Site icon Baladena.ID

Strategi Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Pandemi

Oleh : Deta Novitasari Jayanty, Mahasiswa Jurusan Psikologi UIN Walisongo Semarang

Pandemi covid-19 yang ada di Indonesia sudah berlangsung lebih dari setahun. Persoalan pandemi ini menimbulkan berbagai macam masalah bagi Negara baik dalam bidang kesehatan maupun ekonomi. Pada kondisi ketidakpastian yang diakibatkan oleh covid-19, masyarakat harus bisa menyesuaikan diri untuk menanggulangi dua permasalahan kesehatan, yaitu kesehatan fisik dan kesehatan mental. Mengingat kesehatan fisik dan mental saling mempengaruhi dalam melakukan segala aktifitas yang dilakukan oleh masyarakat. Di era pandemi covid-19 sekarang kita dituntut untuk bekerja dan mengikuti aktifitas akademik terutama mahasiswa walaupun sejatinya tidak semua orang mau untuk mengikuti kebijakan tersebut. Akibat yang ditimbulkan wabah covid-19 menunjukkan berbagai gejala psikis seperti depresi dan gangguan kecemasan.

Mengutip data yang diperoleh dari survey METER pada Mei 2020, sebanyak 57.9% tingkat depresi di Indonesia meningkat pesat. Data tersebut didukung dengan data Perhimpunan Spesialis Dokter Kejiwaan Indonesia (PDSKJI) menyatakan bahwa 5 bulan pertama pandemi sebanyak 62% mengalami gangguan depresi. Sedangkan presentase angka gangguan kecemasan sebanyak 55% selama masa pandemi berlangsung. Dari data tersebut menunjukkan bahwa depresi dan gangguan kecemasan meningkat dengan sangat tinggi yang bisa diperparah jika tidak segera ditangani secara tepat. Tingginya angkat tersebut mengkhawatirkan karena pada pasien yang mengalami depresi maupun gangguan kecemasan terdapat keinginan untuk melakukan bunuh diri atau kondisi tertentu secara tidak langsung mempengaruhi mental yang semakin makin parah bahkan hingga mengalami penyakit skizofrenia.

Akibat pandemi covid-19 yang tidak kunjung membaik serta berbagai problematika kesehatan mental masyarakat dengan tingkat depresi dan gangguan kecemasan tergolong semakin meningkat. Mengingatkan bahwa kesehatan mental menjadi suatu hal yang sangat penting untuk dibahas. Kesehatan mental merupakan kemampuan menyesuikan diri dengan diri sendiri, orang lain dan masyarakat dimana ia hidup. Menurut Hadfield mengartikan bahwa kesehatan mental yaitu upaya seseorang dalam memelihara mental yang tetap sehat dan mencegah mental yang tidak sehat. Kesehatan mental tentunya berpengaruh pada rohani serta khususnya jasmani diri kita. Dalam mengukur kesehatan mental sendiri tidaklah mudah, tidak seperti mendeteksi atau mendiagnosa penyakit pada umumnya. Terjadinya gangguan kesehatan mental seringkali tidak disadari oleh orang-orang jika sudah terjadi untuk menyembuhkannya memerlukan waktu yang tidak dipastikan.

Faktor yang melatarbelakangi kesehatan mental biasanya disebabkan oleh faktor internal atau dalam diri sendiri maupun dari faktor eksternal yaitu dari lingkungan. Seseorang yang berpotensi mengalami gangguan kesehatan mental di tengan pandemi covid-19 adalah mereka yang sebelumnya sudah mengalami isolasi. Mengutip penelitian dari Johns Hopkins University, Amerika Serikat menyatakan bahwa orang-orang yang sebelum masa pandemic telah memiliki lingkaran sosial sudah terbatas justru lebih rentan terhadap masalah mental. Hal tersebut ditinjau dari jumlah teman atau keluarga yang dapat diajak untuk berkomunikasi ketika pandemi cenderung lebih terbatas kapasitasnya. Kesepian yang diakibatkan isolasi sosial ini juga meningkatkan risiko depresi dan gangguan kecemasan pada anak-anak dan remaja atau mahasiswa.

Kegiatan proses akademik yang berlangsung dalam pembelajaran jarak jauh justru harus lebih mendapat perhatian terkait kondisi kesehatan mental mereka. Bagi remaja dan orang dewasa yang berusia 18-24 tahun lebih banyak merasa kesepian pada masa pembatasan sosial. Perlu kita ketahui usia tersebut adalah masa dimana seseorang mengembangkan jati diri melalui proses lingkungan pertemanan. Meskipun demikian, resiko kesehatan mental covid-19 pada orang dewasa serta lanjut usia cenderung lebih kecil karena kebutuhan dalam bersosialisasi lebih sedikit dari anak-anak dan remaja. Beberapa penelitian, terdapat sejumlah faktor yang bisa menyebabkan resiko gangguan kesehatan mental antara lain, berjenis kelamin perempuan, berusia produktif yang aktif bersosial media, berpendidikan tinggi yang memiliki kesadaran pentingnya sehat mental, pendapatan berkurang hingga seseorang yang kehilangan pekerjaan akibat korban PHK di tengah pandemi covid-19.

Tanda adanya masalah kesehatan mental di masa pandemi ini memang tidak bisa dipukul rata setiap orang. Bisa terjadi antara individu satu dengan yang lain tidak sama gejalanya, tetapi beberapa kemungkinan cenderung memiliki masalah yang serupa berdasarkan dari kategori usia. Anak dan remaja cenderung memiliki gejala mudah marah, sulit diatur, mudah menangis, merasa kesepian, sulit berkonsentrasi hingga penurunan nilai akademik di sekolah. Sedangkan pada orang dewasa dan usia lanjut gejalanya seperti sering melamun, tidak nafsu makan bahkan tidak makan seharian, kurang memiliki minat dalam berkomunikasi dengan individu lain, kehabisan kreatifitas dalam beraktifitas di rumah, pola tidur tidak teratur sampai ada pemikiran untuk bunuh diri.

Untuk itu, urgensi menjaga kesehatan mental supaya kita tidak terganggu dalam beraktifitas sehari-hari meskipun di masa pandemi ini. Caranya dengan mengendalikan strees yang berlebihan, membatasi kegiatan bersosial media, menyibukan diri sendiri dengan aktifitas yang penuh kebermanfaatan, jaga kesehatan tubuh dengan berolahraga secara teratur serta menjaga gizi makanan yang sehat. Berusaha tetap menjaga komunikasi dengan keluarga dan teman terdekat sebagai upaya menjalin relasi komunikasi agar tetap utuh. Apabila seseorang terindikasi mengalami gejala gangguan mental segeralah memeriksakan diri ke dokter.

Upaya pemerintah dalam menjaga kesehatan mental masyarakat di masa pandemi juga tidak kalah penting. Supaya semakin cepat terciptanya masyarakat yang terbebas dari gangguan mental dengan kondisi masa depan yang tidak menentu sebaiknya pemerintah turut andil dalam mensukseskan program meningkatkan kesehatan mental. Pemerintah dapat berkolaborasi dengan Himpunan Psikolog Indonesia dalam membuka layanan konseling bagi mereka yang membutuhkan konsultasi kesehatan. Selain itu juga bisa dengan menggemakan gerakan atau narasi pesan yang positif secara bersama-sama dengan berbagai lembaga untuk membangun ketenangan rohani dan jasmani masyarakat.

 

 

 

Exit mobile version