Site icon Baladena.ID

Tradisi Ngupati Sapi

Ngupati Sapi

Dok. KKn UIn Ws 2020

Mantra-mantra suci ditiupkan pada ikatan ketupat. Sapi-sapi mulai mencium aroma doa. Dan ikatan ketupat mengalungi leher bersama kesejahteraan.

Biasanya, orang-orang dukuh Gunungrowo melakukan tradisi ini setelah masa panen tiba, di hari jumat pahing ucap mbah Sumiati sebagai orang yang masih melestarikan tradisi ini. Asal mula tradisi ini dilaksanakan karena pada zaman dulu sapi digunakan untuk membajak sawah. Jadi setelah panen, para petani mengadakan syukuran dan rasa terimakasih kepada Tuhan dan juga sapi  yang telah berjasa untuk membajak sawah mereka.

Ngupati sapi atau dalam Bahasa Indonesianya berarti membuat ketupat untuk sapi ini sebagai salah satu tradisi asli di kabupaten Blora, yakni sejenis dengan ritual untuk mendoakan sapi-sapi yang telah membantu pekerjaan masyarakat dalam membajak sawah. Tradisi ini diartikan sebagai memberi sedekah pada sapi dengan cara dikalungkan di leher sapi, berupa ketupat yang sudah matang dan sudah didoakan dengan mengundang tetangga dekat. Tradisi ini masih berlangsung di sebagian besar wilayah pedesaan di kabupaten Blora, contohnya di dukuh Gunungrowo, desa Sambongrejo ini.

”Mengapa hanya sapi yang dikupati? Padahal banyak hewan lain yang dipelihara masyarakat”. Alasannya hal ini dikarenakan sapi dianggap sebagai hewan rojokoyo (harta yang berharga) yang mempunyai nilai jual tinggi dan cepat berkembang sebagai simpanan kekayaan masyarakat. Terbukti jika seseorang yang mempunyai banyak sapi maka orang tersebut dianggap sebagai orang kaya. Selain alasan tersebut, sapi dapat membantu pekerjaan manusia.

Contohnya ketika musim menanam padi, sawah yang kosong dialiri dengan air yang cukup kemudian dibajak dengan sapi. Kotoran sapi bisa juga dijadikan pupuk alami tanpa harus membeli pupuk kimia. Selain itu, sapi juga bisa membantu membawa barang-barang yang berat dengan gerobak. Jadi, sapi bisa dikatakan banyak kegunaannya dalam membantu manusia dan sudah selayaknya jasa sapi itu dihargai.

Sumber dana tradisi ini berasal dari dana pribadi atau masing-masing keluarga yang memiliki sapi. Meskipun jumlah ternak yang dimilikinya banyak, tetapi jumlah ketupat dan lepet yang wajib dibuat adalah 40 buah ketupat dan 10 buah lepet. Namun mereka bisa membuat lebih untuk dimakan keluarga dan dibagikan kepada tetangganya.

Makna dan tujuan yang terkandung dalam tradisi ini sendiri bisa memberikan penghargaan atau sedekahan kepada sapi yang telah berjasa dalam membantu kegiatan manusia supaya diberi kesehatan, keselamatan, beranak-pinak menjadi banyak dan harta yang dimiliki diberkahi oleh Allah SWT. Manfaat yang diberikan dalam tradisi ini bisa mempererat tali persaudaraan antar tetangga karena membagi-bagikan ketupat kepada yang tidak merayakannya. Selain itu, doa juga dipanjatkan untuk leluhur dan masyarakat semuanya.

Tidak semua masyarakat terlibat dalam hal ini, karena orang yang tidak mempunyai sapi tidak ikut membuat ketupat dan biasanya diberi oleh tetangga yang memiliki sapi. Tradisi ini termasuk jenis ritual komunal karena kebanyakan masyarakat masih menjalankannya dan dijalankan sesuai dengan kepercayaan masyarakat sekarang. Sehingga, terdapat sedikit perbedaan dengan masyarakat dulu. Meskipun demikian tidak menghapus tradisi yang sudah ada sejak dulu, mereka yang masih melaksanakan tradisi ini, hanya saja proses pelaksanaannya yang berbeda.

Walaupun mengalami perbedaan dengan yang dilakukan masyarakat dulu, tetapi perbedaan itu tidaklah berdampak negatif, semua maksut dan tujuannya sama yaitu sama-sama berdoa, baik untuk sapinya maupun untuk warga dukuh/desa tersebut. Karena yang berbeda hanyalah tata caranya. Apa yang dilakukan masyarakat sekarang merupakan kelanjutan dari tradisi masyarakat terdahulu.

Perbedaan yang menonjol dari masyarakat dahulu dengan masyarakat sekarang yaitu di zaman masyarakat dulu, malam sebelum hari-H orang yang mempunyai sapi memasak ketupat dan lepet, pagi hari-H nya mengundang tetangga kanan-kiri untuk melaksanakan kajatan ngalungi, ketupat ditempatkan di tampah beserta lepet dan sayur lodeh, setelah berkumpul didoakan memohon kepada sang pencipta agar diberikan keselamatan kepada ternak sapinya agar sehat dan dapat berkembang biak dengan cepat dan baik, setelah didoakan ambeng ketupat dimakan Bersama, lalu yang punya hajat memandikan sapi kemudian mengambil seikat ketupat untuk dikalungkan dan diambuskan.

Apabila ambeng lebih dibagikan pada orang yang ikut kajatan tersebut, dan sapi siap diarak keliling desa Bersama sapi warga lainnya . Sedangkan di masa masyarakat yang sekarang, perbedaannya hanya sapi tidak lagi diarak keliling desa bersama sapi warga lainnya. Namun, pelaksanaannya masih sama di hari jumat pahing setalah panen padi tiba.

Semua tradisi mempunyai makna, jika tidak dipelajari maka makna itu akan diremehkan bahkan bisa juga luntur. Sehingga, perlu adanya apresiasi masyarakat dalam mendukung serta melestarikan tradisi yang telah ada.

Oleh: Aulia Fatihatul Maula, UIN WALISONGO SEMARANG.

Exit mobile version