Oleh: Zayyan Farras Taqi M, Peserta LK2 HMI Korkom Walisongo asal Cabang Jember
Politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama mengutip Teori Klasik Aristoteles. Kemudian definisi politik di era milenial adalah Politik merupakan seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara konstitusional maupun non konstitusional. Dari deskripsi yang ada jika kita kaitkan dengan keadaan dan realita sekarang bahwasannya untuk meraih kekuasaan seseorang haruslah dapat mempengaruhi orang lain dengan seni yang dibuat oleh penguasa itu.
Dalam konteks lain dapat kita analisis juga bahwasannya setiap orang pasti memiliki jiwa politik. Dalam artian setiap individu memiliki keinginan untuk mengaplikasikan potensi yang dia miliki untuk menjadi seorang tokoh atau ditokohkan. Organisasi menjadi salah satu tempat untuk mewujudkan dua hal itu. Namun, pada saat ini banyak sekali orang yang ingin menguasai hanya untuk kepentingan diri sendiri dan memperjuangkan kepentingannya itu (politik praktis) yang menyebabkan dia melakukan sebuah seni yang tidak baik bahkan merugikan dengan menyebarkan isu-isu lawan politiknya. Kejadian inilah yang membuat keresahan bagi masyarakat. Semua orang pasti menginginkan dampak yang positif berupa kemaslahatan yang mana tidak ada kerugian dari seluruh pihak.
Ada juga seni politik bermoduskan kekayaan. Dengan memberikan dana untuk para pendukungnya. Adapun seni-seni buruk yang digunakan untuk merebut kekuasaan adalah dengan berpura-pura menjadi orang baik untuk mendapatkan empati dari masyarakat. Dalam konteks ini seorang rakyat atau sekumpulan rakyat yang terpengaruh oleh kebsikannya akan berjuang mati-matian untuk membelanya padahal masyarakat yang berjuang mendukungnya tidak mengetahui kejahatan dibalik kebaikannya. Sangat tipis sekali perbedaan kebaikan dengan keburukan jika dikaitkan dengan modus yang ketiga ini. Maka sekecil dan setipis apaun perbedaan kebaikan itulah yang harus kita cari. Seni-seni inilah yang telah menjadi budaya dikalangan pelaku politik dilingkungan kita.
Sudah menjadi tanggung jawab seluruh masyarakat Indonesia untuk mengubah atau meninggalkan kebudayaan yang buruk yang akan menghambat terwujudnya peradaban bahkan membahayakan kemanusiaan. Pada hakikatnya peradaban yang baik muncul dari personal individu yang baik. Seorang individu yang baik memiliki daya tarik atau pengaruh yang baiik. Maka seseorang itu menjadi teladan bagi masyarakat dilingkungannya yang membuat masyarakat memilihnya untuk menjadi seorang pemimpin. Dari pemimpin yang baik akan menciptakan kebudayaan yang baik pula. Sebuah budaya yang baik itu akan menyebar di lingkungan sekitarnya dan akan menjadi sebuah peradaban yang baik pula.
Krisisnya sosok uswatun hasanah bagi masyarakat Indinesia dan kalahnya orang-orang baik dalam memanagemen isu membuat Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Negeri dengan sumber daya alam yang melimpah, tanah dan lahan yang luas namun rakyat tidak sejahtera. Adanya perang asimetris menpengaruhi pola pikir masyarakat Indonesia yang sudah menjadi sasaran empuk para penjajah tanpa alut sista. Bermodalkan sebuah pengaruh pemikiran yang membuat keberpihakan masyarakat Indonesia kepada barat. Kejadian ini yang harus kita sikapi. Dengan menyaring beberapa pemikiran yang berdampak buruk yang membuat manusia tidak menggunakan fitrahnya hingga hilangnya sifat kemanusiaan pada diri manusia tersebut.

