Site icon Baladena.ID

Selamat Jalan Kafilah

Dr. Mohamad Khamim, S.H., M.H. Dosen Fakultas Hukum Iniversitas Pancasakti Tegal)

Mulai kemarin, kafilah haji Indonesia mulai berangkat ke tanah suci. Mereka mengumandangkan kalimat talbiyah, Labaikallahumma labaik, labaika laa syarika labaik. Sebuah ucapan yang sangat sakral dan menyentuh kalbu setiap orang yang melantunkan dan juga yang mendengarkan. Mereka akan datang ke tanah suci untuk menunaikan rukun Islam kelima.

Bagi umat Islam perjalanan ibadah haji itu perjalanan yang sangat berat. Rasulullah pernah menyebutkan bahwa perjalanan ibadah haji adalah perjalanan jihad tanpa senjata. Sehingga terasa sangat berat sekali. Mereka yang berangkat ke tanah suci itu hanya satu tujuannya meraih surga, dengan jalan meraih haji mabrur. Haji mabrur tiada lain balasannya selain surga. Itulah sebabnya, kalau mendengar iming-iming dari Allah, tiada satu umat Islam yang akan menampik. Sebab iming-iming Allah adalah

suatu kepastian akan dibayar tunai kelak di akhirat.

Bagi umat Islam tidak ada satu pun tempat tujuan yang hendak dicapai pada saat menjalani kehidupan yang abadi yakni surga. Dan salah satu jalan pintas adalah dengan meraih haji mabrur. Banyak cara untuk meraih haji mabrur. Selain betul-betul melaksanakan haji sesuai dengan ketentuan rukun dan wajib haji, juga berbagai faktor penunjang lainnya harus betul-betul dilakukan. Antara lain, niat untuk menunaikan ibadah haji semata-mata hanya karena Allah. Di samping itu uang yang digunakan untuk berangkat itu adalah uang yang betul-betul diperoleh dengan cara-cara yang halal.

Memang sulit untuk mengukur niat seseorang, dan mengetahui persis niat seseorang, selain dirinya dan Allah Yang Maha Mengetahui. Tapi dari berbagai indikasi-indikasi yang terjadi di tengah masyarakat, setidak-tidaknya bisa direka-reka, tuluskah niat orang itu menunaikan ibadah haji. Tidak bisa disangkal bahwa banyak di antara orang yang menunaikan ibadah haji tidak semata-mata untuk memenuhi panggilan Allah.

Ada di antara mereka yang memegang jabatan kunci di tengah lapisan masyarakat, pergi haji ditujukan untuk meraih simpati umat Islam. Haji diarahkan agar mendapat gelar “H” di depan namanya. Bahkan ada indikasi ada orang yang berangkat haji untuk menghindari pemeriksaan, mengingat kasus yang tengah menimpa dirinya. Ada juga orang yang pergi haji karena berniat ingin meninggal di tanah suci dalam keadaan berihram. Karena kalau orang menemukan kematian saat berpakaian ihram, kelak akan dibangkitkan dari kubur dengan pakaian yang dikenakan.

Berbagai niat seperti itu sah-sah saja. Niat terlihat, setelah mereka pulang dari ibadah haji. Begitu juga mabrur atau tidak juga dapat terlihat secara transparan dalam aktivitas keseharian. Ukuran mabrur atau tidak pun dapat terlihat dari ukuran-ukuran standar. Misalnya, apakah setelah pulan haji aktivitas ibadahnya makin naik atau makin turun.

Apakah rasa solidaritas dan keterpanggilan mereka untuk menangani masalah sosial makin meningkat atau tidak. Dan terakhir apakah dalam keseharian makin giat memasyarakatkan salam. Kalau jawabnya semua ada peningkatan, maka orang tersebut bisa diindikasikan meraih haji mabrur. Barangkali tiada salahnya sambil mengantar orang yang pergi haji kita titipan pesan, untuk menjaga nama baik bangsa Indonesia yang kini citranya tengah terpuruk. Doakan kami yang ditinggalkan agar dapat segera keluar dari berbagai krisis yang melanda.

*Dikutip dari berbagai sumber.

 

 

 

Exit mobile version