Site icon Baladena.ID

Tanah Surga dan Krisis Petani Muda

“Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman
Bukan lautan hanya kolam susu
Kail dan jala cukup menghidupimu”
(Kolam Susu – Koes Ploes).
Indonesia pernah dikenal sebagai negara agraris. Bukan karena Koes Plus bilang “tanah kita tanah surga“, melainkan banyak penduduk di negeri ini yang bermata pencarian sebagai petani. Kondisi geografis Indonesia yang beriklim tropis dan bnyak gunung apinya membuat tanah Indonesia menjadi sangat subur. Sehingga sangat cocok menjadi negara agraris yang seagian warga negaranya berpencaharian sebagai petani.
Namun, seiring berkembangnya zaman dan perkembangan teknologi membuat terjadi pergeseran nilai dan budaya, sehingga banyak generasi muda yang enggan menjadi petani. Tentu ini menjadi masalah besar yang harus diperhatikan oleh pemerintah, pasalnya jika tidak ada regenerasi petani yang berkelanjutan akan membuat negara kita sangat bergantung terhadap negara lain. Negara kita tidak akan mampu berswasembada dalam hal produksi pangan.
Badan Pusat Statistik (BPS), profesi petani di Indonesia menurun dari 35,7 juta orang pada tahun 2018 menjadi 33,4 juta orang pada tahun 2020. Ditambah lagi, hanya 8,08% dari seluruh jumlah petani yang masih berusia muda. Ini artinya petani-petani kita sudah semakin tua, dan regenerasi kian melambat. Tak heran jika Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) memprediksi, 42 tahun mendatang Indonesia tak lagi mempunyai petani bila tren tersebut terus berlanjut.

Salah satu penyebab minimnya regenerasi petani adalah karena penghasilan menjadi petani sangat minim, belum lagi stigma masyarakat yang ditanam oleh orang tua sejak dini, “nak kamu sekolah yang bener, biar ngga jadi buruh tani, jadilah dokter yang sukses”.
Itulah doktrin yang diterima anak-anak masa kini, bahwa mereka para anak-anak di didik agar ketika besar jangan sampai hidup susah menjadi seorang buruh tani.
Melansir penelitian dari LIPI pada 2019, menurunnya minat pemuda terhadap petani disebabkan karena generasi muda melihat profesi petani tidak menguntungkan dan tidak membanggakan.

Bahkan, beberapa orang yang menyandang gelar lulusan pertanian masih enggan memilih petani sebagai pekerjaannya.
Dengan daya dukung teknologi dan kemampuan berinovasi, masih ada harapan buat kita menyelamatkan katahanan pangan Indonesia. Para generasi milenial perlu membuka matanya bahwa banyak contoh sukses para pelaku bisnis di sektor pertanian

Semoga saja pertanian Indonesia semakin maju seiring meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pertanian bagi negara kita. Mari kita buktikan kepada dunia, bahwa Indonesia mampu berdikari dan berswasembada pangan. Tidak jamannya kita impor, tapi kita harus bisa ekspor.

Salam perubahan dari Mahasiswi Ushuluddin yang peduli dengan nasib pertanian Indonesia.

Exit mobile version