dalam keseluruhan kisah dalam surat Yusuf ini, anak-anak akan mendapatkan pelajaran tentang pentingnya ilmu, penggunaan harta untuk kehidupan bersama, dan kekuasaan untuk menolong semua orang. Dan pelajaran lain yang bisa didapatkan adalah kehidupan ini tidak hanya memberikan sesuatu yang manis, tetapi juga fase kepahitan yang harus kita jalani dengan tegar. Ada godaan cinta yang membinasaan yang kita harus mampu untuk mengendalikan diri, walaupun sebenarnya kita pasti tertarik. Ada fitnah yang harus kita jalani. Ada orang-orang, bahkan bisa saja saudara sendiri yang memusuhi karena rasa iri. Ini memberikan cakrawala yang sangat luas. Wawasan anak-anak yang masih sederhana akan diperluas dengan kisah surat ini.”
Baladena: “Lalu surat al-Kahfi?”
Abana: “Surat al-Kahfi sama-sama cerita. Hanya saja, ceritanya tidak hanya tentang satu orang atau satu keluarga, tetapi beberapa rumpun cerita, mulai dari ashhâbu al-kahfi, Dzu al-Qarnain, dan perjumpaan keilmuan Nabi Khidlr dengan Nabi Musa. Ini juga lengkap. Ada anak-anak muda yang harus menghadapi kekuasaan yang otoriter. Lalu kisah tentang penguasa yang menguasai dunia, yang penafsirannya sekarang memang makin rumit setelah muncul penafsiran Syaikh Imron Hosein dari Pakistan itu. Dan di akhir surat ada kisah tentang proses berguru Nabi Musa kepada Nabi Khidlr itu. Ditambah lagi, surat al-Kahfi ini adalah surat yang berdasarkan hadits Nabi mesti kita baca, tentu saja maksudnya kita pahami dengan baik, agar kita terbebas dari fitnah akhir zaman. Cocok sekali dengan kebutuhan sekarang. Dan di pesantren sudah ada kebiasaan membaca surat ini setiap malam Jum’at. Jadi keakraban mereka dengan surat ini saya lanjutkan dengan dorongan untuk memahaminya dengan sungguh-sungguh sebagai modal kedua.”
Baladena: “Lalu surat al-Qashash?”
Abana: “Ini surat yang berisi tentang kisah Nabi Musa menghadapi Raja Fir’aun dan Haman yang otoriter dan juga para tukang sihir yang menjadi alat kekuasaan. Perjuangannya menyelamatkan Bani Israil yang ditindas, dieksploitasi, dan disembelih. Kalau dipahami dengan baik, surat ini akan membuat para santri memiliki kesadaran politik yang baik. Kesadaran politik sangat penting kalau tidak mau jadi korban politik. Ya di sini ini pelajaran terbanyaknya. Di surat ini juga ada kisah tentang Qarun, seorang super kapitalis yang sebelumnya juga dekat dengan Nabi Musa, tetapi kemudian menjadi musuh. Popularitas Qarun ini bahkan melebihi Fir’aun dalam masyarakat kita, sampai kita memiliki istilah harta karun. Tiga surat itu sudah cukup menjadi pelajaran dasar untuk memahami pola dasar kalimat yang digunakan oleh al-Qur’an. Dengan kata lain, kalau santri-murid bisa mengartikan kalimat dalam ketiga surat itu, mereka akan mampu mengartikan secara literal keseluruhan al-Qur’an. Dari ketiga surat tersebut, juga bisa didapatkan ajaran-ajaran fundamental tentang iman dan konsekuensi memperjuangkannya. Sebab, kami berharap, santri-murid di sini, jadi pejuang-pejuang pemberani.” ***
Nabi Yusuf adalah sosok yang memiliki bekal ilmu untuk mengemban amanat kekuasaan.

