Site icon Baladena.ID

Puasa Sebagai Momentum Penguatan Budaya Literasi

Puasa Ramadhan Kembali hadir pada kita semua , umat muslim sedunia . Bulan yang penuh dengan ampunan dan pahala yang sangat banyak, sehingga hampir semua umat muslim berlomba lomba untuk mendapatkan berkah Ramadhan. Salah satu aktivitas yang banyak sekali dilakukan dalam bulan Ramadhan adalah membaca Alqur’an. Aktivitas membaca Alqur’an mengalami peningkatan yang signifikan, baik itu dilakukan di sekolah , kampus,mushola, masjid bahkan di kantor kantor juga sangat semarak. Ditambah dengan pengurangan waktu jam kerja dan aktivitas di sekolah, kampus dan kantor, sehingga dimanfaatkan waktu yang ada untuk membaca Alqur’an..

Momentum ini tidak terlepas dari momentum sejarah, dimana pada bulan Ramadhan ini turun ayat Alqur’an pertama dari Alloh Swt kepada Nabi Muhamad SAW. Iqro’ bismi rabbikal ladzi Khalaq yang artinya ; Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Ayat diatas merupakan ayat pertama dari lima ayat Surat Al’Alaq yang turun sebagai wahyu pertama. Ayat itu diturunkan oleh Alloh Swt melalui perantara malaikat Jibril pada malam 17 Ramadhan saat Nabi Muhamad sedang berkhalwat di gua Hira, pada saat berusia 40 tahun. Kata Iqra’ terambil dari kata kerja qara’a yang berarti bacalah. Iqra’ juga bisa diartikan sebagai menelaah, mendalami, meneliti dan mengetahui ciri ciri sesuatu secara detail. Tafsir kata Iqra’ juga bisa dikatakan menelaah alam raya, masyarakat dan yang utama menelaah dan mengkoreksi diri sendiri, termasuk menelaah kitab dan non kitab.

Peringkat Literasi Indonesia

Sesungguhnya pemaknaan sejarah ini menjadi tradisi membaca Alqur’an yang rutin dilaksanakan hampir semua muslim pada bulan Ramadhan. Sebuah tradisi yang semestinya mengandung dimensi yang luas dan bermanfaat bagi bangsa dan negara. Ditengah budaya gadget / handphone yang dekat pada siapapun orangnya, yang pada akhirnya menjadikan membaca dan menulis menjadi sesuatu yang mahal dan malas untuk dilaksanakan, termasuk itu pada mahasiswa dan dosen sekalipun. Penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Internasional menyangkut budaya literasi masyarakat Indonesia, menempatkan Indonesia ditempat 64 dari 65 negara yang dijadikan sebagai responden penelitian. Penelitian yang dilakukan juga oleh Central Connecticut State University , menempatkan Indonesia ada pada ranking 60 dari 61 negara dalam The World’s Most Literste Nations. Penelitian ini menunjukan bahwa posisi Indonesia sangat rendah sekali dalam budaya literasi.

Hal ini berbanding terbalik dengan budaya masyarakat Indonesia dalam hal menonton. Tingginya budaya menonton masyarakat terlihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS) beberapa tahun lalu. Dimana jumlah waktu yang digunakan anak Indonesia untuk menonton televisi adalah 300 menit per hari. Jumlah waktu menonton anak-anak Indonesia terlalu besar jika dibandingkan dengan anak-anak di Australia yang hanya 150 menit per hari .

Tidak salah kalau kemudian, budaya plagiasi akademik banyak terjadi di dunia perguruan tinggi Indonesia, termasuk juga di Perguruan tinggi negeri dan swasta. Dalam investigasi yang dilakukan salah satu surat kabar nasional ternama di Indonesia disebutkan, bahwa tulisan artikel yang dibuat oleh beberapa calon guru besar, bersumber dari konsultan artikel scopus yang bertempat di daerah Medan ( Sumatra Utara ). Konsultan tersebut melayani proyek proyek dari beberapa dosen di Indonesia yang akan mengajukan guru besar. Juga fenomena bagaimana penulis Indonesia yang memasukan artikel ilmiahnya di beberapa jurnal Internasional yang sudah diskontinyu. Bahkan nilai rupiahnya cukup fantastic, sekitar 122 milyar rupiah.

Sesungguhnya kemampuan literasi merupakan pintu awal kesuksesan. Literasi akan memutus mata rantai kemiskinan , kebodohan dan keterbelakangan. Maju tidaknya sebuah bangsa akan diukur sejauhmana budaya literasinya. Dampak yang dirasakan sangat besar, literasi menjadi sebuah ombak besar untuk menghacurkan kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan. Dalam penelitian yang dilakukan oleh UNESCO, menunjukan bahwa negara negara miskin berbanding lurus dengan rendah nya budaya literasi bangsanya.

Pembiasaan Literasi Setelah Ramadhan.

Momentum puasa adalah momentum yang tepat untuk meningkatkan budaya literasi masyarakat Indonesia. Tradisi membaca Alqur’an dalam bentuk betuk tadarusan baik itu dikantor, masjid maupun di kampus perlu dikembangkan ke dalam pembacaan yang lebih luas pada ilmu pengetahuan dan sains.Membaca dan mengkaji ilmu pengetahuan adalah juga bentuk jihad dalam rangka untuk merubah kehidupan agar menjadi lebih baik lagi,dan memiliki nilai ibadah yang sama untuk mendapat pahala dan berkah dari Alloh SWT.

Kajian kajian yang semarak dilakukan baik masjid dan kampus juga bisa dielaborasikan setelah bulan puasa dengan kajian kajian ilmiah dan diskusi menyangkut berbagai sudut pandang ilmu dan lintas fakultas, sehingga dapat menghasilkan luaran ilmiah yang bermnafaat baik untuk peningkatan akreditasi perrguruan tinggi juga pemikiran tersebut bisa memberikan kebaruan bagi pengembangan pembangunan bangsa Indonesia.Tinggal membiasakan hal yang baik di bulan Ramadhan ke kehidupan sehari hari setelah bulan puasa, maka perubahan bangsa akan berubah kearah yang lebih baik.

*Dikutip dari berbagai sumber.

Oleh : Dr. Moh Taufik, Dosen Fakultas Hukum Universitas Pancasakti Tegal

 

Exit mobile version