Berbeda dengan yang ada di tempat-tempat lainnya, memang itulah yang terjadi di Dukuh Seren, Desa Sendangwungu, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora. Kenapa sih, warga Dukuh Seren memilih Burung Hantu Tyto Alba ? Apa yang melatarbelakangi mereka untuk memilih Burung Hantu Tersebut? dan juga Bagaimana hasilnya ?
Kelompok tani di Dukuh Seren memelihara Burung Hantu Tyto Alba untuk membasmi hama tikus yang sangat meresahkan petani. Sebelum memelihara Tyto Alba, ketika petani bercocok tanam selalu dirusak oleh tikus-tikus di sana. Seperti saat menanam jagung misalnya, ketika awal penanaman biji jagung, tikus-tikus di sawah menggali dan memakan biji-biji tersebut. Alhasil, hampir 1 lahan persawahan gagal panen dan mengalami kerugian akibat ulah tikus-tikus sawah tersebut.
Petani di Dukuh Seren juga telah menggunakan obat-obat pembasmi tikus, namun hasilnya tidak maksimal. Hingga ketika kelompok tani Subur Makmur Dukuh Seren bersama dengan beberapa kelompok tani se-Kecamatan Banjarejo melakukan studi banding ke Demak. Disini mereka belajar ilmu tentang Burung Hantu Tyto Alba yang bisa membasmi atau mengurangi populasi hama tikus di sawah. Kemudian pulang dari sana, mereka menerapkannya di Dukuh Seren.
Hal pertama yang dilakukan kelompok tani di Dukuh Seren ketika ingin menerapkan Burung Hantu Tyto Alba sebagai pembasmi tikus, mereka membuat kandang atau penangkaran untuk burung hantu Tyto Alba tersebut. Mereka awalnya kelompok tani Subur Makmur membeli 1 pasang Burung Hantu jenis Tyto Alba. Kemudian mereka mengembang biakkan burung tersebut di penangkaran.
Kemudian selang waktu 3 minggu setelah telur menetas, mereka mengambilnya untuk dimasukan ke dalam kandang atau Rubuhan (Rumah Burung Hantu). Dari situ mereka akan membiasakan hidup di rubuhan dan terbiasa hidup di sana. Meskipun dikarantina, kelompok tani Dukuh Seren tetap menjaga fungsi alami dari Tyto Alba tersebut, yakni sebagai predator pemakan tikus di alam. Mereka melatih Tyto Alba untuk menangkap dan memangsa tikus hidup di dalam rubuhan tersebut. Supaya nantinya, ketika burung-burung itu dilepaskan di sawah bisa memangsa tikus sendiri.
Kedua, setelah Serak Jawa ini dewasa dan bisa memangsa tikus sendiri, Serak Jawa ini akan dilepaskan di sawah, dan dibuatkan rumah burung hantu (rubuhan) di tengah sawah seperti pagupon. Pada tahun 2014 lalu, ketika pemasangan pertama Tyto Alba ke sawah, kelompok tani Dukuh Seren memasang 2 pasang Burung Hantu Tyto Alba. Hasilnya 1 bulan setelah pemasangan atau pelepasan Tyto Alba, serangan tikus berkurang drastis hingga 50% dan keadaan tidak separah saat sebelum pemasangan Tyto Alba.
Burung yang aktif di malam hari ini, hanya bertelur 2 kali dalam 1 tahun yaitu ketika pergantian musim. Oleh karena burung ini hanya bertelur 2 kali dalam setahun, maka diusahakan mereka bertelur sebanyak mungkin supaya dapat terus berkembang biak dan menjangkau lebih luas persawahan di sekitarnya.
Burung Hantu Putih di Dukuh Seren ini rata-rata akan menetaskan paling banyak 7 telur, dan sedikitnya 4 telur. Makanannya pun sangat berpengaruh untuk telurnya. Artinya, jika makanannya terbatas maka telurnya juga akan terbatas/sedikit, begitu pula sebaliknya jika makanannya banyak maka telurnya banyak. Oleh karena burung hantu merupakan hewan nokturnal, hewan yang tidur di siang hari dan aktif pada malam hari, maka pemeliharaannya atau waktu untuk memberi makan burung hantu yang dikarantina yakni pada saat malam hari saja.
Sampai saat ini, di Dukuh Seren sudah ada 9 rubuhan yang terpasang di berbagai titik tempat. Namun tidak tahu pasti berapa jumlah burung hantunya, karena ada yang berkembang biak dan hidup ke tempat lain. Menurut Suhartono, pengelola ternak Tyto Alba ini, 1 pasang Tyto Alba dapat mengamankan area seluas 5 hektar.
Melihat hasil yang sungguh menakjubkan itu, banyak kelompok tani dari wilayah lain yang datang untuk mempelajari dan memelihara Burung yang mempunyai wajah seperti jantung tersebut. Banyak juga dari mereka yang datang kesini untuk memesan/membeli Burung Hantu Tyto Alba, guna dikembang biakkan di wilayahnya masing-masing.
Ketika ada yang membeli atau memesan Burung Hantu Tikus tersebut, pengurus/kelompok tani Subur Makmur akan mengambil anak-anak dari Tyto Alba yang sudah berumur 3 mingguan dari rubuhan dan akan dikarantina sebelum diberikan ke pembeli. Butuh waktu 3 bulan dari umur anak-anak hingga dewasa agar Burung Hantu Tikus tersebut bisa terbiasa di rubahan dan memangsa tikus sendiri. Untuk harga sendiri, dipatok dengan harga sekitar 1 juta keatas, untuk 1 pasang, perawatan, rubuhan/kandang, dan ongkos kirim ke pembeli.
Warga masyarakat Dukuh Seren sangat senang dan terbantu, meski hanya memelihara saja. Karena untuk memelihara Burung Hantu Cantik yang dikarantina ini, dibutuhkan makanan berupa tikus, dan untuk menyediakan tikus, kelompok pengurus Burung Hantu Cantik tersebut akan mencari atau menjebak tikus di sawah para petani tadi. Sehingga tikus di sawah akan berkurang, belum lagi nanti jika sudah dewasa dan mencari tikus sendiri di sawah, warga akan sangat terbantu sekali dengan kehadirannya. Namun, jika di sawah tidak ada tikus, Burung Hantu Cantik ini akan mencari makanan/tikus di kampung.
Melihat manfaat yang sangat besar tersebut, tidak dipungkiri pasti juga ada kekurangan, kesulitan, dan atau hambatannya. Misalnya, agar makanan untuk Tyto Alba yang dikarantina tetap tersedia, kelompok tani tersebut harus susah payah kesana-kemari untuk menemukan tikus, bahkan sampai mengambil tikus yang sudah tertabrak oleh kendaraan di jalan raya karena itupun bisa jadi makanan untuk Tyto Alba yang dikarantina.
Ketika ingin mengembangkan burung hantu perak ini, diperlukan sosialisasi kepada masyarakat untuk bisa bersama-sama mengamankan burung hantu Tyto Alba. Pasalnya ada beberapa masyarakat yang berburu burung, maka dihimbau kepada mereka agar tidak memburu/menembak Tyto Alba. “Jadi kita biarkan Tyto Alba hinggap dimanapun dan pergi kemanapun. Selain itu juga untuk menghimbau warga agar mengamankan hewan peliharaannya pada malam hari, seperti kelinci kecil, marmut, agar tidak keluar dari kandangnya. Karena hewan-hewan kecil tersebut bisa jadi sasaran Tyto Alba pada malam hari ketika disawah tidak ada mangsa” ungkap Pak Suhartono yang merupakan salah satu pengelola ternak burung hantu emas tersebut.
Untuk itu, agar keseimbangan ekosistem di alam terjaga, hendaknya kita tetap menjaga binatang-binatang atau hewan predator agar konsumen dalam rantai makanan tidak meluap/berlebihan karena predatornya berkurang. Selama predator itu tidak mengganggu atau menimbulkan kerusakan atau kerugian bagi kita, kita biarkan saja. Salah satunya burung hantu pemangsa tikus, yaitu Tyto Alba.
Nama :Noval Farouk A
TTL : Blora, 3 Januari 1999
Instansi : UIN Walisongo Semarang
Jurusan : Hukum Pidana Islam Semester 7
Alamat : : Ds Plosorejo Kec Banjarejo Kab Blora
Motto : Tetap Berdoa dan Berusaha, biar Tuhan yang Menentukan

