Site icon Baladena.ID

Rahasia Planet Nufo Tercepat Membagi Daging Qurban

Mungkin tak berlebihan jika dikatakan bahwa Pesantren-Sekolah Alam Nurul Furqon, Mlagen, Pamotan, Rembang atau lebih dikenal dengan Planet NUFO menjadi yang tercepat dalam pembagian daging kurban. Sebab, sebelum pukul 10.00 mereka sudah bisa memulai membagikan paket daging kurban kepada seluruh warga Desa Mlagen dan penerima yang ditentukan di desa-desa lain di sekitarnya. Dan uniknya lagi, tidak ada panitia khusus untuk menangani penyelenggaran kurban. Yang melakukan mulai dari menyembelih sampai membagi daging adalah adalah guru dan santriwan-santriwati pesantren yang didirikan oleh Dr. Mohammad Nasih, M.Si. itu. Mereka, termasuk mereka yang masih sangat belia, dilibatkan dalam setiap tahap proses.

Apa rahasianya, sehingga kerja yang biasanya dilakukan oleh orang dewasa itu bisa dikerjakan oleh santri-murid yang belum punya pengalaman dan pernah dipandang enteng? Berikut wawancara baladena.id dengan Pengasuh Planet NUFO yang juga adalah pengajar ilmu politik di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ, dan akrab disapa dengan Abah Nasih atau Abana:

Baladena: “’Id kemarin akhirnya menyembelih berapa dan hewan kurbannya apa saja, Bah?”
Abana: “Ada 6 ekor sapi, 2 ekor kerbau, dan juga belasan domba-kambing. Alhamdulillah.”

Baladena: “Banyak juga ya. Dari mana saja itu?”
Abana: “Ya belum banyak. Semoga tahun depan bisa lebih banyak lagi. Ada dari keluarga saya, baik yang Semarang maupun yang Mlagen, ada dari teman-teman saya, dan ada juga dari santri-santri atau orang tua santri Planet NUFO sendiri. Mestinya, kalau usaha domba di Planet NUFO bisa dikerjakan dengan optimal, Planet NUFO bisa berkurban hampir 200 domba. Kan santrinya hampir 200. Tapi kalau domba-kambingnya baru belasan, itu belum banyak. Harus jadi tantangan ini. Tahun depan harus lebih banyak lagi. Ini yang sedang saya pikirkan, bagaimana caranya agar setiap santri, minimal yang memilih wirausaha budidaya domba, bisa berkurban tahun depan.”

Baladena: “Kalau hewan kurbannya hanya domba-kambing, mudahlah memahami pengerjaannya dilakukan oleh santri-santri yang sebagian besar masih belia. Tapi ini sapi dan kerbau yang besar-besar. Ini yang menarik.”
Abana: “Kan sudah dibagi sesuai dengan kemampuan masing-masing. Dan semua dikerjakan dengan basis ilmu. Kalau dengan dasar ilmu, tidak ada yang tidak bisa dikerjakan. In syaa’a Allah. Untuk bisa begitu, menejemen yang tepat sangat menentukan. Ini didapatkan dalam materi KMO atau Kepemimpinan Menejemen Organisasi kalau kita ikut training kepemimpinan. Pemimpin harus bisa melakukan pembagian kerja secara tepat, sesuai dengan kemampuan masing-masing.”

Baladena: “Nah, menejemen ini yang sangat penting diketahui. Agar bisa ditiru oleh banyak panitia di tempat-tempat lain.”
Abana: “Tidak ada yang istimewa; hanya menempatkan orang yang tepat di tempat yang tepat saja tadi itu. Istilah yang sering digunakan dalam dunia politik adalah the right person in the right place. Jangan sampai kemampuannya memotong-motong daging tapi disuruh memotong leher. Tidak bisa. Pasti gagal. Jadi, beberapa hari sebelumnya, Ustadz Suud namanya, yang saya pasrahi sebagai pengasuh harian di Planet NUFO ini, bersama para ustadz/ah, sudah membagi semua warga NUFO ini ke dalam beberapa gugus tugas. Ustadz Suud yang pegang pedang, kemudian ada tim jagal, tim yang menguliti, tim yang “memutilasi” dan mengangkutnya ke tempat tim penyincang, ada tim penimbang, dan tim pembagi atau distribusi. Jadi, untuk memutilasi sampai menimbang tidak perlu menunggu proses menguliti selesai. Misalnya, kaki belakang baru saja selesai dukuliti, langsung dimutilasi dan diangkut ke tempat proses selanjutnya.

Dengan cara yang sama itu pula, yang sudah dipaket, langsung dibagikan kepada warga, mulai dari yang menempel dengan Planet NUFO. Tim pembagi paket daging bergerak dengan cepat. Kami sudah perkirakan berapa tim distribusi diperlukan untuk mengantar yang paling dekat sampai yang paling jauh. Jadi tidak ada paket menumpuk di pos tim penimbang. Semua langsung diangkut, tempat jadi kosong. Langsung dibersihkan pokoknya.”

Baladena: “Nah, ini memang yang unik. Tapi bagaimana kalau dagingnya kurang?”
Abana: “Ya tidak mungkin. Itu yang tadi saya sebut harus berbasis ilmu. Siapa yang akan jadi pemenang Pemilu saja sudah bisa diketahui jauh-jauh hari sebelumnya, apalagi jumlah daging. Itu sesuatu yang bahkan tidak memerlukan bantuan mahasiswa peternakan semester I. Siapa pun bisa melakukannya. Perolehan daging dan tetelannya kan sudah bisa kita perkirakan sejak sapi masih hidup dengan cara ditimbang terlebih dahulu. Bahkan kalau tidak ada timbangan, bisa diukur pakai hanya seutas tali. Caranya mudah sekali. Berat karkasnya 50% dari berat hidup, dan berat dagingnya 70% berat karkas. Dari situ, tinggal kita bagi saja dengan jumlah paket yang mau kita buat. Sederhana sekali. Tidak perlu doktor ilmu politik kalau begini. Hahaha. Anak-anak NUFO sudah bisa kalau ini.”

Baladena: “Jadi sapi sebanyak itu benar-benar dikerjakan sendiri ya? Tidak ada orang yang terbilang ahli gitu yang membantu?”
Abana: “Tidak ada sama sekali. Orang dalam kan seluruhnya mengerti cara berpikir kita. Jadi mudah ngaturnya. Koordinasinya jadi lancar. Intinya ya kerjasama dan sinergi itu. Dengan kerjasama dan sinergi itulah, mereka mampu mengerjakan pekerjaan yang dianggap berat, dan biasanya hanya dikerjakan oleh orang dewasa. Salah satu prinsip di NUFO itu tidak ada pekerjaan berat dan sulit jika jama’ah solid dalam satu komanda yang bisa dipercaya. Dan mereka sudah membuktikannya berkali-kali.”

Exit mobile version