Kejayaan adalah dambaan bagi setiap orang. Namun, kenyataan berat dari kehidupan di dunia mendorong jiwa berbuat kekejian. Tak peduli lawan maupun kawan, bila ada kesempatan langsung bertindak cepat bak tak terlihat. Itulah ulah tikus berdasi, masih makan nasi tapi maunya gengsi, berjanji-janji agar bisa minum equil dan makan gurami. Jebakan tidak mempan baginya, sebab jebakannya pun makan nasi. Apa pun yang masih makan nasi akan tersihir dengan janji hitam para tikus berdasi.
Tidak beradab dan tidak punya belas kasihan, layaknya pembunuhan brutal terhadap warga. Bagaimana tidak? Sosok yang dipilih, disanjung dan dimuliakan berlaku keji, mengambil paksa hak orang miskin dan anak yatim dengan dalih proyek pembangunan. Menjadikan stigma buruk bagi pemerintah, sehingga timbul stigma buruk dalam dunia perpolitikan. Itulah tujuannya, tikus berdasi selain keji, dia juga licik. Dia suka membangun stigma pada masyarakat bahwa perpolitikan itu buruk agar mereka tetap bodoh tak tahu menahu soal politik.
Bodoh adalah variabel utama kemiskinan. Bila terlalu banyak yang bodoh, yang pintar pun jadi ikut bodoh. Akibatnya, tikus berdasi bedansa dengan tenang di atas penderitaan korban-korbannya dan lucunya korbannya tidak tahu kalau mereka menderita. Semua itu berawal dari sistem yang Secara tidak langsung, sistem demokrasi memberikan ruang lingkup yang baik, namun juga memberikan ruang seluas-luasnya bagi tikus untuk beraksi. Semua perilaku tikus berdasi penuh dengan dalih peradaban, namun hatinya penuh kotoran. Tikus berdasi perlu diberantas habis sampai ke akar-akarnya, sudah cukup bagi mereka makan dengan kenyang kemudian duduk di singgasana perwakilan rakyat.
Pencegahan lebih baik dibanding pengobatan. Pembentukan karakter sangat diperlukan dalam pemusnahan tikus-tikus berdasi, maka pendidikan adalah faktor yang penting. Pendidikan yang baik bukan hanya mengantarkan kepada buah kesukesan seseorang saja, namun juga berkontribusi dalam peningkatan mutu seseorang. Pendidikan hanya memiliki dua variabel yang nanti akan menentukan kesuksesan, variabel pertama adalah guru. Seorang guru setidaknya memiliki 4 kompetensi dasar diantaranya kemampuan peadagogi, sosial, pribadi, dan professionalitas. Selain itu guru harus sudah matang secara mental, sebab nantinya guru adalah sosok yang dijadikan contoh tauladan yang baik.
Variabel kedua adalah murid, variabel penentu keberhasilan pendidikan, terlepas dari sistem atau kurikulum apa yang digunakan, faktor IQ murid sangat berpengaruh dalam capaian pembelajaran, akan sangat efektif dan efisien bila faktor itu terpenuhi. Lalu bagaimana cara meningkatkan IQ dari murid? Dengan cara mempersiapkan generasi dengan IQ yang tinggi, generasi yang sendari awal pembuahannya, gizi Ibunya dipersiapkan dengan baik layaknya ladang yang disuburkan kembali.
Kedua variabel tadi bila saja dipenuhi, maka akan berdampak besar pada pembentukan peradaban kehidupan, mereka yang dengan IQ tinggi akan mudah memahami perspektif dan ajaran dari gurunya dengan sangat baik. Waktu yang diperlukan guru dalam menyampaikan akan semakin singkat. Waktu yang tersisa bisa dimanfaatkan untuk menjadi waktu tambahan dalam merenungi ayat-ayat ketetapan, dan secara tidak langsung akan membentuk karakter murid.
Bacaan akan sangat berguna bila saja pembacanya tahu arti dan maknanya. Maka dari itu, dalama memahami al-Quran perlu ilmu alat, agar ayat-ayat yang dihafal dapat diketahui maknanya secara detail agar tidak menjadi tikus berdasi. Ilmu alat bagaikan alat untuk memancing. Bila saja anda memancing, lebih cepat mana, menggunakan tangan atau jaring. Jadi, siapapun itu entah guru, murid, atau karyawan pun, bila memahami seluruh isi al-Quran dengan baik dan juga ilmu alatnya, maka bisa dipastikan karakternya sudah terbentuk, sebab karakter di awali oleh ilmu ketetapan, atau ilmu Allah.

