Site icon Baladena.ID

Andrew Rippin, Asbab al-Nuzul dan Mufassir

Andrew Rippin adalah sosok orientalis terkenal karena beberapa pemikirannya tentang Islam, salah satunya adalah artikel yang berjudul “The Function of “Asbab al-Nuzul” in Qur’anik Exegesis” yang memberikan argumentasi baru mengenai fungsi asbab al-nuzul terhadap al-Qur’an. Menurutnya, fungsi asbab an-nuzul tidak hanya semata-mata sebagai sejarah namun juga sebagai pembentuk makna al-Qur’an.

Sebagian dari ayat-ayat al-Qur’an memang butuh asbab al-nuzul untuk memahaminya. Dengan melihat sebab-sebab atau latar belakang turunnya ayat tersebut, para mufassir maupun Ulama lebih mudah mengungkap maksud dan tujuan diturunkan ayat tersebut. Asbab al-nuzul biasa didefinisikan sebagai peristiwa yang melatar belakangi diwahyukannya ayat- ayat al-Qur’an dan bukan merupakan hukum kausalitas. Dengan kata lain asbab an-nuzul bukan merupakan suatu hal yang mutlak adanya.

Dalam dunia penafsiran, Mahbub Ali menjelaskan bahwa asbab al-nuzul berfungsi sebagai kronologi untuk mempermudah kebutuhan pemahaman terhadap konteks ayat. Begitu pula Prof. Dr. Muhammad Ali ash-Shabuni yang berpendapat bahwa asbab an-nuzul adalah peristiwa atau kejadian yang menyebabkan turunnya satu ayat atau beberapa ayat mulai yang berhubungan dengan peristiwa dan kejadian tersebut, baik berupa pertanyaan yang diajukan kepada nabi atau kejadian yang berkaitan dengan urusan agama.

Bisa disimpulkan bahwa asbab an-nuzul adalah kejadian atau peristiwa yang melatarbelakangi turunnya ayat al-qur’an, dalam rangka menjawab, menjelaskan, dan menyelesaikan masalah-masalah yang timbul dari kejadian tersebut. Asbab an-nuzul merupakan bahan sejarah yang dapat di pakai untuk memberikan keterangan terhadap turunnya ayat al-Qur’an dan memberinya konteks dalam memahami perintah-perintahnya. Sudah tentu bahan-bahan ini hanya melingkupi peristiwa pada masa al-qur’an masih turun (ashr at-tanzil).

Dengan demikian, maka ayat-ayat yang turun dan berhubungan dengan masalah-masalah kisah serta hal ihwal umat terdahulu beserta para Nabi mereka, soal-soal yang berhubungan dengan alam ghaib, hari kiamat dan lain-lain tidaklah termasuk ke dalam pengertian asbab an-nuzul. Ayat-ayat yang membahasa hal tersebut hanyalah sebagai pemberi petunjuk agar Nabi Saw tetap tabah, sabar dan menempuh jalan lurus. Padahal memang diakui ayat-ayat yang disebut pada bagian terakhir ini lebih banyak jumlahnya dibandingkan dengan ayat-ayat yang termasuk dalam kategori ayat yang didahului oleh sesuatu sebab turun. Biasanya ayat-ayat al-Qur’an yang turun karena didahului oleh suatu sebab, adakalanya untuk menerangkan hal-hal yang berhubungan dengan kasus atau peristiwa dan adakalanya memberikan jawaban terhadap pertanyaan tertentu.

Andrew Rippin mulai melakukan investigasi tentang fungsi asbab al-nuzul ini karena ketidak setujuannya pada pendapat John Wansbrough yang mengatakan bahwa  fungsi asbab al-nuzul sebagaimana yang ia temukan dalam tafsir-tafsir naratif sebagai sejarah. Salah satu contohnya adalah kitab karya Muqatil. Andrew Rippin juga merasa kurang setuju mengenai pendapat Wansbrough yang hanya menyebutkan fungsi asbab al-nuzul sebagai fungsi esensial yang membentuk sejarah kronologi pewahyuan.

Berdasarkan hal di atas, Andrew Rippin kemudian mengajukan pertanyaan kepada para mufassir mengenai apa yang diselesaikan dalam cerita-cerita asbab al-nuzul? Apakah mereka (para penafsir) memberikan sejarah atau penafsiran? Apakah dalam karakternya hal itu merupakan haggadic atau halakhic penafsiran? Pertanyaan tersebut ditujukan untuk analisis literal mengenai cerita itu sendiri dan juga dengan melihat penggunaan materi tersebut di dalam teks penafsiran. Pertanyaan yang dikemukakan dalam nada ini adalah sebagai berikut, mengapa di dalam konteks sebuah karya seperti dalam karya at-Tabari materi asbab nuzul dikemukakan? Apa tujuan penafsir mengemukakan hal itu? Apa yang dia harap untuk selesai dengan melakukannya? Apa yang dia lakukan terhadap materi tersebut setelah dia mengemukakannya?

Salah satu hasil penelitian Andrew Rippin menunjukan bahwa fungsi asbab an-nuzul sering disebutkan oleh para mufassir namun tanpa kejelasan fungsi sebagai apa kehadirannya tanpa alasan dan tujuan tertentu atau hanya sebagai fenomena informasi sejarah kemudian diabaikan. Dari sini terlihat kemudian bagaimana Rippin membangun korespodensi antara kajiannya dengan realita empiris yang dihadapinya yakni realita mufassir yang hanya sebatas mengutip asbab al- nuzul untuk menunjukkan signifikasinya bukan hanya itu, perannya sangat penting dalam pembentukan makna al-Quran.

Pemikiran Rippin tentang kajian ulang atas fungsi asbab al-nuzul  memiliki peran yang sangat penting terhadap peran sentral dalam penafsiran. Buktinya dari sini kemudian banyak memberikan warna penting dalam kesarjanaan Quran di masa berikutnya, dimana asbab an-nuzul menjadi pertimbangan yang sangat mendasar dalam membentuk makna di era modern dan kontemporer hari ini, sebab jika dilepaskan dari kronologinya maka akan terjadi kesalah fahaman dalam pengambilan kesimpulan terhadap ayat al-Qur’an.

Andrew Rippin menyimpulkan bahwa asbab an-nuzul mendapat perhatian karena didasari dari keinginan Umat Islam untuk mensejarahkan teks al-Qur’an agar dapat dikatakan bahwa Tuhan benar-benar mewahyukan kitab-Nya pada manusia di dunia ini merupakan bukti perhatian Tuhan pada makhluk-Nya. Hanya saja menurut penelitiannya, Andrew Rippin menyatakan bahwa bidang ini belum mendapat perhatian serius menjadi kajian sejarah dan kontekstual teks dari kalangan umat Islam sendiri.

Asbab al-nuzul hanya dicatat dan lalu dibiarkan tanpa ada penjelasan sebab-akibat. Kesimpulan yang lainnya juga adalah bahwa asbab al-nuzul tidak berada pada zaman nabi, tapi hanya hasil rekonstruksi setelah masa Nabi SAW, dimana salah satunya adalah melalui sunnah maupun hadis, padahal keduanya dalam periwayatannya belum tentu benar dan jujur, ketika seseorang meriwayatkannya, apalagi jika mengingat rentang waktu yang berpuluhan tahun. Namun, Andrew Rippin tidak menyadari tentang teori periwayatan yang dikenal dalam dunia Islam, bahwa proses periwayatan bukan hanya secara lafdzi melainkan juga secara maknawi.

 

 

 

Exit mobile version