Site icon Baladena.ID

Rindu Dekapanmu

“Mbak Yana, pulang dulu aja ya,” ucap Pak Sukar yang menjadi wali kelasku pada saat aku menduduki bangku kelas 5 SD.

“Lohh,saya kenapa pulang, Pak?” ucapku sambil mencerna kalimat Pak Sukar.

“Ibumu lagi sakit di rumah, Mbak,” jawab Pak Sukar yang memandangku dengan tatapan yang sulit ku mengerti.

“Kan ujiannya belum selesai, Pak. Nanti kan juga bisa setelah pulang sekolah,” ucapku dengan nada kesal karena soalku belum selesai tapi disuruh pulang.

“Udah kamu pulang aja ya, Mbak Yana. Ibumu lebih membutuhkanmu,” pungkas Pak Sukar dengan wajah muram dan menunduk ke bawah.

Bu Istiqomah, Ibu dari temanku sudah menungguku di depan kelas kala itu. Ku kira akan menjemput temanku, namun ternyata pemikiranku salah. Bu Istiqomah menjemputku. Aku menuruti permintaan guruku itu tanpa tahu endingnya bagaimana. Memang rencana-Nya tidak seorang pun yang tahu. Mungkin ini sudah menjadi alur kisah yang dibuat oleh-Nya.

“Kenapa saya disuruh pulang sama Pak Sukar, Bu? ucapku bertanya kepada Bu Istiqomah karena aku bingung dengan teka-teki ini.

“Nanti juga kamu tahu sendiri, Yan,” jawab Bu Istiqomah sambil fokus naik motor.

Saat itu aku masih bertanya-tanya kepada diriku. Kenapa? Kenapa? Dan Kenapa? Kenapa aku diminta pulang, padahal ibuku hanya sakit saja. Apakah ibuku sakitnya parah, sampai-sampai aku menunda ujianku hanya karena sakitnya? Entahlah aku tak tahu apa maksud semua ini. Sesampainya di rumah, aku melihat hal aneh. Mobil ambulans di depan rumah, orang-orang dengan tatapan sedih dan dihujani air mata, dangau-dangau dinaikkan, dan peralatan-peralatan orang meninggal bersender di tembok depan rumah. Ada apa ini sebenarnya?

“Yang kuat hatinya ya, Yan,” ucap Bulik Ani, adik dari ibuku, sambil merangkulku.

Aku hanya diam tak berkutik. Melihat orang-orang dengan mata sembab. Satu per satu orang-orang membukakan jalan. Degg!! Aku melihat Perempuan yang selalu mendekapku dalam pelukannya terkujur lemah tak bergerak. Tangan bersedekap di depan perut. Telinga dan hidung yang telah ditutupi oleh kapas. Perempuan tangguhku telah dipanggil oleh-Nya. Jika kebanyakan orang meninggal karena sebab, ibuku tidak. Ibuku meninggal bukan karena sakit, juga bukan yang lainnya. Kebanyakan orang bingung dengan kabar meninggal ibuku. Sebab, pada saat itu, ibuku sehat-sehat saja. Ini semua memang takdir yang sudah dibuat oleh-Nya. Ikhlaskan saja yang sudah pergi.

“Nduk, ayo keluar. Ibumu mau berangkat Lo, ini terakhir kalinya kamu melihatnya,” ucap saudaraku, Mbak Mar.

Lalu aku yang tiduran sambil menangis pun berbalik dari posisiku. Aku menoleh ke Mbak Mar, lalu melihat matanya yang sembab akibat menangis. Aku pun berdiri dan digendong olehnya. Kami menuju ke depan rumah yang telah dipenuhi oleh banyak orang. Kyai dari pondok Kak Aina juga ada di situ, bahkan beliau yang memimpin do’a untuk kepergian ibuku. Kak Aina dan Ayahku dihujani air mata yang deras.

“Mau ikut ayah nggak, Nduk?” tanya Mbak Mar kepadaku sembari melihat keberangkatan ibuku yang dikawal oleh teman-teman ayahku, Banser.

Aku hanya menggeleng tanda tidak mau. Aku lebih memilih berdiam diri di rumah untuk meyakinkan diriku bahwa ini semua bukan mimpi, tapi suatu yang nyata. Memang kematian itu tidak bisa diprediksi. Itu semua datang secara tiba-tiba tanpa kita tahu waktunya.

“Ayah, tungguin! Saya juga mau ikut ayah ke makam,” ujar Kak Aina sambil berlari ke arah Ayahku.

Ayahku hanya membalasnya dengan anggukan. Lalu Kak Aina dan Ayahku pun berjalan bersama di belakang keranda ibuku. Mbak Mar mengajakku masuk untuk makan, tetapi aku menolak. Nafsu makanku hilang, padahal aku yang biasanya hobi makan, sekarang lebih memilih untuk memikirkan esok hari. Kemudian aku memilih pergi ke kamar mandi untuk menangis. Menangis dalam kamar mandi memang terdengar lebay, tapi itu yang aku lakukan untuk menutupi kesedihanku di depan semua orang, sambil menghidupkan kran agar orang di luar berpikir aku tidak apa-apa. Menutupi kesedihan di hadapan saudara-saudaraku. Setelah aku keluar dari kamar mandi, aku berniat kembali ke kamarku. Namun, Bu Nyai dari pondoknya Kak Aina berdiri tepat di depan pintu. Bu Nyai itu terlihat sangat cantic, pakaian syar’i dengan balutan kerudung syar’I dan tak lupa dengan kaca mata kotaknya.

“Yang sabar ya. Ini semua ujian. Ibumu sudah tenang di sana,” bisik Bu Nyai sambil memelukku.

“Nggeh, Bu,” pungkasku sambil mencium punggung tangan beliau sebelum aku pergi ke kamar.

Lalu aku pun pergi ke kamar, menatap langit-langit dengan tatapan pasrah, membayangkan kehidupanku tanpa seorang ibu. Dekapan setiap malam yang hilang, tidak akan ada yang memasak setiap harinya, memarahiku jika aku salah, tidak akan pernah. Bahkan jika aku berharap ibuku akan kembali lagi, itu juga tidak akan terjadi. Mungkin Allah lebih menyayangi ibuku.

Aku tertidur. Memang jika kita kehilangan orang yang juga sayang, sama halnya seperti kehilangan setengah jiwa raga. Apalagi jika aku membayangkan ayahku, aku berharap ayahku kuat menghadapi ini semua. Ayah yang kehilangan satu sayapnya. Akan berjuang sendiri mencari nafkah untuk anak-anaknya. Tidak akan ada lagi yang diajak suka duka bersama. Semoga saja, ayahku kuat menghadapi musibah ini.

Pagi harinya, aku sekolah untuk melanjutkan ujianku yang kemarin belum usai. Sebenarnya, aku tidak diperbolehkan masuk dulu sama Pak Sukar, tapi aku menolak. Aku lebih memilih masuk sekolah untuk mengikuti ujian agar tidak ikut ujian susulan. Sebab, ujian susulan itu tidak enak. Saat aku masuk ke kelas, aku disambut oleh teman-temanku. Kebanyakan orang menasehatiku.

“Yang sabar ya, Mbak,” ucap teman-temanku setiap aku lewat di koridor sekolah maupun di kantin.

Aku masuk ke kelas,lalu duduk di bangkuku yang dipenuhi oleh 3 laki-laki, di antaranya Kak Umam, Abdul, dan Yahya. Mereka semua turut prihatin mendengar kabar dukaku, kecuali Abdul.

“Yah, nggak punya ibu, hihihi,” ucapnya sambil menertawakan aku.

Aku sedih mendengarnya. Dia mengejekku dengan sebutan tidak punya ibu. Tapi, Kak Umam yang merupakan saudaraku membelaku.

“Kamu jangan gitu, kasian lo. Dek Hilya. Kamu mau kalau digituin, ibumu meninggal kamu mau?!” ucapnya sambil memasang muka marah kepada Abdul.

“Nggak papa kok. Ini kan cuma bercanda. Iya kan,Yan?” ucap Abdul kepadaku sambil memasang muka ngeselin dihadapanku.

“Bercanda kan juga ada batasnya. Kamu nggak tau, kalau bercandamu ini melampaui batas! Seenggaknya mikir dulu lah kalau mau ngejek!” ucapku dengan kesal karena kesabaranku sudah habis mengahadapi Abdul.

“Iya-iya, maaf ya, Yan,” ucap Abdul sambil memasang wajah melas di hadapanku yang membuat aku muak melihatnya.

Lalu, Pak Sukar masuk ke kelas. Tanda ujian akan segera dimulai. Pak Sukar mengawalinya dengan salam lalu meninggalkan kelasku sebentar dikarenakan ada urusan mendadak yang tidak bisa ditinggal.

“Heh, sustt….jawaban nomor 13 apa,Yan?” ucap Abdul sambil melirik kepadaku dan mengedipkan mata 1.

“Jawabannya B,” balasku singkat.

“Iya-iya sekali lagi maaf, aku tidak akan mengulanginya lagi. Nanti setelah pulang sekolah, aku beliin pentol sama es capcin deh, janji,” pungkasnya sambil merapatkan tangan tanda dia meminta maaf.

Ia menepati janjinya. Setelah sepulang sekolah, kami bertemu di PAUD Sejahtera di desaku.

Itulah secarik singkat cerita tentangku yang rindu dekapan Perempuan tangguh yang telah melahirkanku. Perempuan yang selama 5 tahun ini tidak dapat kulihat wajahnya. Ingin ku peluk dirinya. Ingin ku tatap wajahnya. Ingin ku katakan bahwa aku rindu dengannya. Sangat rindu. Mungkin diri-Nya lebih mencintaimu daripada aku. Kapan kita bisa bertemu? Aku kesepian tanpamu.

Jika kebanyakan anak mengungkapkan sebait kata ke pada ibunya saat berbaring tak berdaya, maka tidak untukku dan Kakak perempuanku. Kami lebih memilih mengangkat kedua tangan dan berdoa kepada Yang Maha Kuasa. Kadang aku berpikir, kenapa Engkau mengambil ibuku lebih dahulu, padahal anak-anaknya saja belum membahagiakannya, termasuk aku. Aku yang dulu mengira ibuku mempunyai dendam denganku karena setiap harinya selalu marah-marah denganku. Ternyata itu salah. Memang benar, jika siapapun marah denganmu, berarti dia sayang padamu. Dia peduli denganmu. Kenapa aku baru menyadarinya sekarang, jika dari dulu aku sudah menyadarinya, pasti aku sudah bisa berbakti ke padanya. Ibu, jika engkau melihatku, aku ingin mengatakan kepadamu. I miss you.

Oleh: Hilyatun Nabilah, Sanja Kela X SMK Alam Planet Nufo Mlagen Pamotan Rembang asal Sulang

Exit mobile version