Site icon Baladena.ID

Sandwich Generation Pikul 3 Generasi

Melejitnya kebutuhan hidup disetiap tahunnya menjadikan manusia harus mempersiapkan secara matang rencana dalam mengatur finansial diri agar terpenuhi hajat hidupnya. Dewasa ini banyak muncul celetukan Lelah bekerja namun cuan tak tahu kemana menjadi stigma generasi dewasa yang tak kenal waktu ketika bekerja namun tidak juga tercukupi kebutuhannya.

Alih-alih bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup, namun tidak dapat merasakan kesenangan dari hasil kerja kerasnya dapat menimbulkan rasa jenuh yang berkepanjangan. Bahkan tidak cukup dengan satu pekerjaan saja, mencari sampingan penambah penghasilan sudah diserbu oleh generasi dewasa satu ini.

Satu tahun belakangan ini merebak perbincangan terkait sandwich generation ditengah transformasi menuju era society. Generasi yang berumur kisaran 30-35 tahun keatas, umumnya merasakan ada diposisi generasi roti lapis ini. Pasalnya pada umur tersebut akan dihimpit oleh dua generasi yaitu generasi sebelum dan sesudahnya, yang mana segala kebutuhan tiga generasi tersebut harus dipikul seorang diri.

Dari data Badan Pusat Statistika yang melaporkan bahwasanya tingkat lansia di Indonesia mengalami peningkatan sebesar 12,5% setiap tahunnya, yang mana tanggungan generasi dewasa harus menjadi pemberi nafkah untuk kebutuhan hidup yang semakin meningkat. Generasi yang diibaratkan daging pada roti lapis ini mau tidak mau akan merasakan krisis identitas apabila tidak memiliki persiapan mental dan finansial sejak dini.

Generasi sandwich merupakan posisi finansial yang terhimpit diantara dua generasi, keadaan ini menunjuk pada orang yang memiliki tanggung jawab ganda yaitu untuk menghidupi generasi diatas dan dibawahnya. Tak heran generasi yang merasakan hal ini disebut dengan isian daging yang berada dalam roti lapis (sandwich).

Generasi ini banyak dijumpai di negara-negara berkembang seperti Indonesia yang kental akan nilai-nilai kekerabatan dan kekeluargaannya. Fenomena generasi sandwich ini terbilang baru di Indonesia, karena generasi ini muncul diakhir abad ke-20 akibat metamorfosis rentang hidup. Meskipun fenomena baru, tetapi banyak generasi dewasa yang larut merasakan matamorfosis tersebut dengan menghidupi diri dan keluarganya.

Carol Abaya seorang Aging and Elder Care Expert dalam penelitiannya mengatakan bahwa Generasi roti lapis ini dapat dibagi menjadi tiga jenis yaitu pertama, The tradisional Sandwich Generation merupakan orang dewasa dengan rentang usia 40 hingga 50 tahun yang dihimpit oleh lansia serta anak-anak yang masih membutuhkan dukungan finansial.

Kedua, terdapat The Club Sandwich Generation yakni generasi dewasa dengan rentang usia antara 30 tahun hingga 60 tahun yang secara umum dihimpit oleh beban dari orang tua, anak, cucu, bahkan kakek nenek apabila masih hidup. Ciri generasi roti lapis yang ketiga adalah The Open Faced Sandwich Generation, yaitu orang dewasa yang terlibat untuk mengasuh orang lansia yang dikemas sebagai pekerja profesional.

Ciri-ciri tersebut dapat dijadikan tolak ukur serta antisipasi sejak dini untuk menghindari lingkup generasi sandwich yang memikul beban dari himpitan finansial. Mungkin banyak orang dewasa yang terjun di dunia pekerjaan agar bisa menghindari generasi ini, namun siapa sangka tidak selamanya menjadi generasi sandwich itu mengesalkan. Banyak hal yang dapat dipelajari ketika merasakan kondisi menjadi generasi sandwich.

Terbilang menjadi pekerja keras, hingga tak cukup dengan satu pekerjaan akibat banyaknya kebutuhan hidup yang harus terpenuhi. Di sisi lain generasi sandwich ini memiliki karakter yang bertanggung jawab, penurut, tidak mementingkan diri sendiri yang dibuktikan melalui mampu menghidupi secara finansial untuk 3 generasi. Tentunya bukan hal yang mudah, dan juga memiliki tantangan tersendiri akibat tidak matangnya perencanaaan finansial di masa tua. Namun, banyak orang dewasa yang tidak memiliki karakter tersebut ketika tidak dalam kondisi generasi sandwich.

Banyak orang dewasa yang enggan untuk berada diposisi menjadi generasi sandwich, karena nyatanya banyak dampak yang diakibatkan ketika sudah dalam posisi tersebut. Adapun dampak dari generasi sandwich yang terbagi menjadi dua yaitu adanya gejala fisik seperti kurangnya tidur, sakit kepala, asam lambung, nyeri pada ulu hati, kehilangan nafsu makan, hingga menstruasi yang tidak lancar akibat terlalu banyaknya pikiran akan beban dan tanggung jawabnya dalam keluarga.

Sementara gejala emosional yang dapat terjadi seperti stress, frustasi, adanya kecemasan, pribadi menjadi murung, kelelahan yang berkepanjangan, hingga depresi. Seorang Psikolog Rumah Sakit Hermina Pandanaran Semarang, Dhany Widijanti S.Psi. mengatakan bahwa generasi sandwich rentan mengalami gejala stress dikarenakan beberapa faktor yang menyebabkan tidak fokus pada pekerjaan serta munculnya polemik dalam keluarga karena manajemen yang kurang tepat.

Untuk itu sebagai generasi dewasa yang sudah terlanjur merasakan generasi sandwich ini, ataupun generasi muda yang dapat mengantisipasi melalui manajemen yang baik dan beberapa hal yang bisa dilakukan. Seperti komunikasi yang baik dengan keluarga, mungkin terdengar klasik, karena komunikasi merupakan interaksi yang dilakukan sehari-hari. Namun, yang harus digaris bawahi disini adalah mencoba untuk terbuka kepada keluarga atas kemampuan diri, serta terkait kebutuhan yang harus terpenuhi. Dan menyampaikan kapasitas finansial diri sangat penting diketahui oleh keluarga untuk memperhitungkan segala hal termasuk pengeluaran kebutuhan hidup.

Tidak cukup sampai disitu, generasi sandwich juga perlu menerapkan sikap gemar menabung sejak dini melalui tabungan dan dana darurat. Banyaknya sistem pemasaran di era society ini membuat mayoritas orang dewasa kalap dan memiliki sikap komsumtif, namun jika meninjau lebih luas sebagai generasi dewasa harusnya lebih matang dalam mempersiapkan hidup. Dan mulai menyesuaikan diri untuk membeli berdasarkan kebutuhan bukan karena keinginan.

Menyiapkan dana pensiun menjadi point urgent untuk menghindari menjadi generasi sandwich di era teknologi yang semakin canggih. Hal terakhir yang bisa kita lakukan untuk tidak merasakan menjadi generasi sandwich adalah dengan belajar dalam memanajemen finansial semenjak dini, banyak hal yang dapat dipelajari dalam manajemen finansial sejak dini, seperti mengelola uang saku dengan kepentingan yang paling prioritas, dan lain sebagainya.

Exit mobile version