Site icon Baladena.ID

“Surat Cinta Untuk Kemendikbud”

Tuan
Tolong sempatkan sedikit waktumu
Tuk sekedar membaca sepucuk surat dariku
Sang mahasiswa rantau.

Tuan
Ijinkan aku sedikit mengadu
Beberapa malam ini, hatiku risau
Karena dilanda kelaparan, bukan lagi rindu.

Beberapa kali, ibu menghubungiku
Kubilang, “Aku sudah makan kok bu” bohongku
Padahal perutku terlilit perih
Sebab berhari hari tak terisi sesuap nasi.

Aku kehilangan pekerjaan sampinganku
BBM pun tak kunjung turun
Harga bahan pokok semakin melambung tinggi
Uang pesangon pun tak ada.

Tiba-tiba, ibu menghubungiku kembali
“nak, semester nanti berhenti kuliah dulu ya”
Jiwaku gontai, hatiku perih, aku tak kuasa berkata
“Maafkan ibu nak, panen kali ini kacau”.

Tuan,
Haruskah hidupku semiris ini?
Sesuap nasi saja aku tak mampu membeli
Apalagi uang semester dengan nominal tinggi?

Mimpiku terpaksa terkubur dalam-dalam
Dengan alasan hanya rakyat pinggiran
Tuk sekedar membeli bangku
Demi sebuah ilmu.

Tuan,
Orang tuaku hanyalah seorang buruh tani
Tidak berpakaian rapi, apalagi berdasi
Makan bukan spageti, tapi hanya Sesuap nasi.

Tuan,
Aku memiliki beribu mimpi
Tapi mengapa harus terpaksa terhenti?
Dengan alasan bukan dari kalangan berdasi?

Tuan, tolong kurangi uang semester kami
Kasihan orang tua kami
Sesuap nasi saja kami tak mampu membeli
Lalu harus dengan apa kami agar tidak mati?

Apakah kami harus memakan dedaunan?
Seperti kambing tetangga?
Ataukah kami harus mengemis di pinggiran ibu Pertiwi?
Demi sebungkus nasi.

Exit mobile version