Selama ini topik seputar stunting dan anemia menjadi isu hangat di setiap diskusi seminar, webinar dan workshop. Namun, setelah selesai diskusi tetap masih abai terhadap kandungan nutrisi bahan pangan dan memenuhi apa yang menjadi hak tubuh yang semestinya. Oleh karena itu, kasus malnutrisi di Indonesia belum teratasi dengan baik.
Menurut penelitian Aridiyah, dkk (2015) “Kejadian stunting dan anemia pada intinya adalah faktor permasalahan kekurangan gizi yang disebabkan dari faktror pengetahuan, pola asuh, infeksi atau kondisi penyakit tertentu, dan kondisi ekonomi.” Indonesia memiliki tanah yang subur untuk bercocok tanam, ibarat menancapkan kayu saja sembarang tempat, pasti akan tumbuh. Seharusnya ekonomi tidak menjadi masalah besar dalam kejadian stunting dan anemia karena nutrisi akan tercukupi dengan bercocok tanam. Faktor penyebab yang paling berpengaruh adalah faktor pengetahuan dan kondisi infeksi atau penyakit tertentu.
Berawal dari penciptaan manusia berdasarkan firman Allah dalam Qur’an surah Al-Mu’minun ayat 12-14 “Manusia diciptakan dari sari pati tanah.” Sebagian besar sumber kehidupan manusia berasal dari sari pati tanah seperti sayur-sayuran, buahan-buahan, umbi-umbian dan lain sebagainya. Sempurnanya manusia tergantung dari kecukupan nutrisi yang dikonsumsi, hal ini masih banyak yang belum menyadari pentingnya mencukupi nutrisi yang dibutuhkan tubuh untuk melakukan kerja sesuai fungsinya.
Sebuah hadits menuturkan: “Allah tidak menurunkan penyakit, melainkan Allah juga menurunkan penawarnya.” (HR. Bukhari). Namun, penawarnya tidak secara fulgar bisa diketahui, memerlukan perenungan dan riset yang cukup panjang hingga bertahun-tahun. Tanaman-tanaman liar yang tidak disadari ternyata bisa menjadi obat dan memiliki nilai gizi yang sangat lengkap. Contohnya Daun kelor, tumbuhan liar yang memiliki kandungan gizi langkap yang disalah persepsikan kepada hal-hal berbau mistik yang konon dapat mengusir Roh halus dan Jin.
Kelor adalah tanaman yang bisa tumbuh dengan cepat, berumur Panjang, berbunga sepanjang tahun, dan tahan kondisi panas ekstrim (Reski Amelia, 2020). Kandungan nutrisi 2 g Moringa oleifera terdapat 2 g protein, 2 g karbohidrat, 0,8 mg zat besi, 8,8 mg magnesium, 70 mg kalium, 38-40 mg kalsium, 11 mg vitamin C, 600 IU vitamin A, 8,5 mikrogram folat. Moringa oleifera terkandung vitamin C setara 7 jeruk, vitamin A setara 4 wortel, kalsium setara 4 gelas susu, potasium setara 3 pisang, protein setara 2 yoghurt, dan 0,7 x zat besi bayam.
Menurut sejutha BK dan Poonam Patel dari Departemen Kesehatan Publik, Institut Ilmu Gigi dan Pusat Penelitian Vydehi, India “Satu sendok makan tepung daun Moringa memenuhi kebutuhan 14% protein, 40% kalsium, 23% zat besi, dan vitamin A bagi anak usia 1-3 tahun. Sementara enam sendok makan penuh tepung daun Moringa mencukupi kebutuhan besi dan kalsium harian bagi perempuan hamil dan menyusui. Peneliti di klinik Belfort, Ziguinchor, Senegal yang meneliti 320 perempuan hamil, asupan 25 g daun Moringa dengan estimasi satu sendok makan per-hari memulihkan kasus perempuan hamil yang menderita anemia.
Dalam buku Khasiat Hebat Daun Kelor tercatat “kandungan gizi kelor polong dengan kalori 26 kkal, protein 2,50 g, karbohidrat 3,70 g, serat 4,80 g, kalsium 30 mg, magnesium 24 mg, fosfor 110 mg, kalium 259 mg, tembaga 3,10 mg, besi 5,30 mg, sulfur 137 mg, vitamin A 0,10, vitamin B 423 mg. Daun segar terkandung kalori 92 kkal, protein 6,70 g, karbohidrat 13,40 g. Serat 0,90 g, kalsium 440 mg, magnesium 24 mg, fosfor 70 mg, kalium 259 mg, tembaga 1,10 mg, besi 0,70 mg, sulfu 137 mg, vitamin A 6,80, vitamin B 423 mg. Daun kering terkandung kalori 205 kkal, protein 27,10 g, karbohidrat 38,20 g, serat 19,20 g, kalsium 2.003 mg, magnesium 368 mg, fosfor 204 mg, kalium 1,32 mg, tembaga 0,60 mg, besi 28,20 mg, vitamin A16,30.
Nutrisi pangan sangat rentan berkurang selama proses penyimpanan dan pengolahan, untuk menjaga nutrisi Moringa adalah dengan menyegarkan pengolahan daun setelah panen. “Daun Moringa harus diolah maksimal 4 jam setelah panen.” Tutur alumnus Fakultas Pertanian Universitas Siliwangi. Seorang penemu Moringa Nutrition Lock Methode yang bernama Dodi mengatakan “Suhu ruang pengeringan maksimal 35 derajat celcius dan kelembapan 46% agar tidak merusak kandungan nutrisi Moringa.” hindari pemanasan dengan suhu tinggi karena dapat merusak kandungan protein. Kandungan protein dalam Moringa sangat lengkap dari esensial dan nonesensial. Hasil uji laboratorium di PT Saraswanti Indo Genetech, Bogor, Metode: 18-5-17/MU/SMM-SIG, UPLC, Unit: ppm “Tepung Moringa mengandung asam amino: triptofan, sistin, metionin, serin, isoleusin, glisin, threonine, fenilalanin, glutamate, valin, alanin, leusin, tirosin, histidin, arginin, aspartate, lisin dan prolin.
Moringa oleifera bisa dikonsumsi dari berbagai kalangan dan usia. Daya terima olahan kelor sangat tinggi dengan berbagai kreativitas pengolahan yang menarik dan unik. Sebuah gerakan sosial swadaya masyarakat untuk menyebarkan informasi tentang manfaat, khasiat, dan penggunaan tanaman kelor dalam mengatasi malnutrisi (stunting dan anemia) belum akrab di kalangan masyarakat dan unit kesehatan, terutama msyarakat Jawa yang masih memiliki keyakinan yang sangat kental terhadap hal mistik.
Moringa oleifera bisa dijadikan aneka jenis kuliner, mulai dari makanan pokok hingga cemilan-cemilan yang menyehatkan, di antaranya bisa diolah menjadi sayur, bubur, teh, obat herbal, aneka minuman segar, tepung, campuran aneka jajanan, bakmi, aneka kue dan cake, es krim, pasta dan lain sebagainya yang bisa diterima dari kalangan bayi sampai lanjut usia, dan berbagai kondisi tubuh baik yang terkena infeksi atau penyakit tertentu bisa mengonsumsinya. Semoga lewat tulisan ini bisa bermanfaat menyebarluaskan manfaat Daun kelor. Sehingga, tingkat pengetahuan masyarakat meningkat dan insyaa Allah Stunting dan Anemia teratasi.
Oleh: Faizatul Kamilah, Mahasiswa Program Studi Gizi Fakultas Psikologi dan Kesehatan UIN Walisongo Semarang.

