Semarang-Baladena.id, Road to Pesantren Jilid I menjadi pembuka serangkaian kegiatan yang akan diadakan oleh Tim Kuliah Kerja Nyata Reguler Dari Rumah (KKN RDR)-75 Posko 50. Kegiatan perdana ini berlangsung pada Rabu (7/10) di Pesantren Daar al-Qalam Monash Institute Semarang dengan mengangkat tema “Aksi Peduli: Mengungkap Fakta di Balik Covid-19”.
Kunjungan pertama, road to pesantren jilid I yang dilakukan oleh kelompok ini merupakan bentuk kepedulian mereka atas konspirasi covid-19. Acara ini menghadirkan pemantik kelahiran Sukoharjo, dr. Nabil Hajar. Tim KKN RDR-75 bersinergi dengan Menteri Kesehatan dan Kebersihan (Menkeskeb) Kabinet Nova Monash Institute.
Kegiatan ini disambut baik oleh pihak pesantren. Lia Puji Lestari, Wakil Presiden Monash Institute (MI) berkata bahwa MI selalu menerima bentuk kerja sama dan sinergi, tentu hal ini untuk memajukan umat dan bangsa.
“Biasanya , orang-orang itu sulit membedakan antara kerja sama dan sinergi, dianggapnya sama saja, padahal kedua hal ini sangatlah berbeda. Kerja sama itu misal, kita memilki satu hal yang sama dalam satu bidang, kemudian kita sepakat untuk bekerja sama. Sedangkan sinergi itu, kalau kita memiliki kompetensi yang berbeda-beda, lalu bersinergi bersama. Misal Si A ahli dalam berkebun, Si B ahli dalam bidang jurnalistik, dan yang lain bersatu untuk bersinergi,” jelas Puji.
Menurut Ketua Divisi Program Lida Nasrul Amanah, tujuan kegiatan ini adalah untuk mengungkap kebenaran yang sesungguhnya tentang covid-19 yang masih menjadi momok bagi masyarakat. Sebab, ada sebagian masyarakat yang berpendapat bahwa ini hanyalah permainan pemerintah. Ia berharap, melalui acara ini, masyarakat dapat tercerahkan akan perspektif covid-19.
“Semoga acara ini dapat menjadi titik awal untuk membuka cakrawala keilmuan pada generasi milenial, sehingga apabila dijumpai kekeliruan mengenai hal tersebut, informasi ini bisa menjadi penengah di antara pemicu kesalahpahaman pengetahuan tentang covid-19,” ungkap Lida.
dr. Nabil Hajar menyampaikan bahwa generasi milenial yang hidup di masa pandemi ini perlu memilah informasi tentang kesehatan. Tentu saja hal ini bertujuan agar mereka dapat mengetahui kebenaran seputar virus ini. Ia pun merekomendasikan beberapa akun antara lain: @adamprabata, @dr.fajriaddai, dan @pandemictalks.
“Ada ribuan jurnal yang membahas tentang covid-19 yang terbit setiap hari. Kita perlu literasi sains, sebab sains kita sangat rendah. Penelitian itu setiap hari, karena sains berubah-ubah. Hal tersebut yang menyebabkan kebijakan kesehatan berubah-ubah. Kita perlu long life learning, belajar seumur hidup. Karena sains terkesan misterius-ada berbagai hal yang perlu diungkap misal virus corona-, maka muncul berita-berita yang tidak produktif,” pungkas dr. Nabil Hajar. (Red/Anaf)

