Site icon Baladena.ID

Tak Melulu tentang Pendapat, Perasaan pun Layak untuk Dihargai!

Topik-topik yang menyangkut masalah perbedaan, toleransi, dan saling menghargai di masyarakat cenderung hanya berpusat pada sesuatu yang sifatnya urgent, dan memiliki dampak yang besar dalam masyarakat atau lingkup yang luas.

Sebut saja masalah yang berkaitan dengan suku, agama, dan ras atau yang akrab disebut dengan SARA. Adu argumen yang terjadi pasti akan bermuara pada titik di mana masing-masing individu diharuskan untuk menoleransi dan menghargai hal tersebut sebagai salah satu bagian dari keberagaman budaya dalam bernegara.

Namun sebenarnya jika ditelisik dari sisi yang lain lagi, problematika terkait saling menghargai ini tidak hanya diperlukan dalam topik “berat” saja. Melainkan juga harus diterapkan dalam lingkup yang lebih sederhana lagi.

Perbedaan pendapat dan pandangan dalam sebuah diskusi atau pembicaraan menjadi salah satu contohnya. Namun pada tulisan ini, contoh yang akan dibahas ialah terkait menghargai perasaan orang lain.

Perasaan? Kenapa dengan perasaan? Jadi begini, sebelum topik ini melebar semakin jauh, ada baiknya kita satukan pemahaman terlebih dahulu terkait pengertian dan jenis perasaan apa yang akan dibahas.

Akar kata dari perasaan, di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yakni “rasa”, memang memiliki banyak makna.

Namun di tulisan ini, makna kata rasa/perasaan yang dimaksud ialah tanggapan hati terhadap sesuatu (indera); rasa atau keadaan batin saat menghadapi (merasai) sesuatu.

Dalam beberapa kejadian di keseharian, kondisi emosional/perasaan batin setiap orang bersifat fluktuatif. Artinya, ada kalanya seseorang mengalami penurunan atau pelonjakan sisi emosional yang drastis (moodswing), dengan atau tanpa alasan yang disadarinya.

Jika dilihat dari segi ilmu psikologi, perasaan seseorang berada dalam lingkup internal, yang artinya perubahan itu bisa dikendalikan oleh dirinya sendiri. Namun ada yang luput kita sadari di sini, yakni perubahan perasaan yang dialami oleh seseorang juga disebabkan oleh pihak eksternal, entah dalam lingkup sempit seperti orang lain maupun dalam lingkup luas berupa kebiasaan masyarakat.

Maka, tak adil rasanya jika “beban” penanggulangan perasaan seseorang hanya ditimpakan pada satu pihak saja, sementara ada pihak-pihak lain yang mungkin sebenarnya turut andil atau bahkan menjadi penyebab utamanya.

Hanya saja terkadang “si pelaku” tidak menyadari jika perilakunya membebani perasaan seseorang. Salah satu contoh yang marak terjadi ialah kasus perundungan. Seperti apapun bentuknya, perundungan (bullying) merupakan tindakan yang tidak dibenarkan. Terlebih lagi jika dilakukan oleh orang-orang berpendidikan, yang mana seharusnya mencerminkan sikap santun dan berbudi kepada orang lain.

Lalu, apa hubungannya menghargai perasaan orang lain dengan kasus perundungan? Jika dilihat dari bentuk perundungan itu sendiri, maka akan didapati dua bentuk kekerasan, yakni kekerasan fisik dan kekerasan verbal.

Kalau bentuk pertama alias kekerasan fisik dampaknya akan jelas terlihat oleh panca indera. Sementara itu pada kasus kekerasan verbal, dampak yang ditimbulkan tentunya tak bisa dengan mudah dilihat karena yang diserang bukan pada fisiknya, melainkan perasaan dan batinnya.

Kasus verbal bullying ini kian menarik ketika si korban pada akhirnya berani untuk melawan atau melaporkan kasus ini pada pihak yang berwenang.

Lantas, seperti yang bisa ditebak, para pelaku bullying menggaungkan alibi jika perkataan bermuatan perundungan itu hanyalah candaan semata dan si korbanlah yang terlalu sensitif hingga memasukkan semua ucapan itu ke dalam hati atau baperan (bawa perasaan).

Alasan tak masuk akal dan mengada-ada seperti itu jelaslah tidak bisa diterima dan seharusnya itu bersifat mutlak.
Bercanda dan perundungan adalah dua hal yang jelas berbeda dan tidak bisa disamakan. Bahkan jika dilihat dari segi niat, bercanda dilakukan sebagai cara untuk mencairkan suasana dan mempererat interaksi.

Sementara dalam perundungan, apalagi dalam bentuk verbal, jelas mengandung unsur menjatuhkan, mempermalukan, dan menghina pihak lawan. Lantas, bagaimana bisa ucapan yang menyakitkan hati orang lain itu termasuk dalam kategori bercanda?

Dalam ajaran agama Islam, Rasulullah mencontohkan bagaimana adab becanda yang benar, yakni salah satunya tidak mengandung unsur kebohongan. Jika berbohong saja tidak boleh, apalagi jika itu berpotensi menyakitkan hati?

Meskipun apa yang diucapkan adalah suatu kebenaran, bukankah lebih baik jika mencari topik lain yang tidak berpotensi melukai? Padahal, jelas kita tahu bahwa luka batin itu terkadang sulit untuk disembuhkan dan tidak ada cara khusus untuk menanganinya.

Saya sering tidak habis pikir dengan pola pikir mereka yang dengan seenaknya mengolok-olok orang lain, membuatnya sakit hati, lalu dengan mudahnya mengucapkan kata maaf dan berdalih jika itu hanya bercanda saja. Seakan belum cukup, mereka bahkan “memaksa” korban untuk memaklumi apa yang dilakukan dan tidak seharusnya merasa sakit hati akan ucapan tersebut.

Padahal, perasaan manusia memang diciptakan dengan tingkat kesensitifitasannya masing-masing.
Jika ada seseorang yang langsung merasa sakit hati atas ucapan orang lain, seberapa benar dan bagaimanapun kalimat itu diutarakan, maka ya sah-sah saja, kan?

Perasaan sakit hati yang seseorang itu rasakan, ya itu adalah satu hal yang seharusnya diwajarkan dan tidak bisa diganggu gugat. Apalagi dianggap sebagai “sesuatu yang tak perlu” dengan alibi “terlalu sensitif ataupun baperan”.

Karena sekali lagi, tingkat kelembutan hati setiap orang itu berbeda. Bagaimana perasaan tiap-tiap orang dalam merespon sesuatu pun sudah pasti berbeda.

Maka, tak sepatutnya “memaksa” perasaan orang lain untuk sepaham dan mengeneralisasi respon mereka terhadap sesuatu. Pada intinya, setiap perasaan yang dialami oleh masing-masing individu itu adalah sesuatu yang harus kita pahami dan diwajarkan.

Entah itu ketika ia tiba-tiba merasa sedih, senang, marah, kecewa, atau bahkan sakit hati karena suatu tindakan/ucapan.

Sensitif atau tidaknya perasaan seseorang, hal itu merupakan bagian dari diri masing-masing dan harus dihargai sebagaimana mestinya. Menganggap “baperan” pada orang yang memang berperasaan lembut tentunya menciderai makna dan hakekat dari sikap saling menghargai itu sendiri.

Oleh: Rofita Ningsih, 

Exit mobile version