Site icon Baladena.ID

Tips Memilih Pondok Pesantren

Baladena.id – Masa pandemi membuat para ortu menyadari bahwa mengurus anak tidak mudah. Apalagi kalau sudah sampai kepada yang lebih spesifik mengajar ilmu yang tidak kuasai. Padahal belum tentu anak menyukai bidang ilmu yang dikuasai ortu. Terlebih lagi bidang agama. Tidak banyak yang menguasainya.

Karena itu, pesantren menjadi tumpuan harapan. Pesantren bisa menjadi tempat isolasi, karena di dalamnya mereka dibatasi. Hanya bergaul dengan sesama santri. Secara umum, para santri bisa diatur untuk melakukan pembatasan pergaulan hanya dengan sesama mereka untuk mencegah tertular Covid-19.

Dewan Guru Sekolah ALam Planet Nufo Sedang Berfoto Bersama

Namun, tentu saja harus dipilih pesantren yang tidak sekedar membatasi gerak mereka. Juga harus dipastikan mereka mendapatkan pendidikan yang baik di dalamnya. Nah, ini yang sering tidak diperhatikan oleh para ortu.

Jadi apa saja yang harus diperhatikan? Ini tipsnya:

Pertama, kapasitas keilmuan pengasuhnya. Ini jika pondok adalah milik personal, bukan sebuah institusi yang impersonal. Ini perlu, karena pengetahuan dan visinyalah yang akan menjadi visi pesantren. Ini yang tidak mudah. Sebab, untuk mengukur kedalaman air, paling mudah harus menggunakan meteran. Mengukut kapasitas keilmuan orang, tentu saja harus dengan kapasitas keilmuan juga. Paling mudahnya cek pandangan-pandangan di media, baik lisan maupun tulisan, yang kini mudah didapatkan. Tinggal ketik namanya dan lembaga pendidikan yang dikelolanya. Atau rekam jejak yang pernah dilakukannya. Sesuaikan dengan harapan anak ingin apa?

Kedua, kuantitas dan kualitas pendidik pendukung. Tidak mungkin satu orang mendidik semua bidang ilmu, kepada banyak murid. Karena itu, pesantren yang baik, adalah juga yang memiliki tenaga pendidik yang solid dengan kualitas dan kuantitas yang cukup. Kualitasnya bisa dilihat dari profilnya. Bisa dilihat dari lembaga penidikan mana mereka belajar. Jika sarjana atau master, bisa dilihat terutama S1nya.

Setelah itu kuantitasnya, untuk melihat rasio guru/ustadz/ah dengan murid. Rasionya tentu tidak boleh kecil. Makin kecil rasio guru:murid, maka murid akan makin tidak terurus. Ingat, anak-anak memerlukan perhatian khusus, sesuai dengan bakat minat mereka.

Ibaratkan mereka adalah ayam, bebek, burung, tupai, ikan, katak, dll. Jika semua disuruh menyelam ke dalam air, yang itu adalah kebutuhan ikan, maka akan ada banyak yang terengah-engah, bahkan mati. Jika semua disuruh lompat di ketinggian, yang itu hanya keahlian tupai, maka akan banyak yang cidera dan patah tulang. Dan seterusnya.

Sebaliknya, jika ikan tidak perlu disuruh berenang atau menyelam. Dia akan melakukannya dengan senang. Yang diperlukan adalah air yang berkualitas dengan kandungan oksigen yang cukup. Jika anak-anak menemukan lingkungan yang baik, dengan pemandu yang berkualitas, maka bakat dan minat mereka akan berkembang dengan cepat, dan terus akseleratif.

Dalam konteks ini, memilih pesantren yang ramai, alias banyak santrinya, tidak salah, asalkan di dalamnya terdapat pendidik dengan kualitas dan kuantitas yang cukup. Cara belajar massal, alias pengajian umum, tidak bisa menjangkau secara personal.

Padahal, terutama untuk pendidikan di level dasar dan menengah, itu sangat diperlukan, bahkan sebuah keniscayaan. Pastikan, rasio guru:murid paling kecil 1:20. Ini sangat penting ditekankan karena 90 persen penentu keberhasilan pendidikan adalah guru. Fasilitas pendukung berupa gedung dll, hanya 10 persen saja. Namun, kekeliruan umum ortu dan apalagi anak, adalah melihat bangunan-bangunan yang terlihat mewah sebagai yang utama.

Ketiga, terbuka bagi semua golongan. Di masa depan, diperlukan orang-orang yang memiliki wawasan terbuka dan luas. Fanatisme akan membuat anak menjadi ibarat katak dalam tempurung. Karena itu, anak-anak harus dibiasakan dengan lingkungan yang di dalamnya terdapat keragaman, baik suku, golongan, maupun pandangan keislaman. Kebiasaan hidup dalam keberagaman akan membuat mereka siap hidup di mana saja dengan keluwesan.

Keempat, memiliki sarana pengembangan keterampilan hidup. Logika harus ditopang oleh logistik. Kekuatan intelektual akan terus berkembang jika berpadu dengan kekuatan finansial. Karena itu, anak-anak memerlukan pelatihan sejak dini dalam hal keterampilan hidup. Keterampilan inilah yang akan membuat mereka menjalani realitas kehidupan dan berkontribusi konkret. Bukankah perintah jihad di dalam al-Qur’an juga menggunakan harta? Bukan hanya jiwa saja. Bahkan harta disebut yang pertama.

Kelima, tidak terlalu dekat dengan rumah. Jika terlalu dekat dengan rumah, maka anak akan tidak konsentrasi di pesantren. Keinginan pulang bisa saja muncul setiap saat dan kemudian benar-benar melakukannya, karena terjangkau oleh transportasi lokal. Sementara mondok memerlukan kejenakan, sehingga anak menikmati proses belajar.

Dengan demikian kontinuitas transfer ilmu dan nilai bisa berlangsung, tidak terjeda oleh apa pun. Bahkan jika jarak pesantren dengan rumah jauh, kepulangan akan menjadi jarang, dan anak tidak memiliki pilihan lain selain tinggal di pesantren sampai krasan dan beradaptasi dengan lingkungan baru, sampai ia menyadari bahwa inilah yang justru ia butuhkan untuk menjalani masa depannya.

Beruntunglah orang tua yang anak-anaknya menempuh pendidikan di pesantren. Sebab, mereka bisa diharapkan menjadi SDM dengan kualitas lengkap. Siap menghadapi kehidupan, tidak hanya di dunia, tetapi juga akhirat. Bukan hanya bermanfaat untuk diri sendiri, tetapi juga orang tua, karena mereka akan mendoakan orang tua saat sudah meninggal dunia. Alangkah rugi orang tua, jika anaknya tidak memiliki kesadaran dan kemampuan untuk mendoakan. Padahal itulah di antara yang akan menambat berat timbangan amal. ***

Exit mobile version