Site icon Baladena.ID

Teruntuk “Hari Ayah” Tahun Ini

Aku tak ingin mengucapkan kata-kata nan indah, dramatis, puitis, apapun itu. Aku tak ingin membawakan rangkaian kata-kata emosional dan klise. Tidak, aku tidak bisa dan tak ada. Pun jika ada, buanglah anggapan kalian jauh-jauh bahwa itu milikku. Yang terpenting, saat ini, Aku hanya ingin menelusuri ruang dan waktu, kembali merasakan rasa dari bangga, rasa dari syukur atas hak terbaik yang Tuhan anugerahkan padaku hingga saat ini.

Getir pahit dan sumbangsihnya tak kunjung berbalas, bahkan tak mampu terimbalkan, oleh siapapun itu. Tiada torehan lain, selain untuk melihat kebahagiaan keluarga kecilnya di dalam separuh hidupnya. Setidaknya, aku masih ingat beberapa patah lini masa yang terucap, kala dia berpetuah kepadaku.

Sebelum itu, terima kasih yang teramat sangat banyak, Ayah.

***

Ini langit Indonesia, bukan Manhattan. Menjadi kawah bagi awan sirrus dan limpahan biru bayi berkonjungsi di pagi hari, bukan dengan belasan unit kendaraan terbang yang berlalu-lalang membentuk awan buatan di langit gelap kelabu. Bertanah gembur, subur, yang dapat menghidupi beragam tumbuhan unik, serta beberapa binatang melata yang ada di dalam, maupun di atasnya. Bukan dengan daratan berlapis cor beton, di mana sepasang mata hanya dapat melilau gedung-gedung pencakar langit yang mencekam, mengintimidasi.

Berbudaya ramah, tamah, sopan, dan santun. Dapat dibuktikan dengan senyum, salam, dan sapa di setiap temu, entah di pasar, serambi masjid, maupun di jalanan. Berbeda dengan karakter mereka yang sudah terbiasa tak acuh tersebab kepentingan pribadi dengan urgensi yang berbeda-beda. Dari segi apapun kami berbeda. Namun, dibalik sejumlah perbedaan itu, terdapat satu kesamaan. Kami sama-sama memiliki ‘Superman’ yang luar biasa.

“Hya!!” Superman itu tiba-tiba melibas kepalaku dengan tangan kanannya, namun dengan mudah kupatahkan. Tidak sampai di sana, mematahkan libasannya bukan berarti mematahkan semangatnya. Kini tangan kanannya mengepal, hendak memukul batang hidungku dengan cepat. Lagi-lagi serangan itu dapat dengan mudah kutangkis. Segera kugenggam tangannya kuat.

“Sekarang giliran Ayah!” aku pura-pura membantingnya ke atas kasur, kedua kaki kecilnya terkunci oleh lipatan kakiku yang menekuk, tangan kiriku mengunci kedua tangannya. Superman ini mulai tak berdaya. Titik penghabisan, inilah saatnya ku mengakhiri pertarungan bersejarahku dengan Superman kecil. Bagai rudal otomatis, tangan kananku segera mencengkeram sisi perut dari Superman, ia tediam.

“Cengkraman Naga Bonar!” entah sejak kapan aku menamai jurus itu, spontan saja, walau sepertinya ampuh, jemari tangan kananku mulai bergetaran. Superman kecil itu tersentak.

“WAHAHAHAHA, GELIIIIII,” Superman kelakapan, terbahak-bahak. Tak kuat menahan cengkraman maut yang baru saja kupasang. Masih terus kupasang, sampai ia terkapar lemas di atas kasur, tak berdaya.

“Ayah jahat. Awas aja, nanti Abang balas serangan Ayah,” celetuknya sembari mengacun-acung kepalan kecilnya ke arahku. Aku terkekeh, menggodanya, lalu kembali mendekat kepadanya yang tetap merebahkan diri dengan wajah malasnya. Kutatap wajahnya lamat, sembari hati bersyukur terhadap kenyataan, Superman ini adalah buah hatiku. Kuelus wajahnya yang basah oleh peluh, penat bermain. Di sini, di sudut kamar rumah mungil yang berlokasi di Kota Cibinong, Bogor membuatku kembali teringat akan kesenangan, kemeriahan, kesedihan, orangtuaku, semuanya, masa kanak-kanakku.

***

Ini aku, dalam ingatan masa kecilku. Tinggal di atas papahan rumah mungil beratap cukup rendah, berkamar tiga. Satu untuk Buya dan Ibu, satu untuk kakakku, si Sulung Hendri, dan terakhir untukku dan saudara terkecil, Fadli. Kami hidup dalam kesejahteraaan, di mana Buya masih menjadi peternak professional, entah berapa ekor sapi, domba, ayam, soang yang ia miliki. Namun di balik kemakmuran keluarga kami, ada aku yang ikut serta mengurus ternak milik Buya. Bahkan, aku bangga saat Buya mulai memberi gelar ‘tangan kanan’ kepadaku.

Berbeda jauh dengan Bang Hendri yang kesehariannya hampir penuh terisi oleh main, main, dan main. Hampir setiap sore, setelah kami pulang sekolah bersama, teman-temannya sudah berbaris rapi di depan pagar, berkoar-koar mengimbau Bang Hendri, mengajaknya bermain.

“Hendri! Hendri!”

Yo! Ka manga wak lai?” jawab Bang Hendri menanyakan permainan apa yang akan mereka mainkan petang ini. Mereka yang berada di luar pagar mulai berunding, membentuk lingkaran kecil, sesaat, lalu kembali berbaris seperti semula.

“Main bola sepak ba’a?” tukas salah satu dari mereka menyarankan, Bang Hen tersenyum, lantas mengangguk. Aku melihat teman-temannya via jendela terbuka berteralis, mereka bergembira, tangan mereka mengepal ke udara, seolah berkata ‘yes yes’ dalam hati.

Bang Hen segera pergi ke kamar, aku hanya diam, melihat segala gerak gerik Bang Hen yang mulai sibuk mengaduk-aduk lemari, mencari sepasang baju bolanya yang sudah capai dibereskan Ibu. Setelah dapat, barulah ia segera mengganti seragam merah putih itu dengan sepasang baju bola bewarna putih biru kebanggaannya. Selepasnya, ia langsung melesat menuju pintu keluar.

“Ayo, gancang!” sahut Bang Hendri yang tetiba berbaur dengan mereka. Selang beberapa detik mereka pergi, aku dengan celana merah setengah terbuka hendak menyusul mereka.

“Baaang, tungguan Uun lah!” langkah beringsutku hendak menyusulnya, sebelum akhirnya tangan raksasa Buya menahan pintu keluar bak palang kereta api. Wajah tuanya itu terlihat sedikit marah.

Jan main-main lu! Agih sapi-sapi tu makan lai!” perintah Buya dengan suara bariton khasnya, aku lupa dengan tugas harianku untuk memberi makan ternak miliknya. Sumringah di wajahku kuncup seketika. Segera kuberganti kostum. Aku tahu, seragam lusuh, dengan topi caping buluk itu telah menungguku seharian di gantungan belakang pintu dapur.

Kandang ternak milik Buya tidak terlalu jauh dari rumah, sehingga dengan cepat aku dapat sampai ke sana. Kandangnya terbuat dari kayu jati, berarsitektur abstrak, dengan beberapa tambalan di sudur-sudut bangunannya. Denahnya pun belum begitu beraturan, di mana kawasan sapi-sapi berbadan besar dan domba-domba yang berisik berhadapan begitu dekat, seperti hendak tawuran.

Waktunya mengangon domba-domba itu ke lapangan dekat rumah, supaya mereka dapat kembali dengan perut yang gemuk. Barulah aku bisa memindahkan kotoran sapi yang sudah menumpuk itu ke lahan pisang di sebelah, selanjutnya aku dapat meletakkan rumput-rumput hasil aritan Buya ke tempat makan sapi.

Tidak ada amal yang lebih baik, daripada membahagiakan kedua orangtua. Konon, letak ridha Allah, terletak pada ridha orangtua. Itu adalah sedikit ilmu yang kudapat dari guru sekolah agamaku di surau desa. Ya, hanya sedikit, karena aku mengamalkannya. Buya pun selalu memerintahku untuk fokus di bidang akademis dan beternak. Jarang sekali aku diimbau untuk pergi sekolah agama dengan anak-anak lainnya di surau. Berbeda sekali dengan Bang Hendri yang mulai dibebaskan dengan pilihan-pilihan yang sekehendaknya.

Pertanyaan itu sering tebersit dalam pikirku, kala Buya dan Ibu melarangku untuk menekuni bidang agama barang sebentar. Padahal, menurutku, agama adalah pedoman kita dalam berkehidupan bukan? Lantas apa alasan mereka untuk mengenyahkan kesempatan-kesempatan untuk memahami dan menjalani pedoman kami?

“Sudah, yang terpenting kamu bisa jadi pegawai negeri, gaji terjamin, tunjangan di hari tua, anak dan keluarga disejahterakan negara itu sudah lebih dari cukup. Ibu tidak mau jikalau kamu nanti hanya fokus dengan agama, sehingga menelantarkan sanak, famili, bahkan keluargamu sendiri yang seharusnya kamu nafkahi, Nak,” ingin sekali ku membantah keras anggapannya, namun apa daya? Birrul walidain yang pertama.

Jiwa pemuda yang penuh dengan pemberontakan dan menggelora tak sampai di situ saja. Selang beberapa tahun, aku beranjak dewasa, walau belum sepenuhnya, masih remaja. Sekiranya, kelas satu SMA. Ya, aku masih sekolah. Setidaknya, relasi yang kumiliki, dan pemikiran yang terbendung sejak dini dapat merealisasikan impianku untuk mempelajari ilmu agama. Dimulai dari yang paling dasar, kita harus mendatangi seorang guru yang ahli dan kompeten, di mana lagi jikalau bukan di pondok pesantren?

Tentu saja, penolakan keras akan datang dari mereka, Buya dan Ibu. Sudah jelas aku menentang ajaran mereka sejak kali pertama mereka mendidikku. Mana mungkin mereka mengizinkan. Salah satu jalannya adalah dengan cara minggat diam-diam. Kali ini, aku tidak akan pergi ke tempat yang dekat-dekat saja. Aku ingin keluar dari Pulau Sumatera, aku ingin nyantren di Pulau Jawa, seperti santri-santri idaman para priyai pribumi Minang biasanya. Ya, setelah sampai, baru aku akan mengabari mereka via wartel, dan semoga saja mereka memaklumiku. Hei, aku adalah wujud dari pemuda pembaharuan. Aku independen. Ayolah, kawan.

Dibantu dengan beberapa agen dari relasi yang melimpah ruah, aku, bersama seorang temanku, Ir yang sevisi, memutuskan untuk minggat dari rumah besok dengan truk milik teman omnya, yang kebetulan mendapat pelanggan ekspedisi ke Jakarta. Pada akhirnya, peta perjalanan telah terbentuk, saatnya menjalankan rencana. Bahkan Ir sudah tak sabar dengan petualangan kami.

Keesokan paginya, aku mohon pamit kepada Buya dan Ibu.

“Buya, Ibu, Uun pamit dulu. Mau sekolah, assalamualaikum,” ujarku mengecup kedua punggung tangan mereka dengan takzim, mungkin ini untuk yang terakhir kalinya. Sebelum propaganda kecil ini mengubah arah pandangku terhadap hidup dan masa depan. Kutatap keempat mata mereka lekat-lekat. Wajah ridha itu memperkukuh keyakinanku, bahwasanya aku dapat menjalani ini semua sebagaimana mestinya. Aamiin.

Setidaknya, hari ini adalah hari terakhir namaku tercatat hadir di jurnal kehadiran kelas. Begitupun dengan Ir, namun baik sekali nasibnya, ia diberi izin oleh orangtuanya untuk melanjutkan pendidikan ke Jawa. Orangtua Ir adalah tipe orangtua yang tidak mengekang anaknya, sedia melepas bebas anaknya ke alam liar demi perkembangan yang signifikan dengan segala sepak terjang yang akan Ir tekuni, asalkan halal dan baik, mereka tak keberatan. Aku? Hei! Bukankah kita tidak boleh mengadu nasib atas pemberian Allah? Maafkan aku.

TENG TENG TENG

Bel sekolah berdentang sangat kencang, ia memecah lamunanku yang mulai jenuh menanti keberangkatan. Pada akhirnya, setelah sekian lama, senyumu tebersit kembali. Ir keluar lebih dahulu, sementara aku harus mengusaikan piket kelasku hari ini. Tentu, akan kujalani dengan lapang dada, karena ini adalah hari terakhirku menyapu, melap kaca, dan membersihkan sisa-sia peperangan kapur dan papan tulis yang terlihat usang. Selamat tinggal, kelasku. Selamat tinggal, Buya dan Ibu. Selamat tinggal, Kota Solok.

Piket kuselesaikan, segera mengambil tas dan keluar dari sekolah. Aku kembali memeriksa uang, baju ganti, dan beberapa butir alat mandi di beberapa saku tas. Syukurlah, mereka belum beranjak dari tempat seharusnya. Di luar, aku melihat kedua orangtua Ir berbicara kepada anaknya. Namun, aneh, wajah mereka tampak murung. Seperti kehilangan sesuatu yang berharga. Aku yang penasaran, segera mendekati mereka. Kebetulan, aku sudah kenal dan dekat dengan orangtuanya.

Manga, Ir? Lai jadi barangkek awak kan?” tanyaku dengan senyum yang lebar. Mereka terdiam, lantas Ir beralih ke arahku, hendak mengutarakan sesuatu.

Sepertinyo, kito indak bisa lanjuik, Un.” Tetiba, bak guntur di siang hari, membungkam kesenanganku hingga tak berkutik, bahkan melebur dengan ingar bingar suasana pulang sekolah.

Tu ba’a lai?” lanjutku penasaran. Ir terdiam sejenak.

Yang kan mambawo awak ka Jakarta tu kecelakaan di Sitinjau Lauik, Un. Tadongkak truknyo. Ndak bisa jalan awak lai do,” jelasnya menjelaskan bagaimana truk ekspedisi yang akan mengangkut kami terjerembab dan terbalik di kelokan maut Sitinjau Lauik. Aku tertegun, tak mampu berbicara apa-apa.

Sudah jatuh, tertimpa tangga. Ini menandakan, bahwasanya ridha orangtua itu sangat penting terhadap setiap langkah yang akan dipijak oleh sang anak. Tak bisa dengan sembarangan kita melanglang buana, karena tetap dalam pelanglang buanaan seorang manusia masih dibatasi dengan sebuah benteng tinggi, yakni izin Allah. Sedangkan izin Allah itu terletak dalam hati orangtua. Dalam perjalanan pulang, diantar oleh motor milik Bapak Ir, aku terus mengucap istighfar berkali-kali.

Astaghfirullahalazim..

Tak pernah terbayang kembali, bahwa aku akan melihat rumah ini dalam rentang waktu yang sangat dekat, bahkan hingga selisih hanya beberapa jam saja. Dengan langkah terseok-seok penuh kekecewaan, aku masuk ke dalam rumahku. Tetiba, Buya dan Ibu sudah menungguku dengan mata yang berkaca-kaca.

Keempat mata mereka, berkaca-kaca, mengisyaratkan rela dan kasih sayang yang tak terhingga. Tangan mereka bergetar, lantas segera kusambut dengan ketakutan, seraya bertanya dengan penuh rasa heran.

Buya, Ibu, ba’a awak manangih ko? Jan lah manangih!” tanyaku, sembari menyuruh mereka untuk berhenti menangis. Namun terlambat, tangisan itu pecah, dan menular kepadaku yang kini bersimpuh di hadapan mereka. Tiba-tiba, Buya menunjuk ke arah tumpukkan tas dan sekotak kardus yang terikat rafia. Aku terheran.

Itu baju-baju Uun samo makanan untuk perbekalan ke Jakarta. Pailah ka pesantren tu jiko Un lai bana-bana niyo,” ucap Ibu lirih. Seketika aku terjatuh, dalam simpuhan, aku tertunduk. Berusaha memahami hakikat dari orangtua, sejatinya, mereka hidup, untuk menghidupi anak-anak mereka. Sudah sepatutnya sebagai anak, berbakti kepada mereka, bukan malah menghancurkan welas asih dan membuat air mata mereka berderai. Ya Allah. Maafkan kesalahan dan dosa-dosaku yang telah kuperbuat kepada mereka.

Segera ku berdiri, lantas memeluk erat raga mereka yang sudah renta.

Indak jadi Un pai ka Jakarta do Ya, Bu. Uun akan lanjuik sebagaimano awak perintahkan ka Uun. Uun akan patuh dan berbakti kepada Buya jo Ibu,” tukasku lembut dan ikhlas, berjanji untuk tidak akan membuat setetes air mata mereka jatuh, terus kupegang janji itu hingga saat ini.

Ternyata, ridha orangtua itu adalah elemen paling penting dalam segala niat dan upaya kita untuk menjalankan suatu hal. Jika ridha mereka berkata tidak, sebagaimanapun kecerdasan kita merancang jalan dan jembatan, pasti akan runtuh berantakan jua pada akhirnya. Dari kejadian ini, aku belajar banyak, bahwasanya manajemen ridha itu penting. Manusia itu berkembang, dan akan terus berkembang dengan cara mereka sendiri. Sebagaimana yang Ki Hajar Dewantara canangkan, bahwasa sejatinya manusia itu adalah manusia yang merdeka. Manusia yang tumbuh dengan segala potensi dan kemampuan mereka.

Superman kecilku, jangan sampai kau menjadi seperti ayahmu. Kamu tidak akan aku perlakukan seperti Buya dan Ibu memerlakukanku. Kau akan merdeka, kau akan melanglang buana sebagaimana Superman bebas lepas untuk memerdekakan manusia lainnya. Kau, akan menjadi Superman versi dirimu sendiri. Aletheia Raushan Fikra Ukma, namaku tersandang di bahumu, agar kau ingat selalu, bahwa ridha­-ku selalu menyertaimu. Aletheia Raushan Fikra Ukma, terbanglah tinggi, hingga tidak ada yang dapat membatasimu untuk berinovasi dengan terobosan-terobosan jeniusmu.

 

Oleh : Aletheia Raushan Fikra Ukma, Wakil Ketua OSIS Terpilih SMAN 1 Sulang, Ketua Bidang Pengkajian Ilmu Pengetahuan (PIP) Ranting IPM Planet Nufo, Penulis 2 Buku : Mengkaji Hari, Arsip Insomnia

Exit mobile version