Site icon Baladena.ID

Sejak Dini

Baladena.ID/Istimewa

Manusia tidak pernah tahu akan alasan rasional apa yang Tuhan tentukan kala hendak menciptakan wujud mereka, sehingga manusia acap kali berasumsi tentang apa fungsi mereka terhadap hegemoni semesta. Terbentuk dari indah, cerah, paripurna atau tercipta dari bercak hitam, gagal, penuh celaka. Tunggu sebentar, bukankah Tuhan adalah perlambang dari kesempurnaan, dan semua yang Ia ciptakan adalah sempurna? Bahkan menjadi suatu keanehan, jikalau makhluk-Nya tercipta dengan kekosongan, pun tiada angannya.

Bermula dari sebuah ketiadaan, hitam, hingga tercipta materi penghidup (tanah), yang kemudian Ia bubuhkan secuil bagian tersuci seantero alam semesta, bagian dari-Nya, ruh nan putih perlambang suci. Dia tanamkan pula pada sebuah alam yang telah dipersiapkan bagi mereka, Alam Ruh. Disertai dengan sekian milyar ruh lain yang seperihal.

Aku pernah melihat banyak sekali gambar ajaib di beberapa sumber, tentang ilustrasi alam yang suci, Alam Ruh. Laksana hamparan luas, subur, kaya akan zat hara. Di mana rerumputan lembut semata kaki padat memenuhi permukaan, bahkan tidak terlihat sedikitpun butir dari tanah yang menjorok keluar. Di tengah-tengah, tumbuh sebatang pohon bak sahabi raksasa yang rembusai dedaunannya mampu menaungi seluruh dunia. Sedang ruh-ruh itu berselesa di bawah keteduhannya. Penuh rasa nyaman dan kekal abadi.

Hingga pada suatu waktu, sesuatu yang mustahil untuk mereka ekspektasikan, pada akhirnya, datang menghampiri. Sebuah wujud berkelebat kilat memanggil beberapa ruh yang terus berdiam dalam persemayaman mereka. Ia hendak menyampaikan pesan suci dari Tuhan. Secarik pesan krusial, sangat berpengaruh pada keseimbangan alam semesta.

“Wahai, kesucian. Bumi telah menunggumu untuk berkelana.”

Sesaat, yang terutus melesat bak cahaya, meninggalkan Alam Ruh, berpencar menuju kepada berbagai penjuru di sudut Bumi. Sesaat, yang terutus menggantung pada suatu tempat, gelap, bersih, namun teramat sangat hangat. Sesaat, wujud mistik terbaik walau tak berbentuk menghampiri mereka yang terutus. Batin tergerak penuh rasa takzim, sangat luar biasa, merangkam erat tempat suci itu, bahkan semesta, dan segala isinya.

Secara magis, sebuah kitab tersibak lebar. Masihlah putih, bersih, kosong, tiada dosa yang tercantum di sana, Lauh Mahfuz judulnya. Lantas, Ia berkalam.

“Siapa Tuhanmu?”

Dengan kesungguhan setiap zat yang paling dalam, mereka menjawab.

“Tentu saja Allah.”

Percakapan itu menjadi bukti akan kesaksian manusia yang hendak mengawali hidup sebagai pengembara di dunia, dengan sumpah akan tiada zat yang patut di sembah selain Allah yang Maha Esa. Kemudian, Allah memaktub qadha dan qadar mereka di dalam kesucian Lauh Mahfuz. Umur, rezeki, sampai pada deretan jodoh yang mana kerap sekali menempias renjana hati.

Singkatnya waktu mereka di dalam tempat itu, membersit gundah gulana di pikiran mereka. Namun, Yang Esa kembali berkalam.

“Kelak, hadir sepasang malaikat yang akan mendekapmu penuh rasa ikhlas di dunia. Di mana fungsi afeksi diajarkan, di mana fungsi proteksi selalu diaksikan. Ialah sang penuntun terbaik pada buah-buah hati mereka. Ialah sang pembubuh segala yang engkau butuh menuaninya di akhirat nanti.”

Yang terutus masihlah bingung, lantas tertegun kala mengetahui perihal itu.

“Siapakah gerangan malaikat tersebut, ya Allah?” sahut yang terutus bertanya. Kemudian, Allah kembali berkalam,

“Ialah orangtuamu.”

***

Seharusnya balada ini kadung disuratkan sejak jauh hari. Namun, dikarenakan beberapa kesibukan dan alasan bejibun lainnya yang terkait pada prospektivitas sekolah dan pembelajaran, baru kini kubisa menggarap semuanya. Selang dua bulan, pasca lebaran.

Masih di dalam Planet yang sama, Planet Nufo. Stagnan dalam telisikan paripurna dan elok alam rayanya. Meskipun mendung merundung, setidaknya agenda utama di hari ini memberi kependaran pada dunia, sepertinya. Kembali kueratkan sabuk yang melintas diameter pinggulku. Setelah seperangkat monokrom terkena rapi di badan, tersisa jas hitam sedikit berat yang sepertinya akan kupakai sesaat lagi. Teman seangkatanku akan berlaku demikian.

Ya, hari ini adalah hari angkatan perdana diwisuda. Tidak di sini, namun di Muhammadiyah Boarding School Gunem.

“Yah… Namanya saja angkatan perdana. Tentu memiliki fasilitas tersendiri yang sangat berbeda dengan beberapa angkatan setelahnya. Hadir sebagai yang pertama, tentu juga mendapatkan perlakuan yang seadanya. Ya sudahlah, kita jalani saja sistem perdana ini dengan belajar di dua sekolah yang berbeda. Planet Nufo dengan MBS Gunem. Selagi masih diiming-imingi dengan iman yang satu, saya nggak terlalu keberatan sih, Rak,” terang Fajar, salah satu temanku yang usai menjalani prosedur yang perdana itu.

“Al! Kamu sudah siap belum?” ujar Zidan berteriak dari luar, kepalaku mendongak ke belakang. Lantas, ia membuka pintu, “Segera pakai jasnya, sebentar lagi kita berangkat.”

“Yo!” jawabku pasti. Zidan menutup pintu, lalu segera berlari ke depan Rumah Olim. Adrenalinnya begitu terpacu hari ini, begitupun dengan teman-teman seangkatanku yang usai bersiap siaga di atas kapal. Menunggu mobil Wuling Nufo yang akan segera datang menjemput.

Zidan terlalu sibuk hari ini, sehingga entah kemana ia berlari, padahal aku tengah mencari wujudnya. Ya, kami memiliki masalah krusial untuk saat ini. Zidan dengan jas ngatungnya, dengan aku dengan jas yang sangat gombor. Kami pun berkongsi untuk saling bertukar jas, hanya untuk pagi ini. Aku pun mengambil jas yang tergantung di pintu belakang asrama kapsulnya.

Yap! Putih baju OSIS, celana Carthago hitam dengan sabuk SMP yang senada, dibalut dengan jas tebal milik Zidan yang ternyata pas, diperkontras dengan sepatu kets Adidas Stan Smith putih. Aku sudah siap menyibak serangkaian acara di sana kelak.

Nufo Citizen tengah bergabut ria hari ini, tiada agenda pagi, atau entah belum saja diumumkan. Tiga pasang ayunan bertali selang yang selalu dibajak oleh para sancil, juga beberapa sanja test camp. Beberapa sancil yang memilih untuk berlari-larian di atas jalan berpaving, kemudian berputar balik kala menyentuh perbatasan Rumah Olim dan Gelora. Bersama Ahda, anak dari Ustaz Su’ud dan Ustazah Hidayah, pengasuh kami. Pun si paling sibuk, yang memenuhi setiap sudut asrama kapsul dalam perbaringannya. Ah, suasana pagi ini, memang pagi yang sangat klop untuk tidur pagi.

“Al. Ayo segera, Al!” ujar Zidan memanggilku, tangannya berisyarat agar aku segera duduk di bangku belakang. Wuling sudah siap. Kujawab dengan jempol teracung cekatan, ia hanya menggeleng.

Penumpang siap, saatnya sopir menancap gasnya cakap. Segera melintas pada jalan beraspal Dusun Mlagen, melibas debu-debu yang semalam bermukim di atasnya. Sorot jingga sang surya menyentuh lembut leherku, Zafa, Fajar, dan Tabiq di bangku belakang. Menjadi pertanda, bahwa angan yang terencana akan tersemogakan sesuai skema awal. Refleksi jingga mentari, dipadu dengan gelapnya kaca film belakang Wuling. Membuat Fajar sedikit berpolah.

“Al, muka saya jadi glowing!” Disahut dengan tawa kami di bangku belakang. Saat yang di depan menoleh, kami pun sengaja diam. Hahaha.

Skenarium Mlagen-Gunem di pagi hari patut dicap sebagai bintang lima. Hijau perbukitan di hadapan, serta berpetak-petak sawah yang dialiri jernihnya air kali, serta bayangan biru bayi dirgantara yang dipantulkannya. Nikmat Allah yang mana lagi yang pantas engkau dustakan? Bahkan sepasang mataku saja hendak mencurahkan butiran air yang menggenang memenuhi pupil coklatku. Mobil ini terus melaju, sampai menyentuh pengkolan Sulang dan Gunem.

Pertigaan Masjid Jami’ Baburrahman di kiri jalan, Wuling berbelok ke arah kanan. Pertanda lokasi yang kami tuju sudah di depan mata. Tinggal melintasi beberapa petak sawah lagi, lapangan voli, dan Pemda di kanan jalan, kami pun sampai di tujuan. Muhammadiyah Boarding School Gunem. Sekian kali kakiku berpijak di trotoar tanah sekolah ini, baru kali ini MBS Gunem terasa sangat ramai akan nyawa. Wajar saja, sekarang adalah masa transisi kami, perjumpaan terakhir sebelum akhirnya kami dipisahkan karena tuju yang beragam di SMA.

Panggung dan tenda sudah berdiri rapi di tengah lapangan sekolah. Bersahaja, hanya spanduk formal bertemakan langit biru, kursi plastik bewarna hijau kukuh, tak berbaju, juga dengan beberapa simbol berbagai organisasi Muhammadiyah lainnya di pojok kanan, dari IPM hingga BMT. Sesampainya di bawah tenda, kami langsung diarahkan menuju tempat kami duduk. Orangtua dan tamu dengan wisudawan, tentu dibedakan, sehingga memudahkan kami untuk memberikan lencana terakhir di depan nanti.

“Wisuda santri TK Aisyiyah, SMP MBS Gunem, SMA Al-Falah Gunem,” gumamku dalam hati. Ah, pantas saja, ternyata bukan hanya kami yang akan diwisuda.

“Al, kamu duduk di sebelahku ya?” Riza, teman seangkatanku di MBS, dari kejauhan memanggilku untuk menempati kursi kosong di sampingnya. Jempolku kembali teracung, segera menghampiri Riza.

“Memangnya saya duduk di sini ya?” ujarku bertanya. Sebelum kepalanya mendongak ke arahku yang tenagah berdiri di depannya.

“Iya kok. Kata Ustazah tadi begitu,” jawabnya lugas. Aku hanya mengangguk. Sementara itu, di sudut tenda menjorok sedikit ke arah luar, temanku, Zidan dan Qia tengah berselesa durja. Beruntung sekali mereka bisa duduk bersebelahan, sedang aku harus dikepung dengan berbelas santri MBS yang sampai sekarang tidak kukenal, pun mereka sebaliknya. Astaghfirullah.

Terpaksa, aku duduk di tengah-tengah mereka. Dekat dengan jalan utama di pertengahan tenda, otomatis sangat dekat dengan deretan bangku yang terisi oleh bapak dan ibu wali dari santri murid yang sesaat lagi akan diwisuda. Ya, wajah teduh mereka sungguh telah siap menangkap wujud dari anak mereka di hadapan khalayak nanti.

“Seluruh peserta, segera merapat ke dalam tenda, dikarenakan sesaat lagi, acara akan dimulai,” Ustazah Umi mengumumkan via mikrofon yang digemakan ke sejauh alam MBS terbentang. Sekejap, mereka telah terduduk rapi di antara kami.

Masih teringat betul, denah kududuk pagi itu. Tepat dikananku adalah jalan lintas panggung dan luar tenda, di kananku terdapat Riza yang tengah duduk sembari fokus terpaku pada gawainya, di belakangku ada Nicky, teman perempuan Riza yang sedaritadi terus memamerkan beberapa video reels yang ia anggap keren di Instagram. Di depanku, ada Aisya, teman sekelasku di Planet Nufo. Akhirnya, aku bukanlah seorang anak Planet Nufo yang duduk terkepung oleh santri MBS. Napasku terembus lega.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!” sorak sepasang master of ceremony menggugah semangat para hadirin. Seketika, jawaban darinya terdengar keras dan antusias. Aku mulai menduga, sepertinya, sang MC memiliki kecerdasan emosional, sehingga mereka dapat memiliki kendali penuh atas emosi komunikan, siapa saja.

Hormat dan salam dihaturkan, rangkaian acara diuraikan, sambutan demi sambutan yang diungkapkan oleh beberapa tokoh dari Rembang, baik dari kalangan Muhammadiyah, maupun Dinas Pendidikan.

“Setiap perjumpaan, akan menemui perpisahan. Jadi, sesuatu yang sudah mutlak ditentukan, tidak perlu lagi dirisaukan. Justru, jadikanlah ini sebagai pembelajaran, tentang bagaimana kita menghadapi perihnya perpisahan, bagaimana kita mengemas dinamika selama tiga tahun ke belakang, dan bagaimana kita membenah diri kita untuk menjalani problematika kompleks di masa mendatang. Maka, tidak pantas kita lalai, tidak pantas kita bermuram durja. Oleh karena itu, pastikan jalan mimpi itu akan tergapai, sehingga kelak kita semua bahagia,” tutur bapak dari Dinas Pendidikan yang maaf, telingaku kurang terpasang saat pemanggilan namanya, sehingga aku tidak mengetahui siapakah beliau.

Beliau menyudahi sambutannya, kemudian turun dari panggung, dan duduk di kursi tamu yang tadi beliau tempati. Menginjak acara selanjutnya, wisuda bukanlah akhir dari segalanya, setidaknya ada secercah kenangan yang harus diukir, agar berlanjut baladanya hingga ke zurah seterusnya. Kami pun disuguhi sebuah penampilan dari calon alumni TK Aisyiyah Gunem. Rasa kantukku menguap.

Ya, anak-anak. Bagaimanapun kehidupan berjalan, mereka akan menghadapinya dengan cara anak-anak. Dimulai saat mereka memasuki panggung, berlari-larian kesana kemari, sehingga menambah kesibukan guru mereka. Sudah menjadi tabiat si kecil untuk bertingkah seperti itu, beragam, hiperaktif, dan masih banyak polah menakjubkan yang ia rangkam dalam otak mereka. Oleh karena itu, sudah menjadi kesibukkan guru dan orantua, untuk menuntun mereka ke arah yang benar. Akhirnya, mereka pun berbaris dengan teratur.

“Ya… Mereka akan menampilkan beberapa tarian daerah dari berbagai kebudayaan di Indonesia,” ujar Ustazah Umi membawa acara. Sorak sorai tepuk tangan membuncah hingga ke langit Gunem.

Mayoritas dari mereka tampak antusias dengan gerak dan pola dansa yang sudah guru ajarkan, mulai dari tari Jaipong, Sajojo, hingga Sik Sik Sibatumanikam dari Medan. Bahkan beberapa dari mereka malah mendahului iringan musik yang diputar, terlalu bersemangat. Namun, tidak menutup kemungkinan ada sebagian dari mereka yang memilih untuk diam dan menyaksikan jalannya tari. Entah tidak tertarik, atau tidak mengerti dengan apa-apa yang sedang teman-teman mereka aksikan.

Sekonyong-konyong, pandanganku teralihkan kepada barisan ibu-ibu yang sedari tadi tersenyum haru, bangga, hingga tidak sedikit yang menderaikan air mata. Ah, emosi mereka begitu kuat, sehingga menempiaskan sedikit rasa itu ke dalam palung hatiku, bahkan hingga merenjana begitu lama. Ada mendung di wajah mereka, hujan, sehingga harus diseka dengan ujung hijab siap pakainya, adapun yang terlalu aktif mengapresiasi setiap langkah mereka.

Habis sudah waktu mereka di atas panggung, namun derai air mata mereka kembali berderai saat para buah hati mereka turun, beradu pandang, lantas berlari ke arah mereka, langsung mendekap erat tubuh mereka, saling berpelukan, berbagi kehangatan. Terasa, hingga ke sudut kursi tempatku duduk.

Momentum itu, membawaku pada realitas yang teramat sangat jauh dari multiverse seharusnya aku berada. Lintas ruang dan waktu tidak lagi menjadi permasalahan bagi jiwaku untuk melambung. Semuanya benar-benar sebuah keambiguan. Ya, aku menjelma mereka, dengan penerimaan yang berbeda, anak-anak yang tak sama rupanya, tentunya, warna-warna yang berbeda. Namun, mereka mendekapku, mendekap kami, kompak.

“Mak, aku lapar.”

“Tolong simpan topi penari saya, Umi.”

“Aku kegerahan, Bu. Nanti tolong kipaskan ya?”

Terakhir…

“Aku sayang Ibu.”

Berbagai frasa terlontar semudah itu, dari kalam mereka yang tak menahu. Tertegun jiwaku, terbujur kaku pada puluhan penglihatan itu. Sebelum kedua tangan orangtua menyentuh wajah mungil mereka penuh keikhlasan. Saat waktu membuat dirinya berhenti sekejap. Tenang realita baik, mendayu di seluruh ruang pikir orangtua.

“Dahulu, hanya meringkuk dalam rahim yang hangat. Sembilan bulan, sebelum akhirnya engkau terlahir ke duniaku sebagai rahmat. Rasanya, sekejap pun tangan amatirku membelai asih kepalamu cepat. Pada saat ini, lihatlah! Dirimu sudah tumbuh besar dan sehat, kuat, hingga hatiku perlu yakin, bahwasanya kelebihanmu dapat menaklukkan permasalahan jagat. Oleh karena itu, semangat, anakku yang lebih bermartabat!”

Letih, sabar, pengorbanan yang entah bisa diperbandingkan dengan apa, lekas terbayarkan dengan keajaiban yang senantiasa tercurah dari perkataan sang buah hati. Ya, mereka merasakan kebahagiaan mutlak. Investasi selamanya kian menghasilkan, signifikan, bahkan sepanjang hari terus mengalami perkembangan. Sekiranya aku menjadi orangtua yang berhasil, apa yang aku rasakan?

Perlahan, kawasan mengharukan itu kembali purna. Meninggalkan sisa-sisa haru di setiap sesuatu yang mereka tinggalkan, termasuk pada susunan acak kursi-kursi hijau yang usai mereka tempati, tidak beraturan, yang terus membuatku bersitatap tanpa toleh. Mengiris dimensi telepati kami, kembali membawa jiwaku kepada realita, sebagai wisudawan.

Ah, sudah lama sekali semenjak aku memutuskan untuk berpisah sejenak dari orangtuaku. Memilih untuk menempa diri kepada kebaikan iman dan juga prospek keuangan diri. Sampai rasa kerasan itu nyata adanya dalam benakku, benar-benar tak ingin keluar. Dengan mengkalkulasi keadaan dan terawangan masa depan, berbasis ilmu Al-Quran, sehingga kami tahu, dunia kian berubah, dan akan terus mengalami perubahan, bahkan signifikan.

Simpang siur rasa rindu di atas kepalaku tentunya. Tak pernah mengawangkan kembali, kapan aku akan pulang membesuk mereka di penghujung Ranah Minang sana. Tak pernah berpikir untuk berselesa durja di sela-sela kewajiban tengah berlangsung padat. Bahkan mengecap gurih dan para Bareh Solok pun masih ambigu tentang waktu pas untuk mewujudkan semua itu. Untuk saat ini, aku ingin pulang.

Tiba-tiba, bak sesuatu yang berkelebat, secercah petuah pendar itu kembali bertengger di ruang pikirku. Prakarsa Ustaz Ficky, kala aku dan beliau hendak menggarap sebuah narasi santri di Rumah Prisma, Planet Nufo.

“Tiada yang abadi, semuanya yang berasal dari tanah, akan kembali ke tanah. Begitupun sanak, famili, karib, kerabat kita. Pada akhirnya, semua jiwa akan kembali kepada Sang Pemilik Jiwa. Oleh karena itu, jangan pernah menuntut akan kebersamaan semu di dunia. Keluarga itu manusia, sejatinya hidup, dan terus tumbuh, serta berkembang segala yang manusia minati.”

Mencoba berpikir jernih, kala rembusai dedaunan trembesi menghujaniku dengan daun keringnya. Ini kemarau, menjadikan semua hal yang mengampiriku seolah-olah membawa risau. Kapan aku akan pulang? Kapan aku akan mencicipi lezatnya randang hitam berbalut bumbu lumer pekatnya? Dan kapan aku akan bersandar punggung di atas sofa marun empuk, bersama keluarga, Ayah, dan Bunda?

Sekelebat diriku mendakwaku sebagai durhaka. Setelah semua perlakuan dan ucapan yang acap kali menjelma pisau bermata dua. Melukai kedua belah jiwa. Lihatlah, teman! Laku kecilmu dulu tidak jauh dari kemanjaan anak-anak TK yang kini berada di depanmu. Yang hanya bisa mengadu dan menangis setiap kali kontra menyapa. Merepotkan? Sangat. Lantas, sebenar itukuah engkau ingin mengabaikan piawai kedua tangan mereka?

“Dosa adalah penyakit yang berpotensi menimbulkan duka. Nasib baik dan keberuntungan yang pupus, terpaut rugi dan resah menggundah yang terus mengikut. Maka dari itu, bertobat adalah obat paling mujarab bagimu, dan berkenan menekan segala propaganda buruk sang nafsu. Lagipula, manusia tidak luput dari salah dan lupa bukan? Sekali lagi, engkau bukanlah anak durhaka. Mereka yang melambungmu hingga ke pelosok ini. Ridha dan ikhlas pasti hati mereka untuk menjaga jarak walau ribuan mil jauhnya,” nuraniku berfatwa.

“Rindu itu baik, tanda seseorang masih menggunakan hati dengan sangat baik. Namun, perlu diberi sematan, bahwasanya ketentuan-ketentuan yang berkaitan dengan prioritas, itu menjadi hal kronis yang harus diperhatikan. Memang sangat jauh, di ujung Kota Padang sana, namun jarak bukan menjadi alasan seseorang untuk berhenti belajar.”

Benar. Semua bentuk dan serumit apapun logika yang kumiliki, akan macet jika tiadanya sokongan dari logistik. Untuk memperoleh logistik yang memadai dan rasional, bukankah aku, sebagai santri, secara tidak langsung telah berjanji untuk melepas rindu melalui doa-doa yang dilangitkan, serta usaha yang usai diusahakan? Tak mengapa, rindu sementara saja. Sedang efek samping dari meninggalkan suatu pekerjaan adalah kegagalan. Jadi, apa boleh buat?

Kami pun berada di puntu keluar MBS Gunem, lantas melihat kepada dua mobil yang terparkir di seberang jalan beraspal. Mencoba mengekspektasikan kembali, saat mungilku berdialog suci dengan Sang Khaliq di alam rahim bunda. Segala kepastian tentu telah termaktub dalam Lauh Mahfuz. Begitupun kasih sayang, welas asih orangtuaku. Sebutan “malaikat” tak perlu digubah kembali dengan kata-kata indah lain. Itu sudah paling prima.

Kami pun pergi, meninggalkan sendu, menghirup ilmu baru. Sembari menyematkan niat pada tuju awalku. Mengharap ampunan dan maaf-Nya, semoga terlaksana. Wallahu ‘alam bishawwab.

Oleh: Aletheia Raushan Fikra Ukma, Wakil Ketua OSIS Terpilih SMAN 1 Sulang Rembang, Pengurus Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Planet Nufo

Exit mobile version