Site icon Baladena.ID

Tangisan Sang Petani

Sunset, sunrise, sun over rural countryside wheat field. Late spring, early summer

Di pojok Madura, ada desa kecil yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Tak ayal jika mereka, hampir seluruh tenaga, pikiran, bahkan kadang-kadang rasa cintanya, dihabiskan di sawah (ladang).

Sebenarnya desa itu, selain di keliling belantaran sawah, adalah desa yang mewah. Bagaimana tidak. Sawahnya bergandengan satu sama lain dan rumahnya juga bergandengan. Sungguh mewah, bukan? Iya iyalah, mewah, kan rumah-rumahnya mepet sawah (mewah).

***

Meskipun lahan membentang luas, tidak lantas bisa menjamin kesejahteraan petani. Justru isak tangis yang terjadi. Coba bayangkan saja, banyak tanah menganggur karena sawah tersebut dipenuhi air. Mau dibilang rawa atau tambak, tidak tepat karena tidak bisa dijadikan sebagai budidaya ikan. Dikatan swah juga tidak bisa, karena tidak dapat ditanami padi, jangung dan lainnya. Karena genangan air tentunya.

Ayolah. Adakala kita harus tengok tentang pekerjaan yang ditekuni oleh msayarakat desa berat atau ringan, enak atau tidak, agar kita bisa berfikir rasional terhadap prilaku orang desa seperti apa. Nah, ketika sudah tahu harusnya kita renungkan”betapa melaratnya” mencari sebutir nasi dan secangkir air minum.

Sebenarnya banyak sang petani kita yang sedang membutuhkan asupan  dan didikan, lebih-lebih masyarakat desa, demi memenuhi kebutuhan keluarga, sampai-sampai ada yang menadahkan tangan, sungguh naif kehidupan ini.

Tatkala fajar tiba seiring dengan langkah untuk nafkah, bagai burung terbang menjulang ke angkasa menjelajahi gunung-gunung tujuannya adalah mencari “pakan” kemudian ia kembali ketika hendak maghrib tiba lalu ia melentangkan “sayapnya” untuk menghilangkan letih. Tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan masyarakat desa, sekuat tenaga mencari nafkah untuk kebutuhan esok hari, tidak heran ketika tidak mendapatkan sesuatu, kecewa menggodanya.

Musim penghujan, hijau rumput sepanjang jalan menyejukkan pandangan mata, rimbun pohon terlihat lebih indah. Namun, tidak seindah duka yang dialami, cuaca kurang baik, lagi-lagi gagal panen akibatnya masyarakat desa tidak menikmati hasilnya alias gagal, prihatin mendegarnya. Yang terjadi muka lesu terpampang di wajahnya sambil berucap “apalah daya tuhan belum menghendaki”.

Dari kekecewaan itu, saya terkejut melihat semangat tumbuh seketika dengan bercucuran air mata mengalir laksana sungai tidak putus asa untuk bangkit mengulang kembali kegagalan itu untuk menjadi sukses tidak kenal lelah. Termotivasi oleh “sesungguhnya sebaik-baik manusia ia yang mau berusaha”. Jika tidak mengulang kembali maka korbannya adalah “keluarga”, karena pada dasarnya hasil panen untuk kebutuhan sehari-hari.

Keluarga merupakan kunci dari segala kunci kenapa demikian kerena apapun yang kita kerjakan misalnya  kerja ke wilayah orang (Merantau) untuk memenuhi kebutuhan keluarga tidak lebih. Sejatinya masyarakat desa ingin lebih baik dari sebelumnya seperti angin yang berhembus dari berbagai arah.

Marilah kita dukung sang petani kita agar tidak ada tangisan sedih lagi, agar bangkit dari lamunannya, berilah ia semangat untuk hidup lebih baik dan menjadikan sawah-sawah petani hijau kembali dikelilingi rerimbunan bunga yang harum berserta terangnya mentari.

Jangan sesekali kita menangis, menangis tidak baik, jika kita berusaha sampai mati Insya Allah,  semoga Allah berkenan atas perjuangan kita, maka dari itu marilah senantiasa bersyukur atas nikmat Allah agar kita tidak kufur nikmat dan setiap peristiwa jadikan pelajaran berharga. Sejauh mana kita bisa menghadapi ujian, sekuat apa kita menahan terpaan angin semuanya ada dalam diri kita masing-masing yaitu hati. Wallahu a’lam.

Exit mobile version