Site icon Baladena.ID

Realitas Sosial Pergaulan Bebas Muncul Karena Lingkungan atau Kemauan

Menentukan pilihan jalan untuk menjadi individu yang lebih baik untuk masa depan adalah hal yang harus dilakukan. Seringkali, muda-mudi lupa untuk segera menentukan jalan mana yang akan mereka tempuh untuk mencapai mimpi mereka yang telah mereka ukir dalam impian.

Banyaknya faktor yang memengaruhi mereka, membuat mereka bimbang, ragu, hingga bingung untuk menentukan bagaimana mereka akan merancang masa depan untuk meraih mimpi mereka. Pengaruh pergaulan sekitar akan menjadi faktor utama dalam rusaknya masa depan yang coba mereka raih.

Lingkungan sekitar harusnya menjadi pendukung agar mereka mampu berkembang dan berjalan mengikuti perkembangan zaman. Maraknya pergaulan bebas yang menjalar memasuki kehidupan remaja, cukup memprihatinkan.

Melakukan hahl-hal diluar nalar menjadi kebiasaan yang mereka lakukan untuk mencari ketenangan dan kesenangan duniawi semata. Free sex, napza, merokok, mabuk-mabuk an dan melakukan hal gila diluar batas wajar menjadi tabiat untuk mereka yang sudah hilang arah.

Namun, apakah hal ini menjadi sebuah opsi dalam kehidupan mereka?

Berkembangnya seorang individu menjadi lebih baik adalah sebuah pilihan hidup. Banyak yang memilih jalan benar, dengan terus meneruskan hal-hal baik dalam hidup, namun tak sedikit juga mereka yang putus asa dalam mencari jati diri sehingga harus keluar dari zona aman dan nyaman yang membuat mereka lupa akan segalanya.

Jika dilihat berdasarkan kebiasaan remaja Indonesia, pergaulan bebas tentu muncul dalam realitas sosial mereka yang hadir dalam kehidupan sehari-hari. Fenomena ini pastinya akan merubah cara pandang mereka dalam kehidupan sehari-hari, mereka akan berpikir ulang ketika melakukan suatu hal dalam dua sudut pandang yakni negatif dan positif.

Kemudian, apakah hal ini akan dibiarkan begitu saja? Melihat perkembangan pergaulan bebas yang terus menerus di reduksi oleh remaja serta menjadi tabiat yang mereka lakukan.

Pengaruh negatif dari lingkungan sekitar yang berawal dari teman, pacar atau bahkan saudara mampu membuat mereka yakin untuk melakukan hal yang sama seperti mereka.

Dengan dalih agar merasa keren dan tidak dijauhi teman, mereka melakukannya dengan keterpaksaan semata. Tidak memikirkan bagaimana prospek kedepan, mereka melakukannya dengan berpikir pada sumbu pendek. Mementingkan kebersamaan teman, agar mereka tetap memiliki teman, walaupun sejatinya teman mereka lah yang membawanya pada keburukan.

Remaja yang masuk dalam pergaulan bebas, dapat di ibaratkan bagai orang yang masuk dalam labirin, mereka akan bimbang dan bingung memilih jalan mana untuk keluar dari zona tersebut. Pilihannya hanya dua, yakni melanjutkannya dengan tetap berada dalam labirin, atau berusaha keluar dengan mencari jalan yang baik.

Hal ini tentu berdampak negatif bagi lingkungan sekitar mereka, semakin banyak hal ini serta di normalisasi maka akan banyak dari remaja maupun anak diluar sana yang juga melakukan hal sama.

Jika hal ini terus dibiarkan begitu saja akan berdampak Panjang bagi kelangsungan hidup remaja dan target Indonesia Emas 2045 akan tidak tercapai. Peran aktif orang tua akan sangat berpengaruh untuk tumbuh kembang remaja, orang tua harus menjadi pionir utama dalam menegakkan karakter remaja yang baik untuk menghindari pergaulan bebas yang tidak sehat.

Sejatinya, remaja mampu memilih jalan apa yang akan mereka tempuh. Semua bergantung pada individu masing-masing, bagaimana mereka akan meneruskan hidupnya untuk melanjutkan perjalanan sebagai individu yang berusaha meraih mimpi. Pergaulan bebas bukanlah pilihan, ini adalah realitas dan fenomena yang ada dalam lingkungan yang harus di jauhi dan di hindari.

Alih-alih menjadi pilihan untuk di coba atau tidak, remaja harusnya cukup mengenal saja dan tidak sampai masuk ke dunianya. Dampak negatif yang akan muncul juga tentu akan merugikan mereka, memutus mimpi, menjadi bingung serta hilang arah.

Realitas itu, harus di perangi Bersama dan menjadi tanggung jawab semua pihak, baik pribadi remaja, peran serta orang tua, pengawasan pihak sekolah dan lingkungan sekitar yang membangun citra positif bukan negatif.

*Zulfan Arinata, Mahasiswa, Ketua Forum Generasi Berencana Kabupaten Batang 2022-2024, mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam Universitas Islam Negeri K.H Abdurrahman Wahid Pekalongan.

Exit mobile version