Apa sih IPTEK itu ?
IPTEK adalah istilah yang kerap digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu, kita perlu mempelajari IPTEK lebih mendalam. IPTEK merupakan akronim dari ilmu pengetahuan teknologi. IPTEK ikut mengiringi sejarah masa depan manusia. Bahkan, sejumlah kajian menyebutkan bahwa IPTEK ada sejak jutaan tahun yang lalu, dengan istilah yang berbeda setiap perkembanganya.
Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) di generasi Z atau generasi masa depan sangat berkembang pesat. Hal itu mempermudah kita dalam mengakses informasi dari masyarkat atau sebaliknya, hanya dengan gawai dan medsos (media social), berbagai informasi seperti berita masa kini, tempat edukasi bagi pelajar yang mencari jawaban, berdiskusi, pertanyaan atau problem dan juga sebagai literasi keilmuan bisa diakses dengan mudah.
Namun, dengan melimpah ruahnya informasi justru muncul problem baru, yaitu mengapa Indonesia ditengah era serba mudah ini masih buta huruf (Iliterasi) modern. Menurut Mengko Muhajir (mentri coordinator bidang Pembangun Kebudayaan Indonesia periode sejak 23 oktober 2019 ). Beranggapan bahwa lilitersi modern bukan berarti tidak bisa membaca dan menulis, tetapi adanya ketidakmauan untuk mengelola informasi yang masuk di ruang kesadarannya, padahal dengan informasi yang melimpah ruah ini, kita bisa belajar dengan mudah dan produktif. Hal ini, justru membuat masyarakat menjadi malas menyerap informasi secasa menyeluruh.
“Itulah yang dmaksud dengan buta huruf modern. Bukan karena tidak bisa baca dan tulis, tetapi dia tidak memiliki kemampuan” ucap mengko PMK saat memberikan sambutan kunci dalam.
Perkembangan IPTEK terbilang cukup pesat dari beragam bidang. Baik yang menggunakan mesin, bahkan Informasi berdaampak ke industrialis. Hal ini, membawa manfaat luar biasa bagi kemajuan peradaban manusia, salah satunya dalam bidang politik yaitu terjadinya proses regenerasi pemimpin. Sebagai seoarang pemimpin, kita mesti tau apa saja keadaan rakyat saat ini dan menunjukkan apa saja yang dilakukan pemimpin pada saat itu juga.
Arah gerak Kohati di era IPTEK
Tak pelak kita telah sampai pada diskursus popular terkait generasi pengguna IPTEK. Thomas l. Friedman sudah berani menyebut dunia. Seperti halnya Plato menyebutnya sekitar 2400 tahun yang lalu : the word is flat. Baginya, dunia yang mengalami globalosai bukan lagi gerakkan oleh driving force berupa Negara dan perusahaan multinasional seperti dalam globalisasi gelombang 1.0 dan 2.0 serta 3.0 melainkan oleh individu.
Teknologi Informasi lebih dahsyat dari teknoloi transportasi dalam menyederhanakan ‘jarak’ (definisi ruang waktu sekaligus). Komunikasi dan silaturahmi menjadi lebih mudah, murah dan cepat. Informasi mengalir lebih deras. Akibatnya struktur hierarki dan komando menjadi kurang bermakna. Seketika dunia menjadi mengecil dan seolah datar karena tidak lagi dibatasi oleh dinding-dinding geografis dan politis.
Kondisi korps HMI-Wati saat ini baik secara mindset maupun mekanisme dan instruktur organisasi masih belum kompatibel dengan kebutuhan orgnisasi yang dituntut untuk menguasi iptek. Dalam hal ini kohati harus menjadi pemilik narasi dominan dengan media web KOHATI, sebuah data besar ini akan menjadi penopang HMI.
Dalam hal praktik kita kader KOHATI marilah bersama sama membuat sebuah system digital untuk semua agar mempermudah aktifitas birokrasi organisasi bisa lebih cepat dan efektif mengingant pentingnya IPTEK dalam masa ini.

