Site icon Baladena.ID

TRANSFORMASI PLANET NUFO MENJADI PESANTREN ENTREPENEUR-SOCIOPRENEUR

Pesantren dan Sekolah Alam Planet NUFO seolah tak pernah kehabisan energi untuk bergerak makin akseleratif. Walaupun dalam aspek usia terbilang masih sangat belia, tetapi berbagai catatan prestasi telah ditorehkan oleh santri-murid yang ada di dalamnya. Belum lama ini, santri-murid Planet NUFO kembali menggondol medali emas untuk lomba mata pelajaran fisika se-Kabupaten Rembang.

Kalau sebelumnya Planet NUFO selalu menggelorakan agar para santri-murid menjadi pengusaha atau entrepreneur, kini penegasan juga diberikan dengan memunculkan kata sociopreneur. Walaupun kata ini sudah sejak lama juga dijadikan sebagai topik pembicaraan, tetapi kini dijadikan sebagai kata yang resmi menjadi salah satu bagian dari visi dari pesantren yang didirikan oleh Dr. Mohammad Nasih, M.Si. di pinggiran Desa Mlagen, Kecamatan Pamotan, Kabupaten Rembang itu.
Untuk mengetahui lebih lengkap mengenai konsep tentang pesantren entrepreneur-sociopreneur yang digagas oleh dosen ilmu politik lulusan UI itu, berikut petikana hasil wawancaranya:

Baladena: “Abah Nasih, apa yang ingin dicapai dengan penambahan kata sociopreneur setelah entrepreneur yang sudah sering diperkenalkan kepada santri-murid Planet NUFO?”

Abana: “Entrepreneur kami jadikan pembeda saat awal mendirikan Planet NUFO dengan tujuan agar di dalamnya terjadi tidak hanya pengajaran ilmu pengetahuan dan pendidikan sikap hidup yang seringkali tidak jelas arahnya. Kami tegas menginginkan, dan karena itu mendorong para santri-murid agar mereka mempersiapkan diri menjadi pengusaha. Mereka harus menjadi entrepreneur yang tangguh, dengan cara memulai dari nol sejak usia sekolah. Namun, setelah kami diskusikan lagi, kalau orientasinya hanya sukses secara materi dan tidak ada visi untuk membangun komunitas atau jama’ah solid, maka rasanya tidak mantap. Kami ingin setelah yang kami berbedayakan berdaya, juga memberdayakan. Karena itu, mereka harus juga menjadi sociopreneur. Mereka harus berdaya, lalu memberdayakan generasi berikutnya”.

Baladena: “Langkah konkret apa yang telah Abana tempuh untuk mewujudkan itu?”

Abana: “Walaupun sangat kecil, saya sudah agak serius mulai pada tahun 2011 dengan mendirikan Monasmuda Institute di Semarang. Saya mengajari mereka dengan jargon “berilmu berharta berkuasa”. Namanya jargon kan harus bombastis. Dari sini, banyak lahir penulis dan kemudian setelah lulus S2 tujuh delapan tahun kemudian, mereka menjadi dosen. Ada juga yang kemudian menjalani kehidupan selain itu yang saya tidak tahu secara jelas. Daripada kurang jelas, maka angkatan 2014, yang pada saat itu sebagian besar sedang menempuh S2, saya ajak untuk mendirikan Planet NUFO dengan menjadi ustadz/ah atau guru di dalamnya. Dari sinilah, saya membayangkan bisa sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Saya mulai berharap para santri-mahasiswa bisa menjadi sahabat-sahabat saya membangun komunitas baru. Mereka bisa mengajar, mendidik, dan memberdayakan anak-anak muda belia. Di Planet NUFO, mereka tidak hanya mengajarkan teori atau amalan-amalan hidup berupa ibadah mahdlah, tetapi juga menjalani aktivitas untuk memenuhi materi untuk hidup. Mereka saya ajak untuk memberikan contoh konkret berwirausaha agar para santri-murid melihat secara langsung bagaimana mereka nanti akan menjalani hidup secara riil dan objektif.”

Baladena: “Jadi, Planet NUFO ini sebenarnya akan Abana jadikan apa?”

Abana: “Secara formal, namanya ya seperti kita baca di papan nama di depan halaman. Namun, sesungguhnya ini adalah laboratorium kehidupan makro sebagaimana masyarakat pada umumnya yang di dalamnya nanti aka nada banyak laboratorium mikro sebagaimana ada di sekolah-sekolah. Bedanya adalah masyarakat di Planet NUFO secara keseluruhan adalah masyarakat akademik. Dua puluh empat jam interaksi yang terjadi di dalamnya adalah interaksi di antara orang-orang yang terpelajar dan terus belajar. Ini adalah civitas akademika dalam arti yang sesungguhnya. Kalau lembaga pendidikan kebanyakan kan tutup sebelum hari menjadi gelap. Kalau di Planet NUFO, semua masih berinteraksi, mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali. Bahkan bisa di katakan bahwa mereka juga tetap menjalin interaksi saat tidur di dalam lingkungan akademik. Bukan hanya berinteraksi dengan sesama manusia, tetapi dengan tanaman, hewan peliharaan, bisnis, dan segala sesuatu yang mereka kerjakan untuk lingkungan hidup mereka”.

Baladena: “Interaksi dengan tanaman, hewan, bisnis, dll itu maksudnya bagaimana?”

Abana: “Saya ingin para santri-murid ini menghabiskan jatah kegagalan dalam hidup mereka. Dengan begitu, nanti mereka akan sampai kepada kesuksesan hidup. Di sini, mereka tidak hanya diajari teori atau pengetahuan belaka, tetapi benar-benar harus mempraktekkan, mulai dari yang paling mudah. Apa itu? Menanam, lalu merawat dengan baik, agar bisa memetik hasilnya. Dimulai dari menanam apa saja, bahkan yang tidak perlu modal, misalnya bunga telang yang di sini sebelum ada Planet NUFO adalah tumbuhan liar. Lalu menanam segala kebutuhan hidup sehari-hari di Palnet NUFO, di antaranya: kangkung, sawi, kelor, bayam, lombok, terong, dll kebutuhan dapur. Pokoknya harus swasembada. Makanya halaman Planet NUFO dipenuhi dengan galon yang menjadi pot berisi kangkung, sawi, dll. Kalau kelor ada juga lahan sendiri. Kurang lebih ada sebelas ribu pohon. Tapi beberapa pohon ada di kawasan tinggal santri-murid.”

Baladena: “Memang Abana sudah menyiapkan tanah seluas berapa untuk Planet NUFO?”

Abana: “Memang belum luas. Baru sekitar lima hektar. Tapi saya dan para sahabat guru mulia di sini akan selalu berusaha agar bisa terus menambah kawasan untuk Planet NUFO. Sebab, dalam jangka panjang, kami membutuhkan lahan yang sangat luas, agar komunitas yang kami impikan bisa benar-benar terwujud. Karena ini adalah lembaga pendidikan pesantren yang berambisi kuat untuk mereintegrasikan saintek ke dalam Islam, maka kami tidak hanya mengajarkan ayat-ayat qawliyah, tetapi juga ayat-ayat kawniyah. Alam semesta ini harus dipelajari. Dan untuk itu tentu saja membutuhkan laboratorium yang memadai. Agar para civitas akademika di sini bisa melakukan penelitian secara kontinue. Kawasan Planet NUFO ini termasuk kawasan kering dan tandus. Kami ingin punya hutan yang berfungsi ganda, selain untuk menangkap air juga untuk taman wisata. Embung bukan hanya untuk menampung air, tetapi juga bisa untuk wisata air dan memelihara ikan. Tanah di depan masjid Mlagen seluas hampir 2 hektar itu saya proyeksikan untuk membangun semacam edu wisata dan menjadi etalase aktivitas di Planet NUFO, mulai dari cara belajar saintek sampai berwirausaha.”

Baladena: “Ini kerja besar. Harus banyak yang terlibat mestinya. Sejauh ini pihak mana saja yang sudah terlibat?”

Abana: “Benar. Tidak mungkin saya yang sangat terbatas ini melakukannya sendiri. Untuk bisa memelihara domba, kami sudah pernah melibatkan LPM IPB Bogor dengan program dosen-mahasiswa mengabdi. Juga Fakultas Kedokteran Hewan Unair Surabaya. Untuk membuat lingkungan Planet NUFO lebih baik, pernah juga didatangkan tim dari USM Semarang. Dosen dan mahasiswa Fakultas Teknik yang memberikan panduan untuk membuat lingkungan Planet NUFO lebih tertata. Dan kami selalu terbuka kepada pihak mana pun untuk bekerjasama dan bersinergi agar sama-sama mendapatkan keuntungan. Yang pasti, kami ingin terus membangun Planet NUFO ini menjadi lingkungan yang nyaman untuk aktivitas mencerdasakan dan memberdayakan, sebab ini adalah tempat yang kami proyeksikan akan terus bertumbuh menjadi lingkungan baru dengan masyarakat akademik dalam arti yang sesungguhnya. Para ustadz/ah atau guru di Planet NUFO akan menjadi para sosiopreneur yang akan terus melahirkan sosiopreneur-sosiopreneur baru di masa depan. Kehidupan berjamaah untuk memberdayakan yang belum berdaya ini pasti akan terasa makin indah.”

Exit mobile version