MEMBANDINGKAN NABI MUHAMMAD DENGAN SIAPA?
Oleh: Dr. Mohammad Nasih
Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidh al-Qur’an Monash Institute Semarang, Pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ
Siapa yang mau dibandingkan dengan Muhammad? Memang dia manusia biasa, tetapi tidak seperti manusia pada umumnya, sebagaimana diungkapkan dalam sebuah sya’ir dengan rima yang membuat hati bergetar berakhiran r (ra’); Muhammadun basyarun laa ka al-basyar; Bal huwa ka al-yaaquutu bayna al-hajar (Muhammad adalah manusia biasa, namun bukan seperti manusia biasa lainnya, karena Ia bagaikan batu mulia merah Rubi (merah delima) di banding sembarang batu lainnya).
Bagaimana mau dibandingkan dengan manusia yang hidup setelahnya? Bahkan dibandingkan dengan para nabi sebelumnya pun, Muhammad adalah yang utama. Dia diutus sebagai penutup mereka karena ajaran yang dibawanya adalah yang paripurna. Bahkan pada akhir zaman nanti, ketika Nabi Isa turun kembali, ia pun menjadi pengikut ajarannya.
Bagaimana mau dibandingkan dengan manusia setelahnya, kalau Muhammad adalah manusia terakhir yang mendapatkan wahyu? Di dalamnya terdapat informasi dan juga pengetahuan tentang tidak hanya dunia, tetapi juga akhirat yang di dalamnya terjadi kehidupan lagi setelah kehidupan dunia. Sebagaimana dikatakan oleh Aisyah, umm al-mu’miniin, akhlaknya adalah al-Qur’an yang keseluruhan isinya adalah kebenaran. Melalui pengalaman spiritual yang diberikan kepadanya, Nabi Muhammad pernah sampai ke Sidratil Muntaha, menghadap Allah, surga dan neraka dengan segala isi di dalamnya diperlihatkan kepadanya, dan mendapatkan perintah langsung shalat lima waktu yang sampai sekarang kita saksikan dilaksanakan di masjid dan mushalla.
Dalam berdakwah, siapa yang sekuat Muhammad, menolak berbagai tawaran menggiurkan dari kaumnya. Jika dia perlu perempuan cantik, maka mereka akan sediakan untuknya. Jika dia perlu harta melimpah, maka mereka akan kumpulkan sejumlah yang diinginkannya. Jika dia perlu kekuasaan, maka mereka akan menjadikannya sebagai raja. Namun semua itu ditolaknya dengan syarat menghentikan langkahnya, sementara tugasnya adalah menyampaikan ajaran keselamatan kepada seluruh umat manusia. Jika dia menukarnyarnya, maka rahmat karenanya tidak akan lagi dirasakan isi dunia. Padahal penolakan itu bukan tanpa konsekuensi. Jika menerima, dapat banyak keuntungan duniawi. Namun, jika menolak, maka akan mengalami kerugian besar, bahkan bisa kehilangan nyawa. Dan benar saja. Karena tidak bisa diajak kompromi, maka Nabi Muhammad dan para pengikutnya diboikot bertahun-tahun sampai mereka kekurangan makanan. Harta kekayaan Khadijah, isterinya yang sangat setia, habis tak tersisa untuk menanggung semuanya. Bahkan isterinya yang pada saat awal menikah dengannya kaya rakya, meninggal dunia dalam keadaan baju yang dikenakannya penuh dengan tambalan. Itu pun Khadijah masih menawarkan, jika Nabi Muhammad hendak melakukan misi kenabian dan harus melintasi lautan, sementara tidak ada perahu yang digunakan, maka Khadijah mengijinkan tulang belulangnya digunakan sebagai gantinya. Sebuah ungkapan sangat romantis seorang istri pejuang yang rela mengorbankan apa saja, semuanya.
Siapa yang sanggup menandingi kesabaran Nabi Muhammad, ketika dia berdakwah ke Thaif, lalu dakwahnya tidak hanya ditolak, bahkan dia dilempari batu sampai berdarah-darah; tetapi ketika Malaikat Jibril menawarkan untuk membinasakan mereka, dia justru melarangnya? Alasannya hanya karena harapan anak cucu mereka nanti akan mau menerima ajaran kebenaran yang dibawa dan disampaikannya. Kalau manusia biasa seperti manusia umumnya, tawaran itu pasti sudah diterimanya sebagai sebuah kesempatan untuk melakukan pembalasan atas tindakan teramat jahat yang dialaminya.
Ancaman pembunuhan pun nyata. Wakil dari seluruh kabilah di Makkah telah dikumpulkan untuk membunuhnya pada suatu malam. Namun, Nabi Muhammad menghadapinya dengan ketenangan luar biasa. Sikap tenang itu bahkan “menular” kepada Ali, sehingga ketika diminta Nabi Muhammad tidur di tempat tidurnya, Ali pun melakukannya. Saat sudah keluar dari rumah, melewati para petugas pembunuhnya yang tertidur lelap oleh segenggam debu yang dilontarkannya, Nabi Muhammad menenangkan Abu Bakar saat mereka mengejar dan sampai pada jarak yang sangat dekat dengan Gua Tsaur dengan ungkapan sederhana tetapi dalam sekali maknanya: “Inna Allaha ma’anaa, sesungguhnya Allah bersama kita.”
Ketika sudah hijrah di Madinah dan menjadi pemimpin politik tertinggi di sana, Nabi Muhammad tidak berubah sama sekali. Kesederhanaan hidup yang sebelumnya ada padanya, tetap melekat pada dirinya. Bahkan para tamu yang belum pernah bertemu dengannya tidak bisa membedakan antara Muhammad dengan para sahabatnya, karena mereka menggunakan pakaian dengan kualitas yang nyaris sama. Padahal para raja selalu membuat pembeda dengan berbagai macam perhiasan dan terutama mahkota. Nabi Muhammad menggunakan pakaian masyarakat biasa dengan tempat tinggal bilik-bilik kecil di samping Masjid Nabawi untuk isteri-isterinya. Karena itulah, para tetamu itu selalu bertanya tentang mana yang Muhammad, karena dalam setiap perkumpulan dengan para sahabatnya terkesan tidak ada bedanya.
Namun, apa hasil dari semua yang dilakukannya? Nabi Muhammad berhasil membangun sebuah negara baru yang sangat dengan konstitusi tertulis yang mengundang decak kagum para ilmuan dan peneliti, baik muslim maupun non-muslim di dunia Barat. Oleh mereka, yang dilakukan Muhammad itu, sungguh jauh melampaui zamannya. Belum pernah dicapai oleh manusia sebelumnya. Karena itulah, orang-orang sesudahnya tidak mampu mempertahankan apa yang telah dibuat olehnya.
Ajaran kebenaran yang dibawanya kemudian diikuti oleh manusia dengan jumlah yang kian hari kian banyak. Siapa pun yang mengoptimalkan akal dan membebaskan diri dari kepentingan duniawi, dengan petunjuk Allah, pasti akan mengikuti Nabi Muhammad karena melihat kebenaran yang sangat nyata. Karena dengan mengikutinya, mereka akan mendapatkan syafa’atnya. Nah, apakah ada manusia sesudahnya yang bisa memberikan syafa’at kepada pengikutnya nanti di hari kiamat? Bahkan justru orang itulah yang nanti memerlukan syafa’atnya.
Dengan ajaran Islam yang dibawanya, Nabi Muhammad telah memberikan panduan kepada seluruh umat manusia agar mereka selamat di dunia dan juga di akhirat. Jika pun ada pemimpin di dunia ini dianggap sebagai pemimpin hebat, maka lihatlah! Dia sendiri belum tentu selamat dalam kehidupan dunia. Dan tentu saja tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi padanya dalam kehidupan di akhirat kelak.
Dalam kehidupan pribadi, Nabi Muhammad tanpa cela. Seluruh istrinya mendapatkan kemuliaan hidup, dan mereka semua memujinya. Bahkan Aisyah yang sering dijadikan bahan oleh kalangan orientalis untuk mencela Nabi Muhammad karena dinikahi pada usia paling muda, justru paling banyak memujinya. Karena kedekatan dengan Nabi Muhammad, ditambah kecerdasan yang dimilikinya, Aisyah menjadi perempuan yang paling banyak meriwayatkan hadits, dan semua berisi tentang tindakan terpuji suaminya yang mesti dilakukan oleh ummatnya. Bahkan di antaranya berisi tentang kemesraan mereka berdua yang bisa membuat pasangan mana pun ingin menirunya.
Terakhir, yang pasti tidak bisa dibandingkan dengannya, yaitu: nama Muhammad dipuji oleh miliaran orang setiap hari, tanpa putus. Dari mana datanya? Setiap muslim setiap hari menjalankan shalat lima waktu, dan karena itu minimal mengucapkan shalawat atas Muhammad sebanyak sembilan kali: dua kali dalam shalat dhuhur, ashr, maghrib, dan isya’, ditambah sekali dalam shalat shubuh. Jumlah umat Islam sedunia saat tulisan ini dibuat tidak kurang dari 1,5 miliar jiwa. Jika 2/3 saja melakukan shalat fardlu, maka, angka 9 miliar do’a baik disanjungkan kepadanya. Masih ditambah dengan banyak muslim yang percaya bahwa menyanjungkan shalawat kepadanya adalah di antara jalan keberkahan, sehingga melakukannya setiap saat sempat, bahkan berusaha menyempatkannya. Wallaahu a’lam bi al-shawab.

