Sebagian besar mata pencaharian di Indonesia adalah petani. Hal ini karena negara kita merupakan negara agraris dan sektor pertanian menjadi hal yang utama dalam perekonomian nasional dan ketahanan pangan. Salah satu tanaman yang banyak dibudidaya di Indonesia adalah tembakau (Nicotiana tabacum). Tanaman tembakau memiliki ciri-ciri yaitu berwarna hijau berbulu halus, daunnya berbentuk lonjong dan meruncing di ujungnya, batang dan daunnya dilapisi oleh zat perekat, serta berbatang tegak dengan tinggi mencapai 250 cm. Tembakau juga memiliki mahkota bunga berbentuk terompet panjang yang berwarna merah muda sampai merah. Beberapa varietas tembakau yang banyak ditanam di Indonesia adalah tembakau cerutu, tembakau pipa, tembakau sigaret, dan tembakau asli/rajangan.
Source: https://indonesia.go.id/ragam/komoditas/ekonomi/tembakau-sejarah-dan-cita-rasa-indonesia
Pemanfaatan tanaman tembakau di Indonesia yang terbesar dan paling umum adalah untuk industri rokok. Rokok merupakan produk yang dibuat dari tembakau yang dimaksudkan untuk dibakar dan dihisap/dihirup asapnya yang mengandung nikrotin dan tar. Jenis rokok yang mendominasi di Indonesia adalah rokok kretek, yaitu rokok yang terbuat dari campuran tembakau dan cengkeh. Rokok kretek ini sangat diminati oleh konsumen dalam negeri maupun luar negeri, bahkan Indonesia menjadi negara kedua dengan jumlah pangsa pasar rokok terbesar di dunia setelah China (dilansir dari Euromonitor International Cigarettes 2018). Begitulah industri rokok di Indonesia begitu menjanjikan sehingga banyak perusahaan rokok yang mulai bermunculan bahkan melakukan ekspansi usaha.
Rokok dipercaya bagi sebagian orang sebagai sarana pembuktian diri, penambah konsentrasi, penghilang kantuk, penambah nafsu makan, dapat mengurangi kecemasan. Namun di sisi lain, rokok memiliki dampak negatif bagi diri sendiri bahkan orang di sekitarnya baik dari segi kesehatan, ekonomi, beban sosial, dan lingkungan. Pada rokok terkandung 7000 bahan kimia tembakau dan lebih dari 250 bahan kimia tersebut bersifat karsinogenik. Bahaya rokok terutama disebabkan karena tingginya kandungan nikotin dan tar yang terdapat pada tembakau. Nikotin menyebabkan kecanduan dan tar dapat mengiritasi paru-paru serta menyebabkan kanker. Kemudian, beberapa waktu yang lalu muncul sebuah terobosan baru yaitu rokok herbal yang bertujuan untuk meminimalkan kandungan nikotinnya. Rokok herbal diklaim sebagai rokok kesehatan karena mengandung tanaman obat dengan kadar nikotin yang diklaim sangat rendah.
Pelopor rokok herbal pertama di Indonesia adalah rokok herbal SIN, yang diciptakan oleh KH. Abdul Malik dengan mengganti sauce kimia rokok (alkohol, pengawet, candu, aroma, pemanis, dll) dengan 17 ramuan herbal. Beberapa bahan herbal yang terkandung pada rokok herbal yaitu kayu siwak, madu, daun sirih, srigunggu, jinten hitam, teh hijau, cengkeh, jahe, kapulaga, kencur, ketumbar, sirih, ginseng, lada hitam, dan masih banyak lagi. Bahan herbal tersebut tentunya memiliki manfaat yang baik bagi kesehatan, misalnya kayu siwak dapat membunuh bakteri di dalam mulut dan memberi aroma segar. Ada juga srigunggu yang dapat mengobati penyakit saluran pernapasan dan menjadikan saluran pernapasan lebih segar. Lalu ada teh hijau yang berfungsi menangkap radikal bebas sehingga mampu menghambat terjadinya kerusakan membran sel. Dan ginseng yang berkhasiat mengurangi peradangan, menurunkan kadar gula darah, dan melawan sel kanker.
Berdasarkan penelitian oleh Glanzt tahun 2009, diperoleh hasil bahwa rokok herbal memiliki sifat karsinogenik yang lebih sedikit apabila dibandingkan dengan rokok konvensional. Namun hingga saat ini belum ada penelitian lebih lanjut tentang pengukuran kadar karsinogenik pada rokok herbal. Ketika rokok herbal dibakar dan dihisap, kandungan herbal didalamnya mengalami perubahan fisik dan kimia secara kompleks. Dan berdasarkan penelitian Glanzt juga disebutkan bahwa bahan herbal yang dibakar akan kehilangan efek antioksidannya.
Sebelumnya sudah ada beberapa kali penelitian yang menguji pengaruh asap rokok terhadap paru-paru mencit, salah satunya adalah penelitian Putra (2015), yaitu bertujuan untuk mengetahui pengaruh asap rokok herbal nano dan rokok djarum76 terhadap paru-paru mencit selama 14 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa paru-paru mencit yang dikenai asap rokok djarum76 mengalami kerusakan histologis lebih tinggi dibandingkan mencit yang dikenai asap rokok herbal. Hal ini terjadi karena kandungan nikotin dan tar yang lebih rendah pada rokok herbal. Jadi, meskipun kandungan nikotin dan tar pada rokok herbal lebih rendah dibandingkan rokok konvensional, dapat diketahui bahwa keduanya tetap memberikan efek negatif dan kerusakan pada paru-paru.
Dari paparan di atas mengenai rokok herbal, jadi dapat disimpulkan bahwa rokok herbal tidak lebih baik dibandingkan rokok konvensional. Semoga kedepannya penelitian mengenai rokok herbal ini lebih diperbanyak untuk mengetahui dan meluruskan perspektif masyarakat, apakah rokok herbal memang menyehatkan atau justru memberikan dampak yang lebih buruk daripada rokok konvensional.
DAFTAR PUSTAKA
Ali, M., & Hariyadi, B. W. (2018). Teknik Budidaya Tembakau. Surabaya: Universitas Merdeka Surabaya.
Amelia, R. (2018). Kritik Manfaat Industri Rokok. Jurnal Ekonomi Syariah, 1(2), 227-246.
Hidayah, N., Rahayu, O., Utomo, Y., & Solfaine, R. (2010). Perbandingan Paparan Asap Rokok Konvensional dan Rokok Herbal pada Mencit (Mus musculus) terhadap Perbandingan Gambaran Histologi Paru. Jurnal Vitek Bidang Kedokteran Hewan, 10, 25-32.
Putra, A. S. (2015). Perbandingan Efek Asap Rokok Konvensional dan Rokok Herbal terhadap Kerusakan Histologis Paru Mencit (Mus Musculus). Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Rahmansyah. (2020). Rokok Herbal Perspektif Hukum Positif dan Hukum Islam. Jakarta: Universitas Islam Negeri.
Solfaine, R., Mussa, O., Ayuningtias, A., & Widhowati, D. (2020). Gambaran Histopalogi Paru pada Mencit (Mus musculus) yang Dipapar Asap Rokok Kretek Akibat Pengaruh Pemberian Infusa Teh Hijau (Camellia sinesis). Jurnal Vitek Bidang Kedokteran Hewan, 20-24.
Oleh: Salmaa Putri Desihana, Mahasiswa Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian, Universitas Gajah Mada.

