“Kang Topik, Monggo Kopi.” Tawar kang Ahmad kepadaku ketika diriku sedang fokus dalam membisukan diri membuat hafalan
“Monggo, Kang Ahmad. Matursuwun.” Jawabku dengan singkat.
“Kang Topik shiyam?” tanya ia kembali
“Insya’allah, Kang,” timpalku
“Masya’allah. Aku kagum loh kang. Tirakatmu kenceng. Dari puasa tahunan, tahajud nggak pernah blong, jama’ah sholat selalu baris ngarep. Sebetulnya aku iri karo sampean, kok iso kuat. aku coba puasa Senin Kamis aja nggak kuat istiqomah. Ya Allah.” Puji kang Ahmad untuku.
“Kang, Tirakatku kenceng tetap saja kalah dengan kepintaran sampean dalam llmu Nahwu, Shorof, Fiqh. Ilmunya banyak apalagi sampean “Gus” pasti jadi kyai kalau pulang.” Jawabku yang sejatinya merasa minder dibandingkan dengan keilmuan yang kang Ahmad miliki.
“Pemahaman pelajaran sampean itu cepet. Mboten seperti saya yang dedel, ndak paham-paham.” Imbuhku di depan kang Ahmad.
“Waduh, sampean iki salah, ang. Dalam ilmu faraid atau mawaris gelar kyai itu nggak masuk hitungan. Dadi salah sampean. Walaupun aku Gus, tetapi kalau disini ya saya sama saja kayak yang lain. Kalau nggak belajar ya gendheng sama saja.” Jawabnya dengan guyon
“Ya udah. Tak tinggal ya. Wes wayahe aku jam setoran. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam. aku nanti nyusul, Kang.”
****
Dalam sayup-sayup kemrungsungan hati. Saya merasa tirakat yang kujalani tak juga membuahkan hasil. Saya lelah dengan segala aktiftas tirakat yang saya jalani. Apalagi yang harus saya lakukan? Sedangkan, kang ahmad dan kawan-kawan lain yang tak puasa, tahajudnya juga jarang mereka lebih pintar dari pada saya. Ya Allah. Jika tirakatku yang selama ini tak ada hasilnya lebih baik saya berhenti untuk menjalankan semua ini. Apa salah saya, Ya Allah?
“Kang,…”
“Kang Topik…”
“Kang Topik!!”
“Astaghfirullah. ya, tadz.”
“Kamu kenapa? Kok sepertinya ada yang mengganggu sampean.” Tanya ustadz Lutfi padaku
“Maaf, Ustadz. Hati saya sedang mengganjal.”
“em.. sini coba cerita. Siapa tahu saya bisa memberikan solusi.” Tawar ustadz Luthfi
(Tarik nafas dalam) “sebetulnya hal ini sudah lama mengganjal hati saya dan ingin saya ceritakan ke ustadz.” (menghela nafas) “salah saya apa ya, tadz? Saya mengaji sudah sejak lama, pelajaran sekolah saya berusaha untuk tidak pernah tertinggal, sholat tahajud setiap malam, puasa tahunan, sholat jamaah. Semua tirakat sudah saya lakukan, Tadz. Tapi kenapa saya masih gendheng, Tadz?” (sambil tersendu tak terasa air mata menetes) “Apa saya emang ndak ditakdirkan menjadi orang alim ya, tadz? Sedangkan kawan-kawan yang lain tak pernah puasa mereka lebih pintar dibanding saya, tadz. Apa saya akhir saja tirakat saya, Tadz?”
“Kang Topik, pertama luruskan niatmu sek. Niatkan tirakatmu hanya untuk Allah. Bukan karena nafsu yang kita mau. Menjadi pintar, menjadi alim, ingin melampaui teman yang lain itu semua nafsu. Masalah pinter atau ndak itu kita serahkan ke Yang Kuasa. Tugas kita yang ikhtiar dan doa.”
“seng kedua, teman-temanmu yang kelihatan pinter belum tentu mereka itu ndak melakukan amalan tirakat. Kita saja yang ndak tahu tirakatnya. Kapan mereka belajar muthola’ah, lalaran kita yang ndak tahu. Soale tirakat itu ban yak bentuknya. Tirakat itu Thariqoh artinya jalan. Jalan itu banyak. Nggak Cuma jalan yang kita ketahui saja. Ngoten”
“yang ketiga, nek menurutku oleh sampean puasa, tahajud dan sebagainya itu dilanjutkan. Mergo nopo? Mergo “al-Istiqomat ‘Ainu al-Karomah.” Istiqomah dalam kebaikan itu adalah bentuk dari karomah atau kemuliaan. Dan hakikatnya karomah itu adalah konsisten dalam menjaga sampai husnul khotimah. Ngoten nggeh, kang. Sampun?”
“Nggeh, Ustadz. insyaallah”
To be continued
Oleh: Calon Kyai

