Site icon Baladena.ID

Say No to Poor Mental

Seperti yang kita ketahui bahwa setiap manusia memiliki mental yang berbeda-beda otomatis itu akan mempengaruhi cara mereka memandang dunia dan menentukan hal apa yang ingin dilakukannya dalam kehidupan. Mental tersebut juga sangat mempengaruhi kemampuan seseorang dalam mencari uang untuk bisa bertahan hidup dalam kerasnya dunia. Karena hidup itu butuh aksi dan refleksi.  Tidak heran jika di zaman modern ini muncul istilah mental kaya dan mental miskin yang kerap digunakan kepada para generasi Ziber.

Sebenarnya, apa sih yang membedakan mental kaya dan mental miskin? Patut kita ketahui mengenai mental kaya dan mental miskin yang sebenarnya ini membicarakan sebuah kebiasaan, bukan pendapatan atau harta yang dimiliki seseorang. Seseorang yang terlahir dengan mental kaya memiliki kebiasaan untuk merencanakan uang agar dapat menghasilkan lebih di kemudian hari. Sedangkan seseorang yang terlahir dengan mental miskin, orang tersebut akan sibuk memikirkan cara menghabiskan uang yang sudah diperoleh dengan usahanya. Jadi, bedanya mental kaya dan mental miskin itu bukan karena uang yang dimiliki, melainkan cara berpikir yang sederhana. Sebenarnya, tidak ada salahnya memiliki rencana menghabiskan uang yang sudah diperoleh melalui kerja keras. Tetapi, jika hal tersebut dilakukan secara terus menerus itu bisa berujung kemiskinan  kalo kita tidak memikirkan untuk memutarkan uang agar menghasilkan lebih dari pemasukan. Oleh karena itu, akan jauh lebih baik untuk memiliki perencanaan keuangan terlebih dahulu sebelum membeli barang-barang baru dengan uang yang dimiliki. Jangan sampai kita terkena mental-mental yang kaya, tetapi sebenarnya miskin. Sebenarnya ciri-ciri orang dengan “mental miskin” adalah

  1. Suka Meminta
  2. Gengsi
  3. Gemar Menunda (Prokrastinasi)
  4. Tidak Memiliki Rencana

Lucunya, terkadang orang senang meminta, tapi tidak pernah memberi, keknya ada cerita islami tentang ini. Kebanyakan manusia itu suka menadahkan tangan daripada memberi. Supaya orang ga kebiasaan jadi mental miskin? Suka minta tapi ga suka ngasih. Kira-kira Sama kayak pelit nggak? Beda, bedanya kalau pelit itu dia ga suka minta. Indonesia rata-rata mental miskin semua, walaupun tidak diukur dengan data. Namun saya percaya Indonesia darurat mental miskin. Karena, selama saya hidup, tidak ada satupun orang yang mengatakan. “Mba/Bang, bisa tolongin saya ga? nih ada 50K buat kamu nanti.”

“kamu bisa investasi kan Mba/Bang? Kamu ajarin saya investasi ya, ini ada uang 200K dulu gpp?, kalau saya ngeh tak kasih lebih deh.
” GA ADA, ga ada yang suka barter begini, satupun ga ada, ini termasuk mental miskin. Kebanyakan orang malah begini. “Mba/Bang, bisa tolongin saya ga? butuh banget olehnya.”
“Kamu bisa investasi kan? Kamu ajarin investasi yaa… boleh yaa?.”
“SAYA GA PEDULI FRIEND, mau nangis darah kau sujud sujud, ga akan terbuka hati nurani walaupun di iming iming surga dan pahala, lah emang surga dan pahala punya bapakmu? Kecuali mintanya yang ringan dan saya free, tentunya mintanya bukan yang mahal. Minta like IG Nemenin ke tempat tertentu Titip barang belanjaan Bantu beres beres. Maka tidak masalah, itu ringan, tidak ada beban, ga mahal juga.  Dan kalau mau minta, ya kasih dulu sesuatu yang berharga, ga perlu uang, insight baru pun jadi.  Itulah salah satu pembeda pemikiran kalangan kelas atas dengan kelas bawah.  Bila juga didunia bisnis, saat melakukan transaksi, maka ada keuntungan si Fulan dan si Zaid.  Ga ada negosiasi bisnis begini  “Pak, kami butuh suntikkan modal 50  juta aja, karena tim kami  sangat butuh, tolong pak, buka hati nurani bapak.” Mata kau, yang ada malah diusir kamu.  Pasti negosiasinya begini “Pak, saya takut mengatakan hal ini, kami butuh suntikkan modal 50 juta untuk melanjutkan projek ini, kalau bapak suntikkan dana, keuntungan bapak bla bla bla.  Temen-temen pernah menjumpai tidak, hal yang seperti ini? Dari sisi kacamata, Kita harus melihat keuntungan antara kedua belah pihak, Apakah seperti Simbiosis mutualisme atau malah Simbiosis Parasitisme dan ini bukan masalah hati nurani, bullshit kalo seperti itu.

Yang kedua ada Gengsi. Biasanya Mental kaya hanya membeli barang yang memiliki fungsi tertentu, misal Fulan ingin membeli hp, maka Fulan akan membeli hp sesuai apa yang dibutuhkan, bukan dilihat dari harga yang tinggi ataupun sedang trend. Sementara orang yang mempunyai mental miskin membeli gengsi, misal Zaid ingin membeli hp maka Zaid akan memilih hp dengan harga yang mahal atau sedang trend. Karena Zaid lebih mementingkan gengsinya dari pada fungsi hp yang Zaid butuhkan. Bila, dipikir-pikir, orang yang membeli hp hanya karena gengsi saja itu akan membuat dirinya rugi, Semoga kita dijauhkan dari sifat gengsi untuk melakukan kebaikan karena Allah SWT.

Yang ketiga ada gemar menunda (prokrastinasi). Menurut penelitian Joseph Ferrari, Ph.D, seorang profesor dari De Paul University, Chicago, mengungkapkan bahwa 20 persen perempuan dan laki-laki yang ada di seluruh dunia memiliki sifat prokrastinasi. Seorang yang memiliki sifat prokrastinasi selalu mencari-cari alasan untuk menunda kewajiban atau tugas. Misalnya ketika sudah sampai waktu shalat, kita sebagai seorang disciples harusnya bergegas mengambil air wudhu. Dan berusaha membuat diri sendiri sadar dari bunga tidur, supaya tidak ketinggalan shalat berjamaah. Bukan malah bangun. Tarik selimut tidur kagi. Tetaplah konsisten dalam beribadah.

Yang terakhir yaitu tidak memiliki perencanaan. Dalam hidup ini, setidaknya kita mempunyai rencana untuk Enam bulan kedepan mau jadi apa. Karena itu adalah hal tersimple untuk mendapatkan hidup sukses. Buang jauh-jauh mental miskinmu! Indonesia tidak butuh generasi itu! Wallahu a’lam bi al-shawab.

 

 

Exit mobile version