*Oleh: Dr. Mohammad Nasih, M.Si.
Dosen Ilmu Politik FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta, Guru Utama di Rumah Perkaderan & Tahfidh al-Qur’an Monasmuda Institute Semarang.
Frase qur’ân ‘arabiyy di dalam QS. Yusuf: 2, Thaha: 113, al-Zumar: 28, Fushshilat: 3, al-Syura: 7, dan al-Zukhruf: 3 pada umumnya termasuk oleh Depag RI diterjemahkan secara sangat dangkal dengan “al-Qur’an yang berbahasa Arab”. Demikian juga frase lisân arabiyy yang terdapat dalam al-Nahl: 103, al-Syu’ara: 195, dan al-Ahqaf: 12.
Berdasarkan beberapa rujukan klasik dan informasi dari para pakar semantik al-Qur’an, di antaranya Toshihiko Izutsu, saya memilih untuk menerjemahkan dengan “bacaan indah yang bergaya sastra Arab”. Ini sesuai dengan kenyataan nuansa sastra al-Qur’an yang sangat terasa. Dan sesungguhnya dalam tradisi pembacaan sari tilawah di acara-acara yang diadakan oleh lembaga yang berbasis Islam, nuansa sastra itu sudah ditampilkan. Karena itu, saya tertantang untuk menerjemahkan al-Qur’an secara puitis.
Sebelum ke sana, penting untuk memahami secara sekilas, apa saja ciri-ciri sebuah bacaan memiliki kualifikasi bergaya sastra Arab?
Gaya sastra Arab memiliki setidaknya enam ciri yang sangat menonjol, yaitu: Pertama, penggunaan bahasa yang sangat indah dan puitis. Tidak hanya itu, kata atau kalimat yang digunakan seringkali juga memiliki kekayaan makna, bukan hanya satu kata dengan banyak makna, tetapi juga makna yang berlapis-lapis.
Karena itulah, al-Qur’an menghasilkan banyak penafsiran yang bisa diibaratkan sebagai permata dengan banyak sisi yang masing-masing sisi memantulkan cahaya yang berwarna-wari. Bukan saling berkontradiksi, tetapi bahkan saling melengkapi.
Kedua, penggunaan metafora dan simile. Metafora dan simile digunakan untuk mengungkapkan gagasan dan emosi. Di dalam surat Yusuf terdapat contoh simile, yaitu ketika para perempuan yang tergoda kepada Nabi Yusuf mengibaratkannya sebagai malaikat yang mulia (Yusuf: 31).
Ketiga, rima dan irama. Al-Qur’an menggunakan kriteria sastra Arab klasik yang sering menggunakan rima dan irama yang ketat dalam bentuk puisi. Dalam hal ini, al-Qur’an melampaui keunggulan sastra Arab klasik, karena keindahannya tetap dipertahankan dalam kalimat-kalimat yang panjang, terutama yang terdapat dalam surat-surat Madaniyah.
Keempat, simbolisme. Sastra Arab sering menggunakan simbol-simbol untuk mengungkapkan gagasan dan emosi yang lebih dalam. Di dalam al-Qur’an banyak sekali simbolisme ini, di antaranya menggunakan symbol tanah yang baik dan tanah yang tandus yang menumbuhkan tanaman yang beda kualitas (al-A’raf: 58).
Kelima, Kisah-kisah alegoris: Sastra Arab sering menggunakan kisah-kisah alegoris untuk mengungkapkan tema dan gagasan yang lebih kompleks. Di dalam al-Qur’an juga sangat banyak kisah alegoris yang bahkan memicu multiinterpretasi, seperti kisah Nabi Musa dan Khidlr, ashhab al-kahf, dll.
Keenam, pengaruh budaya dan kepercayaan. Sastra Arab banyak dipengaruhi oleh budaya dan kepercayaan masyarakat. Karena itu, di dalam sastra Arab bisa ditemukan tema-tema tentang keberanian, keimanan, moralitas, dan spiritualitas.
Saya teringat HB Jassin yang telah melakukan rintisan untuk itu. Biasa; sesuatu yang tidak biasa dan baru sebagai pemula, hampir pasti menimbulkan pro dan kontra. Yang mendukung cukup banyak dan di antaranya dari tokok besar Buya Hamka yang bersedia memberikan pengantarnya.
Namun, HB yang mengkritik HB Jassin juga tak kalah banyak, bahkan termasuk Depag RI, karena dianggap tidak memiliki kapasitas untuk menerjemahkan. Padahal HB Jassin sesungguhnya menggunakan terjemahan Depag RI, lalu mengganti yang dianggapnya bisa membuat terjemahannya menjadi lebih puitis. Tidak ada sama sekali orientasi untuk mengubah maksudnya.
Saya cukup gembira karena cukup berhasil menerjemahkan surat al-Fatihah secara berima. Saya memulai dengan basmalah dan menggunakan versi pandangan yang menjadikannya sebagai ayat pertama. Dalam menerjemahkan ayat pertama sampai kelima, saya bergembira, karena menemuka rima yang terasa sangat serasi walau tidak bisa seragam.
Musikalisasi dan estetikanya cukup terasa. Masalah muncul ketika rima pada ayat keenam tidak saya temukan. Saya mencari di berbagai kamus dan referensi untuk mendapatkan referensi tentang sinonim kata lurus. Di dalam KBBI saya dapatkan beberapa kata yang disebut semakna, yaitu: memanjang (tanpa belokan), lempeng, tegak, benar, baik, dan sejajar. Semuanya tidak sesuai dengan rima dalam terjemahan ayat-ayat sebelumnya. Satu yang agak mendekati, yaitu: lempeng. Namun, saya merasa tidak nyaman. Mau tidak mau, inilah kata yang harus saya gunakan.
Memang tersedia kata “benar” yang walaupun rimanya berbeda jauh, tetapi lebih memberikan rasa yang sesuai. Namun, efek alegoris yang menjadi ciri gaya sastra Arab menjadi hilang.
Mari rasakan hasil terjemahan yang sudah terasa cukup puitis ini.
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
1. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
2. Segala puji bagi Allah, Pemelihara seluruh tanda pengetahuan.
الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
3. Sang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
4. Sang Penguasa Hari Pembalasan.
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
5. Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
6. Tunjukilah kami jalan yang lempeng,
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ
7. (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang melakukan kesesatan.
Ketika beranjak untuk menerjemahkan dengan nuansa puitis surat al-Baqarah, sampai pada ayat delapan, rima yang bisa dibangun terbilang cukup bagus. Namun, ketika sampai ayat sembilan, untuk mendapatkan rima yang sesuai harus sedikit dipaksakan. Inilah hasilnya:
الم
1. Alif laam miim.
ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ
2. Kitab ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang melakukan ketakwaan,
الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ
3. (yaitu) mereka yang kepada yang ghaib beriman, mendirikan sembahyang, dan dari sebagian rezeki yang kepada mereka Kami anugerahkan, mereka infakkan.
وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ
4. dan mereka yang kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu beriman, serta tentang adanya (kehidupan) akhirat, mereka berkeyakinan.
أُولَٰئِكَ عَلَىٰ هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
5. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang mendapat keberuntungan.
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ
6. Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, apakah kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak mau beriman.
خَتَمَ اللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَعَلَىٰ سَمْعِهِمْ ۖ وَعَلَىٰ أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ
7. Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka amat berat siksaan.
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ
8. Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian,” pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.
يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ
9. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak memiliki kesadaran.
فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ
10. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakit mereka; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka melakukan kedustaan.
Lalu saya berusaha mencari rumpun-rumpun ayat lain untuk menemukan kemungkinan menerjemahkannya secara puitis. Saya mencoba lima ayat pertama surat al-‘Alaq. Hasilnya ternyata tidak mudah untuk menghasilkan terjemahan dengan rima yang selaras pada dua ayat pertama.
اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ ١
1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan!
خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ ٢
2. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah.
اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ ٣
3. Bacalah! Tuhanmulah Yang Mahamulia,
الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ ٤
4. Yang mengajar (manusia) dengan pena.
عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ ٥
5. Dia mengajarkan manusia apa yang ia tidak mengetahuinya.
Belum lagi faktor-faktor lain, terutama tidak semua kata dalam bahasa Arab memiliki padanan dalam bahasa lain. Maka membaca al-Qur’an dalam bahasa aslinya, juga mengetahui maksudnya dari bahasa aslinya adalah sebuah kewajiban bagi umat Islam. Wallahu a’lam bi al-shawab.

