Site icon Baladena.ID

Sering Dengar Pengajian, Tapi Tak Pintar-Pintar

Oleh: Dr. Mohammad Nasih, Pengasuh Pesantren Planet NUFO (Nurul Furqon) Mlagen Rembang; Guru Utama di Rumah Perkaderan dan Tahfidh al-Qur’an Monasmuda Institute; Pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ

Berkali-kali saya mendapatkan keluhan ini. Terlebih di era youtube yang sudah makin mudah diakses dan banyak penceramah, ustadz, kiai, ulama’, atau sebutan lainnya juga mengunggah materi pengajian mereka ke youtube. Namun, akses yang sangat mudah ini ternyata tidak menaikkan tingkat pemahaman umat Islam, utamanya di Indonesia, kepada agama mereka. Apa yang mereka dengar, bahkan dari penyampai materi yang dikenal ‘alim dalam skala internasional sekalipun, seolah hilang tanpa bekas, tak sampai hitungan bulan, tetapi bahkan hanya beberapa jam saja. Dan yang paling umum adalah mereka tidak bisa menjelaskan kembali apa yang telah mereka dengar, dan seolah-olah telah mereka pahami. Tidak bisa menjelaskan kembali apa yang telah didengar, sesungguhnya merupakan tanda utama ketidakpahaman secara utuh. Dan seolah-olah itu merupakan hal aneh, karena mereka adalah kalangan berpendidikan tinggi. Bukan hanya sarjana, tetapi juga master dan doktor.

Ini sesungguhnya bukanlah perkara aneh. Dan karena itu, bisa dijelaskan dengan penjelasan yang sangat sederhana.

Islam adalah ajaran yang bersumber dari al-Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad saw.. Al-Qur’an adalah firman Allah Swt. Yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw.. Sunnah Nabi Muhammad saw. adalah segala perkataan, tindakan, dan pembiarannya yang kemudian menjadi kebiasaan hidupnya bersama dengan para sahabatnya. Sekarang, sunnah itu karena sudah dikumpulkan melalui metodologi yang sangat ketat, bisa diakses melalui kitab-kitab hadits shahih. Kedunya, baik al-Qur’an maupun hadits, karena Nabi Muhammad saw. lahir dan menjalani kehidupannya di Arab, menggunakan bahasa Arab. Tidak hanya itu, sebagian ayat al-Qur’an dan hadits Nabi Muhammad saw. menggunakan bahasa yang hanya bisa dipahami dengan menggunakan logika dan rasa bahasa yang kuat.

Karena keduanya menggunakan bahasa Arab, bahkan al-Qur’an sendiri menyatakan bahwa bahasa yang digunakannya adalah bahasa Arab yang fasih, bukan bahasa Arab pasaran, tentu saja untuk bisa memahami ajaran Islam diperlukan penguasaan bahasa Arab tersebut. Konsep-konsep fundamental yang ada di dalam al-Qur’an tidak akan bisa ditangkap dengan mudah, tanpa mengetahui bahasa Arab. Inilah yang menjadi dasar bagi sebagian ulama’ menyatakan bahwa menguasai bahasa Arab adalah wajib ‘ain bagi setiap muslim. Sekedar contoh sederhana, konsepsi kafir baru bisa dicerna dengan baik apabila memahami makna literal awal, kemudian pergeserannya setelah kedatangan Islam, sehingga kemudian diartikan dalam bahasa Indonesia dengan orang yang mengingkari. Kata kâfir berasal dari bentuk madly (past tense) ka-fa-ra yang berarti menutupi. Konteksnya adalah menutupi benda-benda agar aman dari gangguan. Saat itu, yang paling banyak ditutupi adalah biji-bijian yang ditanam, agar tidak dimakan unggas (burung). Pelaku yang menutupi biji-biji itu tentu saja adalah petani. Jadi, makna awal kâfir adalah petani. Dan ini masih digunakan dalam bentuk jama’nya, al-kuffâr, dalam satu ayat saja dalam keseluruhan al-Qur’an:

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (al-Hadid: 20).

Setelah Islam datang, kata ini digunakan, dengan perluasan konteks, yaitu menutupi atau menyembunyikan ciri-ciri Nabi Muhammad saw. yang sudah disampaikan secara detil di dalam kitab-kitab sebelumnya, di antaranya yang dimiliki oleh ummat Yahudi dan Nashrani. Karena mereka sesungguhnya sudah mengetahui ciri-ciri rasul yang terakhir, dan bahkan mereka telah menantikannya, tetapi kemudian tidak mengakuinya karena mereka berharap dengan sangat bahwa rasul terakhir itu berasal dari kelompok mereka sendiri, maka oleh al-Qur’an, mereka disebut sebagai orang-orang kâfir. Di antara ayat yang menyebutkan konsepsi ini adalah:

لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنْفَكِّينَ حَتَّىٰ تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ

Orang-orang kafir (yang menutupi) dari golongan ahli Kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata, (al-Bayyinah: 1)

Dari contoh yang sederhana ini, bisa dipahami dengan mudah bahwa tanpa menguasai bahasa Arab, maka mustahil bisa memahami al-Qur’an secara relatif baik. Bahkan bagi kalangan sarjana, master, atau doktor, yang secara umum bisa dikatakan memiliki kemampuan berlogika yang baik. Analognya sesungguhnya juga sangat sederhana. Mahasiswa fakultas teknik tetapi tidak menguasai matematika dasar. Tentu saja akan mengalami kesulitan ketika mengikuti kuliah untuk berlatih menghitung luas kubah masjid. Karena tidak memiliki ilmu alat yang cukup, maka lama kelamaan akan mengalami kebosaan dan keluar dari kelas dalam keadaan kelelahan tanpa pemahaman. Terlebih Islam adalah bagaikan samudera yang sangat luas. Bisa dibayangkan, apabila ada orang ingin menangkap berbagai jenis ikan yang ada di dalamnya, tetapi tidak membawa perlengkapan tangkap, alias hanya bermodal tangan kosong. Bahkan untuk menangkap ikan kecil pun akan mengalami kesulitan. Jika memaksakan diri melakukannya, maka yang didapatkan hanyalah kelelahan dan pada akhirnya pulang dengan tangan hampa.

Dalam forum-forum kajian, apalagi pengajian, yang akan makin pintar adalah penyampai materi. Sebab, sebelum menyampaikannya, dia sudah berusaha menelaah sebuah tema kajian secara baik, kemudian menyampaikannya berulang-ulang di berbagai forum. Sayangnya, pada umumnya mereka tidak menyadari bahwa materi yang mereka sampaikan tidak diserap dan dipahami secara optimal oleh audiens, karena mereka tidak menguasai ilmu alat, dan yang paling dasar adalah Bahasa Arab.

Untuk menguasai bahasa Arab, terutama di era yang serba lengkap ini, sesungguhnya tidak terlalu sulit lagi. Hanya membutuhkan kesadaran, lalu diikuti dengan keseriusan, dengan target bisa memahami teks al-Qur’an dan hadits Nabi Muhamamd saw.. Sebab, tanpa penguasaan bahasa Arab yang baik, maka sekeras apa pun mempelajari Islam, pemahaman yang akan didapatkan, akan kembali terdegradasi, bagaikan Sisipus yang telah berhasil mendorong batu ke atas gunung, kemudian menggelinding lagi ke bawah, dan kejadian itu terjadi secara berulang-ulang.

Al-Ghazali memiliki perspektif yang agak berbeda dalam memahami al-Nahl: 125 dan sangat cocok digunakan oleh kalangan terpelajar dalam memahami Islam.

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (al-Nahl: 125)

Menurut al-Ghazali, ayat di atas mengelompokkan audiens menjadi tiga golongan, yaitu: pertama, kalangan elite (khawwâsh); kedua, kalangan kebanyakan (awwâm); dan ketiga, dari golongan pertama muncul golongan yang cenderung ingin berdebat. Kepada yang pertama, al-Ghazali melakukan sebagaimana dikatakan al-Qur’an, yaitu mencerahkan dengan mengajari mereka dengan standar-standar tertentu yang diperlukan. Karena mereka golongan cendekia, maka jalannya adalah hikmah atau filosofis. Kepada golongan kedua, al-Ghazali memberikan pesan-pesan kebaikan (maw’idhah hasanah) tanpa perlu berpikir mendalam. Sedangkan debat diberikan kepada orang yang suka bertengkar.

Kekeliruan fatal yang terjadi dalam forum-forum pengajian ummat saat ini adalah kaum yang sesungguhnya memiliki kecerdasan tinggi, tetapi menempatkan diri atau ditempatkan pada posisi masyarakat awam. Itulah yang menyebabkan mereka tidak pintar-pintar. Harus ada kesadaran, dan mau memulai belajar Islam dengan keseriusan dengan ilmu alat yang memadai. Wallâhu a’lam bi al-shawaab.

Exit mobile version