Indah tak selalu terlihat oleh mata sendiri, terkadang indah telah kita miliki. Sayangnya kebanyakan kita tak mengetahuinya, kita sering menganggap penampilan sebagai keindahan yang hak, memang tak salah kita menganggap penampilan itu penting, tetapi perlu digaris bawahi bahwa penampilan tak selamanya menjadi keindahan seseorang.
Penampilan adalah bagaimana pandangan diri terhadap diri sendiri dan memperlakukan diri, ketika orang lain menilai (Suyetty, 2006:6). Gaya penampilan memang diperlukan. Namun, itu bukan menjadi hal utama yang membuat orang akan berpandangan baik dan bukan pula sebagai hal penting yang akan membuat lawan jenis terpesona. Rasa minder karena penampilan terlihat kurang menarik sering dirasakan oleh kebanyakan orang, sedangkan bagi orang yang sering mendapat pujian karena wajahnya yang rupawan akan panik jika ada jerawat di mukanya, padahal hal itu normal-normal saja.
Riset mengungkapkan bahwa seseorang yang memiliki wajah rupawan akan cenderung lebih mementingkan diri sendiri, studi mengenai ini dilangsungkan di Spanyol oleh Santiago Sanchez-Pages, yang bekerja di universitas di Barcelona dan Edinburgh, dengan rekannya yang bernama Enrique Turiegano, dari Universidad Autónoma de Madrid. Mereka juga memberikan padangan bahwa orang yang memiliki wajah rupawan akan cenderung dipenuhi permintaanya oleh khalayak umum. Maka tak jarang orang yang berwajah rupawan sering dispesialkan oleh masyarakatnya sendiri.
Keindahan berupa bentuk wajah merupakan takdir yang tak bisa di ubah, sedangkan untuk keindahan berupa paras tubuh dapat diusahakan dengan sering berolahraga, tak melulu soal penampilan yang terlihat mata yang perlu diperhatikan, ada pun penampilan yang terpancar dari diri yang perlu juga diperhatikan yakni kepercayaan.
Mereka yang memiliki kepercayaan diri tinggi saat dipanggung dan saat berpidato akan terlihat sebagai seorang bintang terlepas bagaimana cara orang tersebut bepernampilan. Keindahan mereka terletak didalam kata-kata yang diucapkan, mereka yang memiliki kemampuan beretorika akan mudah mengambil hati banyak orang dengan perkataan saja.
Sangat disayangkan jika seseorang beranggapan bahwa hanya wajah rupawan yang dapat menggapai segalanya, padahal meski wajahnya rupawan dan bepenampilan menawan, jikalau saja mereka masih mudah kagum dan heran terhadap kemampuan orang, sudah dipastikan pikiran orang tersebut belum terbuka.
Lalu bagaimana langkah awal untuk memperbaiki perspektif yang dangkal tersebut? Ada beberapa tahapan langkah yang harus dibenahi orang tersebut untuk membuka kepercayaan diri mereka.
1. Pendidikan
Cara paling awal untuk membuka pikiran orang yaitu dengan membenahi pendidikan, semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin terbuka gagasan dan rasa kepercayaan dirinya akan mudah timbul. Namun, sangat disayangkan program pendidikan di negeri ini belum bisa membuat seseorang sadar, harus dibantu instansi lain seperti organisasi untuk membantu membuat pola pikir yang benar dan rasional.
2. Lingkungan
Lingkungan sosial di sekitar adalah faktor penting untuk terbentuknya pola pikir seseorang, lingkungan feodal membentuk pola pikir yang mengekang rasionalitas seseorang, lingkungan tersebut akan membentuk orang-orang yang dapat dibodohi dan ditipu, mirisnya yang menggunakan kesempatan dalam lingkungan ini adalah elit-elit politik maupun agama untuk kepentingan khusus. Terbalik dengan lingkungan egaliter yang mengedepankan visi dan memiliki landasan kebenaran yaitu Al-Quran demi menjaga kestabilan, akan membentuk pola pikir yang rasional dan visi kedepan, kepercayaan orang-orang didalamnya pun mudah muncul.
3. Orang tua yang mendukung
Orang tua adalah faktor paling utama penentu anak, mereka bisa menjadi beban atau malah menjadi pendukung penting dalam pembentukan pemikiran, tak heran jika anak dokter akan menjadi dokter dan anak seorang politisi akan menjadi seorang politisi seperti orang tuanya.
Latar belakang pendidikan dan pola pikir lah yang akhirnya menentukan pandangan seseorang, keindahan tak semua harus didasarkan pada wajah rupawan. Gagasan, kecakapan bergaul, dan kecerdasan psikologis adalah keindahan yang sejati. Jadi wajah rupawan yang seperti apa, itu hanyalah pandangan yang dapat berubah-ubah berdasarkan mata seseorang (sesuai selera). Namun, pola pikir yang sehat secara naluriah menjadi keindahan yang benar-benar diakui seluruh orang.
Oleh : Muhammad Eden Luqmanul Hakim, Mahasiswa UIN Walisongo Semarang.

