Susu beruang telah menjadi minuman popular yang sering dikonsumsi oleh masyarakat untuk menjaga kebugaran tubuh. Kini, rumor terkait makanan yang dapat membersikan paru-paru perokok kembali beredar, mulai konsumsi bahan rempah-rempah seperti jahe dan mint, hingga susu beruang. Masyarakat awam akan mudah percaya dengan rumor tersebut, padahal secara medis tidak ada hubungan antara susu beruang dengan paru-paru.
Berdasarkan data Menteri Kesehatan pada tahun 2017, Indonesia menempati peringkat kedua dari daftar pengidap penyakit TBC terbanyak di dunia. Penyakit TBC bisa disebabkan karena aktifitas merokok. Merokok menjadi aktifitas rutin masyarakat Indonesia, dari golongan remaja hingga dewasa. Akibatnya, racun yang terkandung di dalam rokok masuk ke dalam tubuh, terutama paru-paru. Racun di dalam tubuh dapat dkeluarkan oleh bulu-bulu getar ‘silia’. Akan tetapi, bulu-bulu tersebut menjadi lumpuh karena adanya paparan asap rokok. Imbasnya, tubuh perokok rentan terkena infeksi.
Asap pada rokok mampu mengiritasi saluran nafas yang berada di mukosa, sehingga apabila terjadi iritasi, maka akan menjadi merah dan membengkak. Jika sudah membengkak, artinya akan terjadi peradangan, dan radang akan menghasilkan cairan. Nah, cairan itulah yang tidak boleh ada di dalam tubuh, sehingga harus segera dikeluarkan. Lantas, bagaimana cara untuk mengelurkan cairan itu? Apakah cukup hanya dengan batuk-batuk atau dengan konsumsi susu beruang? Jawabannya, tidak.
Upaya penanganan pada perokok berat hanya bertujuan untuk dapat menolak ketika keinginan merokok muncul sewaktu-waktu. Upaya yang dapat dilakukan setidaknya ada beberapa yaitu, Pertama, dengan berhenti merokok secara bertahap. Metode ini dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung, perokok hanya dianjurkan untuk tidak merokok dalam waktu singkat, yaitu 5 sampai 10 hari. Sedangkan secara tidak langsung, pelayanan klinik Yayasan Jantung Indonesia telah menerapkan program untuk berhenti merokok selama 4 hari. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Nururrahmah, Universitas Cokroaminoto Palopo, menunjukkan bahwa program tersebut meraih hasil 88,8% perokok berhenti merokok dalam satu tahun. Kedua, menggunakan obat-obatan (Nicotine Replacement Therapy). Nikotin yang digunakan dalam terapi ini memiliki dosis rendah dalam bentuk permen atau plester. Penggunaan nikotin dilakukan dengan cara yang cukup mudah, yaitu mengunyah permen atau menempelkan plester pada kulit, dengan tujuan untuk mengatasi akibat balik dari penghentian merokok. Program ini mendapatkan hasil 58% perokok berhenti merokok setelah menggunakan nikotin selama 3 sampai 6 bulan. Ketiga, mengonsumsi makanan dan minuman yang kaya akan antioksidan, sehingga dapat menangkal radikal bebas dan mengurangi peradangan pada paru-paru. Dilansir dari The Journal of Nutrition, orang yang mengonsumsi makanan dan minuman antioksidan setiap hari dapat mengurangi resiko terkena penyakit paru obstruktif kronis. Selain itu, antioksidan juga mampu membantu melawan produksi lender, cairan, dan dahak yang ada dalam tubuh. Hal ini dijelaskan dalam International Journal of Chronic Pulmonary Disease. Keempat, rutin olahraga. Racun dari asap rokok akan terus mengendap jika tidak segera dikeluarkan. Nah, untuk mengantisipasi hal itu dapat dilakukan dengan rutin berolahraga. Dengan berolahraga, metabolisme dalam tubuh akan meningkat, sehingga tubuh akan mudah membakar nikotin yang dikeluarkan melalui keringat. Berolahraga juga mampu meningkatkan kapasitas paru-paru dan memperkuat sistem kardiovaskular. Sebaliknya, ketika anda jarang bergerak, maka tubuh akan lemah dan mampu memicu berbagai macam penyakit.
Berdasarkan beberapa penelitian di atas, belum ada penelitian yang mengungkapkan bahwa susu beruang mampu membersihkan paru-paru perokok. Susu beruang termasuk susu sapi yang diproses dengan proses sterilisasi yang baik di atas titik didih, sehingga bebas dari kontaminasi bakteri. Kandungan yang terdapat dalam susu beruang yaitu protein, kalsium, dan vitamin. Kandungan tersebut hanya membantu untuk memenuhi nutrisi tubuh dan meningkatkan sistem imun tubuh agar tidak mudah terkena virus penyakit. Akan tetapi, harus diimbangi dengan pola hidup sehat.
Wallahu a’lam bii al-Shawaab.
Oleh: Erina Febri

