Site icon Baladena.ID

SEBERSIT AWAL TAHUN : TERMENUNG SIA-SIA

Sangat jauh dari kata wajar, seorang insan yang bahkan mencaci panah asmara, kini ambruk oleh kisah remajanya. Ketidaksopanannya setiap kali membahas perihal cinta malah digundah gulanakan seketika. Naif sekali anggapannya terkait rasa nyaman dan kasih dalam seluruh kisah temannya dalam mengekspresikan rasa itu menjadi sebuah hubungan tak resmi. Hingga tak tahu, teguh pendirian tersebut diruntuhkan oleh godam raksasa bertajuk cinta. Hei, lihatlah! Aku orangnya.

Itu benar, tersebab sebuah petuah kiyai di pondok pesantrenku bahwa hakikat cinta itu adalah energi mistik yang berorientasi positif. Tentu saja, seluruh bentuk yang timbul dari cinta adalah positif pula. Selanjutnya, tergantung bagaimana para mukallaf cinta itu menyikapi dan mengeksekusi cinta tersebut. Karena cinta adalah fi’il, dan para mukallaf adalah fa’il-nya.

Perlu diingat, cinta itu dapat menjadi pendorong bagi mereka untuk lebih produktif berkarya. Contohnya, jika mereka cinta dengan seseorang di pondok pesantren ini, maka alirkanlah energi cinta itu menjadi sebuah tulisan, lalu lihatlah semagis apa tulisan itu, itu pendapat kiyaiku. Lain hal, jika cinta itu disalahgunakan, dilampiaskan dengan aktivitas yang tidak semestinya, berkonotasi negatif, maka ketahuilah bahwa itu bukan lagi cinta, melainkan nafsu yang penuh dengan tipu daya setan. Sama sekali tak ada yang perlu dibanggakan di sana.

Oh ya, satu lagi. Cinta itu membentuk visi yang besar, visi yang visioner untuk melejitkan para mukallaf cinta menuju jalan kebenaran, jalan-Nya. Saat mereka melirik yang dicinta, di sana pula visi-visi out of the box tergambarkan seketika, masa depan yang cerah dan bagaimana cara mewujudkannya tersentuh walaupun sebatas sudut-sudutnya. Belum sempurna, namun akan sempurna jika melangkah ke jenjang suci yang selanjutnya, pernikahan yang sah. Unik bukan? Itulah cinta yang riil. Aku naif karena telah menistakan nikmat ini. Astaghfirullah.

Sampai detik ini, aku masih selalu dibingungkan tentang perasaan apa yang tengah menggantung di benakku. Entah singgah, entah menetap. Akan kuanggap singgah, namun lama sekali ia di sana bak sudah menetap saja. Akan kuanggap menetap, namun aku khawatir sewaktu-waktu ia akan berbenah dan pergi meninggalkan nama. Pada intinya, aku dibuat bingung dan ambigu. Apakah ini cinta ataukah nafsu?

Let me tell you some story, but I don’t wanna made some particular points to show the significant ptolog, actually. So let’s start it!

Berawal dari sebuah pertemuan yang ‘biasa-biasa saja’ di bangku SMA berlabel negeri. Tidak ada yang menarik, bahkan niat untuk berkenalan pun tidak tebersit seolahpun di benakku. Namun seiring berjalannya waktu, kami diharuskan untuk berkenalan tesebab urusan kelas yang semakin hari semakin jauh dari kata kondusif. Anggota kelas sudah mulai berani menunjukkan taring dan kebuasan mereka, sehingga kewarasan kami merasa peduli untuk menindaki situasi ini. Selain untuk menjaga nama baik kelas, juga kami tak ingin salah seorang dari anggota kelas kami terjerat kasus. Kami benar-benar tak ingin, exactly.

Dugaanku benar, formal pada awalnya, random pada tengah-tengahnya. Guess it, even we never chit-chat anything important on it for real. Setidak berguna itu? Tepat. Apa gunanya menyita waktu hanya untuk melayani foto seblak, karoket, gehu, dan beragam macam makanan lezat lainnya dan itu hanya dapat ditampilkan sekali, namun setiap hari. I don’t even know. Kutampik jauh-jauh suudzon itu, kuanggap saja itu adalah tamparan keras untukku agar memenuhi pola makan yang ideal, jauh dari anggapan bahwa ia mengejekku karena aku terlalu kurus untuk disebut sebagai lelaki. Real, huh? Just kidding.

Aneh saja, aku pikir aku adalah orang yang begitu sibuk dengan urusan pribadiku, sehingga tak akan ada lagi waktuku yang terbuang sia-sia. Salah kaprah sekali, justru waktuku tersita penuh hanya untuk meladeni tingkahnya. Ingin rasanya menunda and stopping those useless things, namun jiwa pendengarku tentu saja tidak akan terima. Pada akhirnya, aku tetap meladeninya hingga kelelahan. Aku yang payah.

Semua itu berlangsung hingga setengah tahun. Ternyata aku cukup sabar meladeninya. Wajar saja, ditakdirkan untuk menjadi pendengar setia, sampai kapanpun aku akan terus mendengarkan segala ocehannya, at the same time, I feel maybe she’ll be care with me, omg. Bagaimanapun juga, dunia ini diciptakan dengan kondisi berpasang-pasangan, gunanya adalah untuk saling mengenal dan berguna satu sama lain. Pun dengan penciptaan manusia ekstrover dan introver, mereka hadir untuk saling melengkapi pula bukan? Salah satunya adalah kami.

Bukan seperti pada umumnya, saling melengkapi bukan berarti kami diciptakan untuk bersama ‘selamanya’. Itu adalah hal yang sangat jauh dari pikiran kami. Sungguh penafsiran yang di luar dari dugaan kami. Mungkin saja fungsi tersebut berjalan hanya pada saat kami berada di bangku kelas 10 SMA ini. Sekali lagi, mungkin saja. Bukan bermaksud pesimis, namun keadaan ini sangat membuatku bingung. Aneh sekali jika anak sebayaku harus kebingungan tersebab ketidak jelasan ini. Ya Allah.

Di luar nalarku, suddenly she made some story with somebody else, somebody cool, but that’s surely not me. Then who? Ada. Dalam sebuah agenda kepanduan dan mereka didinaskan ke suatu tempat yang sama. Love cause location, huh? Mungkin begitu. Hei, seperti yang kita tahu, aku bukanlah siapa-siapa. Tapi kini, mengapa aku yang selalu bertanya? Tapi kini, mengapa aku yang dikerumuni gundah gulana? Sadarlah, diri.

Ihwal yang mempersulit kedamaianku untuk bersuka ria, padahal bukan perihal cinta. Aku yakin ini bukan cinta, karena setelahnya, hanya derita yang terasa. Oh ya? Jika itu cinta, mengapa aku tidak dapat menemukan visi yang kentara dari dirinya, justru beterbangan tak berarah? Jika itu cinta, mengapa aku tidak bersemangat dan unpassionable dalam sekejap kala gelembung katanya timbul menyita waktu? Jika itu cinta, mengapa hadir sebuah lara? Katanya, cinta itu positif dan menularkan energi yang positif pula?

Ku coba flashback ke masa-masa kami masih dalam hubungan yang akrab. Baru ku tahu, aku hanya tempat pembuangan terakhir. Di mana limbah raga dan hati yang hitam legam dan busuk dicampakkan begitu saja, lantas lekas beranjak tanpa ada kata pamit. Itulah aku selama ini. Aku membiarkan diriku menjadi seperti itu, alih-alih terkadung nyaman dengan jabatanku sebagai pendengar setia. Ini benar-benar kesalahan yang fatal. Sial, sudah berapa lama aku termenung sia-sia?

Sempat ku bincangkan topik yang sama kepada beberapa teman sebayaku. Tentu saja manusia adalah makhluk majemuk, banyak sekali jumlahnya dan karakteristik mereka pun berbeda-beda, pun dengan pendapat yang terlontar dari mulut-mulut mereka. Si anarkis dan senang melabrak berfatwa, itu adalah bibit-bibit asmara yang harus segera diungkapkan, sebelum hatinya ditambatkan kapal hati yang lain. Dramatis sekali.

Lalu, si agamis serta merta menceramahiku dengan beberapa dalil yang menjelaskan tentang perzinaan. Hukumnya haram, merupakan perbuatan tercela, dan jalan yang sesat. Tidak sampai di situ, ia menambahkan beberapa pengalaman hidupnya terkait cinta, dan bagaimana cinta dalam diamnya dengan seorang wanita bercadar, looks syar’i, berjalan langgeng hingga kini. Bahkan tanpa ada agenda dan interaksi bersama antara dia dan his crush. Aku hanya termanggut saja sok paham, padahal aku kontranya. Aku tidak suka caranya.

Kini, waktunya yang tua mewejangku dengan kata-kata maknawinya yang berdasarkan pengalamannya semasa muda. Jujur saja, ia malah ingin kembali tepat di mana aku berada, masa-masa SMA. Katanya, SMA adalah masa-masa terindah yang pernah dialami oleh hampir semua manusia yang ada di dunia. Dengan kemapanan berpikir, kita merasakan relasi. Dengan kemampuan bernalar kritis, kita cenderung gercep dan proaktif. Dengan kedewasaan, kita dapat merasakan asmara yang melanda. Namun, tetap saja kebijaksanaan harus berada di atas segalanya. Itu katanya, lagi-lagi hanya mendapat anggukan dariku. Terima kasih.

Menurutku, masa-masa di SMA ini memang luar biasa hiruk pikuknya. Di mana keimanan dan kekuatan kita sebagai pemuda berjiwa merdeka diuji dengan tempaan yang sedemikian rupa. Entah tragedi miskomunikasi, hilang koordinasi, konflik antar kelas, nilai yang tetiba anjlok, sampai pada yang paling berat adalah bagaimana cara kita bertahan dengan deru romansa yang kelabu. Entah itu cinta atau nafsu, apapun itu, kita dituntut mampu untuk bertahan sampai garis purnawidya mendatang.

Maaf, bukan aku. I ain’t a figure for you who read this from the first seriously. Aku benar-benar pongah dengan pandanganku terkait cinta, walau nyatanya ada betulnya. Cinta remaja tidak sepenuhnya logis. Tenang saja, walau sudah digodam dan dihujam oleh panah api berapa ratus kali pun aku tetap berpegang teguh dengan prinsip itu. Sekian.

 

Oleh : Aletheia Raushan Fikra Ukma, Wakil Ketua OSIS Terpilih SMAN 1 Sulang, Ketua Bidang Pengkajian Ilmu Pengetahuan (PIP) Ranting IPM Planet Nufo, Penulis 2 Buku : Mengkaji Hari, Arsip Insomnia

Exit mobile version