Site icon Baladena.ID

SANTRI, SAINS, DAN SENI

Oleh : Galang Jalaludin.

SANTRI merupakan sebutan atau istilah yang biasa diberikan kepada seseorang yang belajar ilmu agama di pondok pesantren. Menurut Wikipedia, kata santri berasal dari bahasa Sansekerta “shantri” yang memiliki arti agama, kitab suci, dan pengetahuan. Ada juga yang mengatakan bahwa santri berasal dari kata “cantrik” yang berarti para pembantu Begawan atau resi. Seorang cantrik akan diberi upah berupa ilmu pengetahuan oleh begawan atau resi tersebut.

Berbicara tentang santri, tentu tidak terlepas dari pondok pesantren dan kitab-kitab kuning yang tanpa harakat. Santri-santri di Indonesia sudah mulai dikenalkan dengan Bahasa Arab semenjak masih duduk di bangku sekolah dasar atau banyak disebut dengan Madrasah Ibtidaiyyah. Hal tersebut bertujuan agar para santri akan lebih mudah dalam memahami berbagai macam disiplin ilmu agama yang sumbernya adalah quran dan hadits.

Keberadaan pesantren sangatlah penting. Pesantren memang didesain sedemikian rupa untuk mencetak generasi-generasi yang inshaallah paham tentang agama dan siap terjun ke dalam masyarakat, guna mengatasi berbagai masalah terkait urusan agama, oleh karena itu keberadaan pesantren sangatlah diakui oleh masyarakat.

Seiring berjalannya waktu, pondok pesantren kini sudah mengalami banyak perubahan, diantaranya adalah perubahan secara kurikulum atau cara mengajar di pondok pesantren. Dewasa ini, sudah banyak sekali pondok pesantren modern yang didirikan, hal ini tentu bertujuan agar santri juga mampu untuk menghadapi perkembangan zaman. Pada pondok pesantren yang bersifat modern, santri dituntut untuk tidak hanya belajar tentang ilmu agama saja, akan tetatpi juga belajar tentang disiplin-disiplin ilmu yang lainnya, seperti: kesenian, olahraga, poloitik, jurnalistik, dan lain sebagainya.

Paradigma Santri Tentang Sains dan Seni

Pondok pesantren dianggap sebagai lembaga penddikan “eksekutif” atau hanya untuk orang-orang yang menganaut ajaran agama islam saja. Secara otomatis, pandangan santri tentang kesenian  di pondok pesantren pun menjadi kurang luas dan secara umum terpaku kepada kesenian yang bernafaskan islam saja. Seni bagi santri bukan hanya sekedar memiliki dimensi religius, dalam artian, dengan perantara seni dapat mengantarkan santri untuk lebih dekat dengan sang pencipta.

Kurangnya perhatian dalam hal kesenian dan adanya kecenderungan seni hanya dilihat dari segi keindahannya saja, belum sampain dalam aspek moralitas atau nila-nilai yang terkandung di dalamnya membuat para santri menganggap bahwa pendidikan seni lebih rendah dibanding dengan pendidikan formal yang lainnya. Selain itu, kurangnya ketersediaan sumber daya baik pengajar maupun peralatan membuat pendidikan kesenian tidak berjalan dengan efekif.

Selama ini banyak orang termasuk para santri yang menganggap bahwa ciri suatu bangsa yang maju adalah dilihat dari segi perkembangan sains dan ilmu pengetahuannya saja. Hal itu dikarenakan pemahaman umum tentang sains dan ilmu pengetahuan yang melambangkan sebuah keterukuran dalam logika positivisme dan kepastian rasional. Sedangkan seni seringkali diartikan sebagai sesuatu yang identik dengan ketidakpastian, penafsiran secara individual dan subjektifitas.

Pertentangan tersebut juga terkait dengan perbedaan pendapat masyarakat dalam memahami hal tersebut. Di satu sisi memahami sains sebagai suatu disiplin ilmu yang mewujudkan kemajuan teknologi sebagai perwujudan kemajuan peradaban suatu bangsa. Sementara di sisi lain melihat bahwasanya seni adalah aktualisasi pengalaman batin, naluri, khasanah rasawi, dan imajinasi liar yang tak terbatas.

Meneladani Tokoh

Pada masa dinasti abbasiyah yang berdiri antara tahun 132-656 H/750-1258 M atau kurang lebih berdiri selama 524 tahun, kesenian adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan yang sangat diperhatikan oleh khalifah, dan kesenian  menjadi salah satu indikator kemajuan kekhalifahan bani abbasiyah pada saat itu. Oleh karena itu, dinasti abbasiyah banyak melahirkan tokoh-tokoh seniman muslim yang sangat hebat, antara lain : Abu Nawas dengan karya-karya sastranya yang sangat mashur dan mendunia, Al-Farabi dengan kitabnya yang sangat terkenal, yaitu:  Al-Madinah Al-Fadilah yang menjelaskan tentang teori-teori negara yang ideal/utama, dan Al-Musiqi Al-Kabir yang di dalamnya terdapat pemaparan tentang teori-teori tentang musik.

Ilmu-ilmu yang lainnya seperti ilmu dalam bidang hadits, filsafat, fikih, tasawuf, bahkan kedokteran pun mengalami perkembangan yang sangat pesat pada masa itu. Tokoh-tokoh ilmu hadits sekaligus perawi hadits yang sangat terkenal  hingga saat ini antara lain: Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Daud, Imam At-Tirmidzi, An-Nasai, dan Ibnu Majjah. Kitab-kitab mereka dikenal dengan sebutan “kutubus sittah”. Kitab-kitab tersebut menjadi rujukan utama umat islam untuk merujuk kepada hadit-hadits Rasuullah saw.

Kemudian ibnu sina dalam bidang kedokteran dengan karyanya yang sangat terkenal yaitu kitab Al-Qaunun Fi At-Tiib yang menjadi rujukan para ilmuan setelahnya selama berabad-abad. Kemmudian masih banyak lagi ilmuan-ilmuan muslim yang lahir pada masa keemasan tersebut seperti Ibnu Rusyd dan Al-Kindi dalam bidang filsafat, Al-Ghazali dalam bidsng fiqih atau agama, dan Al-Khawarizmi dalam bidang matematika, geografi, astronomi, dan astrologi.

Oleh karena itu, untuk menyikapi tantangan perkembangan zaman, kita sebagai santri harus memiliki bekal yang cukup seperti kecerdasan dan keterampilan yang telah dicontohkan oleh tokoh-tokoh ilmuan muslim di atas. Mereka bukan hanya pandai dalam ilmu agama saja, namun mereka juga pandai dalam ilmu keduniaan seperti kedokteran, matematika, astronomi, geografi, kesenian, dan disiplin ilmu yang lain.

Dan dengan mempelajari seni, kita dapat melatih kepekaan rasa dan dengan seni pula kita tahu bagaimana cara mengaplikasikan emosi-emosi tersebut, seperti dengan bernyanyi, melukis, menari, dll. Dengan belajar seni kita dapat menghibur diri, sekaligus meningkatka kreativitas, dengan cara menciptakan imajinasi-imajinasi yang baru. Kita juga dapat belajar bagaimana cara mengapresiasi karya sendiri maupun karya orang lain.

Untuk menyikapi tantangan perkembangan zaman, pondok pesantren juga harus berkomitmen dalam menyediakan fasilitas dan memilih kurikulum pendidikan yang terbaik untuk melahirkan generasi yang yang handal, dalam arti memiliki kecerdasan otak (intelektual), spiritual (keimanan), dan keterampilan atau kesenian, sebagai landasan atau modal utama untuk menciptakan generasi santri yang mandiri secara intelektual dan finansial.

Exit mobile version